TRIBUNJABAR.ID, CIREBON - Meninggalnya delapan jemaah haji asal Kabupaten Cirebon pada penyelenggaraan ibadah haji 2026 menjadi bahan evaluasi penting bagi pemerintah.
Salah satu perubahan yang berpotensi diterapkan pada musim haji tahun depan adalah pengetatan syarat istitha'ah kesehatan atau kelayakan kesehatan calon jemaah.
Langkah tersebut dilakukan sebagai upaya meminimalkan risiko kesehatan jemaah selama menjalankan rangkaian ibadah di Tanah Suci yang dikenal memiliki cuaca ekstrem dan aktivitas fisik yang sangat berat.
Kepala Subbagian Tata Usaha (Kasubag TU) Kantor Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Kabupaten Cirebon, H. Ahmad Khotib Haryanto mengatakan, pengetatan itu merupakan bagian dari evaluasi setelah musim haji 2026.
Menurutnya, pemerintah Arab Saudi juga menginginkan agar calon jemaah yang diberangkatkan benar-benar memenuhi syarat kesehatan.
"Ke depan nanti untuk istitha'ah kesehatan kemungkinan akan diperketat. Jadi kira-kira yang memang tidak layak, mau tidak mau sekarang seperti itu permintaan Arab Saudi. Bukan berarti kita mempersulit, tapi karena kejadian di sana, kasihan juga kalau dipaksakan berangkat," ujar Ahmad Khotib saat diwawancarai media, Jumat (17/7/2026).
Baca juga: Kabar Baik, Satu Jemaah Haji Cirebon yang Tertahan Sakit di Arab Saudi Akhirnya Diizinkan Pulang
Meski demikian, ia menegaskan, mekanisme penetapan aturan baru masih menunggu hasil evaluasi pemerintah pusat bersama Kementerian Kesehatan.
Sebab, surat keterangan istitha'ah kesehatan diterbitkan oleh Dinas Kesehatan berdasarkan hasil pemeriksaan medis.
"Kemungkinan ada yang diperketat lagi, tapi kita belum tahu seperti apa karena yang mengeluarkan istitha'ah itu Dinas Kesehatan. Kemarin habis Rakernas juga masih menunggu evaluasi seperti apa persyaratan kesehatan haji ke depan," ucapnya.
Ahmad Khotib menjelaskan, selama ini pemeriksaan kesehatan calon jemaah dilakukan secara berjenjang.
Tahap awal dilakukan di puskesmas, kemudian dilanjutkan ke rumah sakit apabila ditemukan indikasi penyakit yang membutuhkan pemeriksaan lanjutan.
"Dari pertama nanti di puskesmas dulu. Setelah itu baru ke rumah sakit. Kalau memang harus dirujuk ke poli tertentu ya dirujuk. Tergantung kalau memang ada penyakitnya. Walaupun masih muda, kalau ada penyakit tetap dirujuk, terutama penyakit bawaan," jelas dia.
Menurutnya, calon jemaah dengan penyakit kronis tetap akan mengikuti ketentuan yang ditetapkan melalui hasil pemeriksaan medis.
Karena itu, keputusan akhir mengenai kelayakan berangkat tetap mengacu pada hasil penilaian kesehatan.
Selain evaluasi administrasi kesehatan, Ahmad Khotib mengingatkan masyarakat agar tidak hanya mempersiapkan diri secara spiritual, tetapi juga fisik jauh sebelum keberangkatan.
Ia menilai, banyak jemaah yang meremehkan pentingnya menjaga kebugaran, padahal ibadah haji menuntut kondisi fisik prima karena cuaca panas dan aktivitas yang padat.
"Yang mau berangkat tetap jaga kesehatan. Banyak berolahraga, tapi olahraga ringan saja. Terutama bagi lansia, jangan diporsir. Pola makan diatur, tidur juga dijaga. Karena di sana benar-benar ibadah fisik," katanya.
Ia menambahkan, kelelahan menjadi salah satu faktor yang dapat memicu munculnya penyakit, bahkan pada orang yang sebelumnya dalam kondisi sehat.
"Kadang-kadang orang sehat kalau sudah kelelahan tetap saja penyakit bisa muncul. Apalagi kalau makan dan istirahatnya tidak teratur," ujarnya.
Ahmad Khotib juga mengimbau jemaah agar tidak memaksakan diri melakukan terlalu banyak aktivitas atau ibadah sunah sebelum memasuki fase puncak haji di Armuzna (Arafah, Muzdalifah dan Mina).
Menurutnya, tidak sedikit jemaah yang sudah kehabisan tenaga sebelum menjalani rangkaian ibadah yang paling berat.
"Kadang-kadang jemaah gelombang pertama terlalu banyak kegiatan sunah. Begitu masuk Armuzna sudah kelelahan dulu. Makanya jangan diporsir. Kalau memang tidak perlu keluar, lebih baik istirahat supaya tenaganya tetap terjaga," ucap Ahmad Khotib.
Ia mengungkapkan, program pembinaan kebugaran sebenarnya telah tersedia di puskesmas.
Namun, calon jemaah juga harus memiliki kesadaran untuk menjaga kondisi tubuh secara mandiri, termasuk menghadapi perjalanan panjang menuju Arab Saudi yang dapat menguras stamina.
"Di puskesmas sebenarnya ada program kebugaran. Tapi perjalanan dari daerah sampai naik pesawat itu sudah cukup melelahkan. Orang sehat saja bisa lelah, apalagi yang kondisi kesehatannya kurang baik," jelas dia.(*)