TRIBUNPEKANBARU.COM, SIAK - Angin berhembus lembut menerpa wajah, hamparan padang terbuka membentang sejauh mata memandang, sesekali rumput liar bergoyang mengikuti arah angin.
Di sisi utara, barisan akasia membentuk garis hijau. Di tengah bentangan lahan gambut itu, tujuh kolam mengelilingi pondok kayu.
Riak air oleh ikan baung ikut memberikan irama ritmik dalam empat keramba. Satu keramba kapasitasnya untuk 500 ekor bibit.
Riak-riak kecil muncul setiap kali ikan baung berebut pakan yang ditebar Alex Safirman (50), peternak ikan mendapat bantuan dari tetangganya, PT Arara Abadi -APP Group.
Sulit membayangkan, tempat yang kini dipenuhi suara percikan air itu pernah menjadi kawasan yang menghitam akibat kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).
Bertahun-tahun lalu, kobaran api melahap semak belukar di lahan milik Alex di Kampung Pinang Sebatang Timur, Distrik Rasau Kuning, Kecamatan Tualang, Kabupaten Siak.
Aroma asap pernah begitu pekat di tempat ini. Kini, yang tersisa hanya embusan angin, kolam-kolam ikan, perkebunan.
“Sebelumnya ini bekas kebakaran. Dulu semak belukar semua. Setelah itu saya coba tanam jagung, tapi gagal karena lahannya gambut dan sering banjir. Akhirnya saya putuskan menggali kolam,” tutur Alex sembari memandang air kolam yang tenang, Jumat (17/7/2026).
Keputusan itu mengubah arah hidupnya. Sejak 2019, ia mulai menekuni usaha perikanan. Mula-mula memelihara nila, gurame dan bawal.
Hasil panennya cukup menjanjikan. Bahkan sebagian kolam disulap menjadi tempat pemancingan berbayar yang ramai didatangi warga.
Kini, empat keramba di lahannya diisi 2.000 ekor benih ikan baung unggul hasil riset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Bibit itu merupakan bagian dari Program Uji Coba Multilokasi Budidaya Ikan Baung kolaborasi PT Arara Abadi Unit Usaha APP Group bersama BRIN.
Usia benih baru menginjak tiga bulan. Namun pertumbuhannya membuat Alex optimistis.
Saat pengambilan sampel pada umur 72 hari, pertumbuhan ikan dinilai sangat baik.
Jika tidak ada kendala, sekitar Agustus atau September nanti ribuan baung itu siap dipanen.
“Bibitnya 2.000 ekor di empat keramba. Mulai dari bibit, keramba sampai pakannya dibantu. Mudah-mudahan nanti panennya berhasil,” kata Alex dengan senyum khasnya.
Bagi Alex, bantuan perusahaan bukan hal baru. Hubungannya dengan PT Arara Abadi telah terjalin sejak 2017 melalui program pemberdayaan masyarakat.
Awalnya ia mendapat pelatihan peternakan sapi, pengelolaan pupuk kompos, hingga bantuan pengembangan usaha.
Dari seekor sapi bantuan yang diterimanya bersama kelompok tani, kini ternaknya berkembang menjadi lebih dari 100 ekor.
Namun di balik aktivitas beternak dan membudidayakan ikan, Alex memikul tanggung jawab lain yang tak kalah penting.
Lahan miliknya berbatasan langsung dengan areal hutan tanaman industri. Karena itu ia juga menjadi mitra binaan dalam Program Desa Makmur Peduli Alam (DMPA).
Perannya bukan hanya mengelola kolam, tetapi menjadi mata dan telinga pertama ketika muncul tanda-tanda kebakaran.
“Kalau ada api kami langsung memberi informasi. Tapi tidak hanya itu, kami juga ikut turun memadamkan. Kami merasa punya tanggung jawab menjaga kawasan ini,” ucapnya.
Keberadaan kolam pun ternyata memiliki fungsi ganda. Selain menjadi sumber penghasilan, air di dalamnya bisa dimanfaatkan ketika terjadi kebakaran di sekitar lahan gambut.
“Harapannya kalau ada api di sekitar sini, kami punya stok air untuk pemadaman. Jadi, ekonomi jalan, pencegahan kebakaran juga bisa dilakukan,” ujar Alex.
Setelah berbincang lama di pondok itu, akhirnya Alex menghidangkan ikan bakar.
Itulah menu makan siang saat berkunjung ke pondokannya. Di antara ikan bakar nila dan gurame, ada dua ekor baung.
“Ini asli ikan tangkapan kita di kolam ini, jangan dipikir dari pasar, malulah seorang peternak ikan harus beli ke pasar untuk menjamu tamu-tamu seperti bapak-bapak ini,” ujar Alex sambil terkekeh.
Alex memang sangat ramah saat Tribunpekanbaru.com dan rombongan tiba di pondokannya.
Selain menghidangkan ikan bakar sebagai menu makan siang, ia juga telah menyiapkan kopi hitam dan air mineral.
“Apagunanya ke sini kalau tak makan ikan bakar, percuma saya punya kolam,” tambahnya lagi yang membuat semua orang merasa dekat.
Social Corporate Engagement Head PT Arara Abadi Unit Usaha APP Group, Deny Widjaya juga ikut terkekeh mendengar candaan Alex.
Namun begitu, ia menerangkan, budidaya ikan baung di kolam Alex merupakan kelanjutan kerja sama perusahaan dengan BRIN.
Setelah berhasil melakukan pembenihan dan pembesaran ikan baung bersama masyarakat Sakai di Bathin Solapan, tahun ini program diperluas ke Kampung Pinang Sebatang Timur menggunakan bibit unggul hasil penelitian BRIN.
Menurut Deny, program itu tidak hanya ditujukan untuk meningkatkan pendapatan masyarakat, tetapi juga melahirkan sentra-sentra baru penghasil benih ikan baung berkualitas.
Pada saat yang sama, masyarakat binaan seperti Alex juga menjadi bagian penting dalam sistem deteksi dini Karhutla.
Menjelang sore, matahari perlahan condong ke barat. Cahaya keemasannya memantul di permukaan kolam, sementara deretan akasia bergoyang pelan diterpa angin.
Alex kembali menebar pakan. Ribuan ikan berkejaran di permukaan air, menghadirkan riak-riak kecil di lahan yang dahulu pernah hangus dilalap api.
( Tribunpekanbaru.com / Mayonal Putra)