TRIBUNKALTARA.COM, TANA TIDUNG - Target meningkatkan indeks pertanaman padi menjadi tiga kali panen dalam setahun di Kabupaten Tana Tidung, Kalimantan Utara ( Kaltara ) masih menghadapi sejumlah tantangan.
Selain serangan hama, pola tanam petani yang belum optimal juga menjadi pekerjaan rumah bagi Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan (DPPP) Tana Tidung.
Kepala DPPP Tana Tidung, Idris Hendro Wibowo, mengatakan salah satu kendala utama untuk mewujudkan tiga kali panen adalah serangan hama dan penyakit tanaman yang masih sering dialami petani.
Menurutnya, hama burung menjadi salah satu ancaman yang kerap muncul pada musim-musim tertentu sehingga perlu diantisipasi melalui penyesuaian kalender tanam.
Baca juga: Desa Belayan di Malinau Panen Durian, Kini Diburu Warga, Harga Rp 10 Ribu hinnga Rp 25 Ribu per Buah
"Terkait target tiga kali panen, selama ini kendala kita adalah hama dan penyakit tanaman. Salah satu hamanya padi ini burung yang sifatnya juga musiman," ujar Idris kepada TribunKaltara.com, Jumat (17/7/2026).
Idris Hendro Wibowo menjelaskan, pihaknya kini tengah mengkaji kemungkinan perubahan kalender tanam agar masa panen tidak bertepatan dengan musim serangan hama.
Dengan begitu, produktivitas tanaman padi diharapkan dapat meningkat dan target intensifikasi pertanian bisa tercapai.
"Jadi untuk menghindari masa panen yang bertepatan dengan musim burung atau hama lainnya, itulah yang sedang kita analisis. Apakah selisih kalender tanamnya bisa kita ubah supaya nantinya bisa panen tiga kali," katanya.
Idris Hendro Wibowo mengakui, kondisi tersebut membuat petani di Kabupaten Tana Tidung hingga kini masih didominasi satu kali panen, atau paling banyak dua kali tanam dalam setahun.
Padahal, apabila lahan dapat ditanami lebih sering, biaya pengolahan lahan pada musim berikutnya justru bisa ditekan.
"Itulah kendala yang sering petani alami sehingga kita dari Dinas Pertanian maupun petani belum bisa melakukan intensifikasi dengan tiga kali panen. Makanya sekarang masih sekali panen atau paling banyak dua kali tanam dalam setahun," ungkapnya.
Ia menjelaskan, lahan yang terlalu lama dibiarkan setelah panen akan ditumbuhi rumput maupun gulma sehingga membutuhkan biaya lebih besar saat akan diolah kembali.
Sebaliknya, jika lahan segera diolah setelah panen, pertumbuhan gulma masih sedikit sehingga biaya produksi dapat ditekan.
"Kalau setelah panen lahan dibiarkan sampai musim berikutnya, rumput dan tumbuhan liar akan semakin lebat sehingga membutuhkan biaya pengerjaan lebih besar. Tapi kalau setiap selesai panen langsung diolah lagi, penggunaan racun rumput dan biaya lainnya tentu lebih hemat," jelasnya.
Baca juga: DPPP Tana Tidung Targetkan Penanaman Padi Seluas 150 Hektare, Pakai Metode Pertanian Modern PM-AAS
Selain persoalan teknis budidaya, Idris menyebut sebagian petani di Tana Tidung juga belum sepenuhnya fokus mengelola usaha tani karena masih memiliki pekerjaan sampingan.
Menurutnya, kondisi tersebut turut memengaruhi produktivitas hasil pertanian.
"Petani kita ini tidak semuanya fokus di pekerjaan itu. Kadang masih disambi menjadi nelayan atau menggesek kayu," ujarnya.
Ia menambahkan, DPPP terus berupaya mendorong petani agar lebih konsisten mengelola lahannya sehingga hasil panen dan pendapatan mereka dapat meningkat.
"Ini juga menjadi kendala kami di Dinas Pertanian, bagaimana agar petani bisa lebih rutin sehingga hitungan pendapatannya juga bagus. Kalau disambi pekerjaan lain, jadinya tidak fokus sehingga produktivitasnya kurang maksimal," tuturnya.
Idris mengatakan target tanam tidak hanya berhenti pada proses penanaman, tetapi juga memastikan tanaman dirawat dengan baik hingga masa panen.
Ia menilai masih banyak petani yang meninggalkan lahannya setelah proses tanam sehingga pertumbuhan tanaman kurang optimal.
"Target tanam itu juga masih menjadi PR kita. Setelah tanam harus dirawat dengan baik supaya hasilnya maksimal, karena biasanya banyak yang setelah tanam langsung ditinggal," pungkasnya.
Menurut Idris, pola tersebut berbeda dengan sistem budidaya padi sawah yang membutuhkan perawatan lebih intensif dibandingkan sistem tanam di lahan pegunungan dengan metode menugal.
(*)
Penulis : Rismayanti