Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung – Harga ayam potong di tingkat pedagang kembali mengalami kenaikan dalam beberapa pekan terakhir.
Baca juga: Harga Daging Ayam di Bandar Lampung Kini Mencapai Rp35.000 per Kilogram
Meski modal pembelian meningkat, sejumlah pedagang memilih belum menaikkan harga jual demi menjaga daya beli masyarakat.
Salah satunya diungkapkan Adi (30), pedagang ayam di Pasar Tempel Rajabasa, Bandar Lampung.
Menurutnya, harga ayam dari pemasok mulai naik sejak beberapa minggu terakhir setelah sebelumnya sempat turun saat masa libur sekolah.
"Kalau dari harga nota memang sudah naik. Tapi untuk pembeli, saya belum menaikkan harga. Masih saya jual Rp55 ribu per ekor," ujar Adi, Sabtu (18/7/2026).
Dengan harga tersebut, konsumen mendapatkan ayam berukuran sekitar 2 kilogram hidup atau sekitar 1,6 kilogram setelah dibersihkan.
Adi menjelaskan, harga ayam hidup yang ia peroleh dari broker kini mencapai sekitar Rp48 ribu per ekor untuk ukuran 2 hingga 2,1 kilogram, atau setara sekitar Rp23 ribu hingga Rp24 ribu per kilogram.
"Kenaikannya baru terjadi beberapa minggu ini. Waktu liburan sekolah kemarin sempat turun cukup jauh," katanya.
Menurut Adi, kenaikan harga diduga dipengaruhi kembali aktifnya program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sekolah-sekolah sehingga permintaan ayam meningkat.
"Pas MBG libur, harga ayam sempat turun. Sekarang anak-anak sudah masuk sekolah dan MBG mulai jalan lagi, harga mulai naik," jelasnya.
Meski harga modal naik, Adi mengaku masih berupaya mempertahankan harga jual agar pelanggan tidak terbebani. Namun, ia mengakui kenaikan harga mulai memengaruhi jumlah pembeli.
"Pembeli agak berkurang. Kalau harga lagi murah biasanya masih bisa kasih potongan. Tapi sekarang modalnya sudah tinggi, jadi sulit kalau ditawar terlalu jauh," ungkapnya.
Ia juga menyoroti perbedaan antara harga acuan pemerintah dengan harga yang diterima pedagang.
Menurutnya, meski harga acuan ayam hidup di tingkat peternak disebut sekitar Rp19.500 per kilogram, harga yang diterimanya dari broker sudah berada di kisaran Rp23.000 hingga Rp24 ribu per kilogram.
Ke depan, Adi berharap harga ayam dapat lebih stabil sehingga tidak mengalami fluktuasi yang terlalu tajam.
"Harapannya harga jangan terlalu mahal, tapi juga jangan terlalu murah. Yang penting stabil. Kemarin turunnya jauh, sekarang naiknya juga luar biasa," tuturnya.
Meski harga mengalami kenaikan, Adi memastikan pasokan ayam di lapaknya tetap aman. Ia mengatakan broker masih mampu memenuhi kebutuhan pedagang dalam jumlah berapa pun.
"Kalau stok aman, kami mau pesan berapa pun dari broker tetap disiapkan," pungkasnya.
(Tribunlampung.co.id/ Bintang Puji Anggraini)