Laporan Wartawan TribunJatim.com, Hanif Manshuri
TRIBUNJATIM.COM, LAMONGAN - Saat sebagian besar remaja menghabiskan waktu belajar atau bermain bersama teman, CA justru harus memikul beban hidup yang tak ringan.
Di usia yang baru menginjak 15 tahun, siswi kelas IX SMP Negeri di Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, tersebut memilih bekerja di sebuah warung pada sore hingga malam hari.
Baca juga: Tinjau Pasar Murah di Bondowoso, Zulhas Kasihan ke Rakyat Harga Beras Kini Semakin Mahal
Hal itu dilakukan demi membantu memenuhi kebutuhan keluarga sekaligus membiayai sekolahnya.
CA tinggal di Desa Sukobendu, Kecamatan Mantup, Kabupaten Lamongan, bersama ayah dan dua saudaranya.
Sejak sang ibu meninggal dunia, kehidupan keluarga mereka berubah drastis.
Ayah CA, Edi, hanya bekerja sebagai pedagang mainan keliling, penghasilannya tidak menentu.
Bahkan, tidak sedikit hari yang dilalui tanpa membawa uang pulang ke rumah.
Kondisi ekonomi yang serba sulit membuat CA mengambil keputusan yang sebenarnya berat bagi anak seusianya.
Selepas pulang sekolah, sekitar pukul 16.00 WIB, ia berangkat bekerja di sebuah warung hingga sekitar pukul 22.00 WIB.
Setiap hari, CA hanya menerima upah sekitar Rp25 ribu.
Meski nominalnya tidak besar, uang tersebut sangat berarti untuk membantu kebutuhan keluarga dan menunjang biaya sekolah.
Menurut keluarga, warung tempat CA bekerja merupakan tempat yang menyediakan hiburan musik dan minuman, sehingga dinilai kurang layak bagi seorang anak yang masih duduk di bangku SMP.
Bahkan, pernah suatu ketika CA tidak pulang ke rumah selama hampir sepekan karena tetap bekerja.
Kejadian ini membuat sang ayah diliputi kecemasan dan terus memikirkan keselamatan putrinya.
Di balik kerasnya perjuangan tersebut, CA sebenarnya hanya memiliki satu harapan sederhana, yakni bisa terus melanjutkan pendidikan hingga lulus sekolah.
Keinginan tersebut akhirnya sampai ke telinga seorang pegiat sosial yang juga anggota Polres Lamongan, Ipda Purnomo.
Ia datang langsung ke rumah keluarga CA untuk memastikan gadis remaja tersebut tidak lagi bekerja di warung dan dapat kembali fokus menjalani pendidikan.
Suasana haru tak terbendung ketika Pak Purnomo tiba di rumah sederhana keluarga tersebut.
Tangis keluarga pecah, sang ayah tak kuasa menahan air mata saat menceritakan kesulitan ekonomi yang selama ini mereka alami.
Melihat kondisi tersebut, Pak Purnomo memberikan bantuan berupa modal usaha agar keluarga bisa kembali berjualan di depan rumah.
Bantuan ini bukan tanpa alasan.
Menurut cerita keluarga, ketika masih duduk di bangku sekolah dasar dan ibunya masih hidup, CA pernah membantu berjualan makanan ringan di depan rumah.
Usaha kecil ini sempat menjadi tambahan penghasilan keluarga sebelum akhirnya berhenti setelah ibunya meninggal dunia.
Kini, harapan tersebut kembali dihidupkan.
Melalui bantuan modal usaha tersebut, diharapkan CA tidak lagi harus bekerja hingga larut malam.
Ia dapat lebih fokus belajar sekaligus membantu menjaga kedua adiknya di rumah.
Sementara itu, ayahnya bisa kembali berjualan untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
Baca juga: Aksi 500 Siswa SDN Kotakulon 1 Bondowoso Tabuh Kentongan Tandai Berakhirnya MPLS
Purnomo menyatakan akan terus mendampingi keluarga tersebut agar usaha yang dijalankan bisa berkembang dan mampu menjadi sumber penghasilan tetap.
Ia berharap tidak ada lagi anak yang harus mempertaruhkan masa depannya dengan bekerja di lingkungan yang tidak sesuai demi mempertahankan pendidikan.
"Alhamdulillah, CA mau meninggalkan pekerjaannya itu, dan fokus sekolah. Besok Senin (20/7/2026), saya akan ke sekolah dimana Cinta menimba ilmu," kata Purnomo, Sabtu (18/7/2026).
"Dan hari ini, Sabtu (18/7/2026), saya kembali ke rumah sinduk CA, menambah bantuan untuk berjualan di rumah," imbuhnya.
Kisah CA menjadi potret perjuangan seorang anak dari keluarga sederhana yang rela mengorbankan waktu dan masa remajanya agar tetap bisa mengenyam pendidikan.
Di balik keterbatasan ekonomi, semangatnya untuk tetap bersekolah menjadi pengingat bahwa masih banyak anak Indonesia yang harus berjuang lebih keras hanya untuk mempertahankan hak memperoleh pendidikan yang layak.