TRIBUNNEWSSULTRA.COM, KENDARI - Di balik permukiman padat di Kelurahan Jati Mekar, Kecamatan Kendari, Kota Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra) berdiri tiga bangunan tua tempat penampungan air.
Kompleks Water Reservoir Anno tersebut menjadi saksi perjalanan penyediaan air bersih di masa kolonial Belanda sejak tahun 1928.
Bangunan berusia sekitar 98 tahun ini pernah menjadi penampungan air yang memasok kebutuhan warga.
Setelah tidak lagi difungsikan, kondisinya sempat terbengkalai, dipenuhi sampah, serta dindingnya ditumbuhi lumut.
Namun, kini kawasan itu tampak lebih bersih sehingga jejak sejarahnya kembali terlihat.
Pantauan Tribunnewssultra.com, Sabtu (18/7/2026), tidak ada lagi sampah yang berserakan di dalam bangunan.
Baca juga: 2 Hari Tak Pulang, Pria Ditemukan Tewas Tersengat Listrik Dekat Penampungan Limbah di Morosi Konawe
Area di sekitarnya juga telah dibersihkan dari rumput liar, membuat kompleks cagar budaya tersebut lebih nyaman dikunjungi.
Terletak di kawasan perbukitan, lokasi reservoir juga menawarkan pemandangan Teluk Kendari dari ketinggian.
Nilai sejarah Water Reservoir Anno 1928 akhirnya mendapat pengakuan pada 2021.
Bangunan itu ditetapkan sebagai cagar budaya tingkat kabupaten dan kota melalui Surat Keputusan Wali Kota Kendari Nomor 146 Tahun 2021.
Pengelola Operasional Water Reservoir Anno 1928, Mursit, mengatakan kondisi bangunan kini jauh lebih baik dibanding beberapa tahun lalu.
Menurutnya, setelah berada di bawah pengelolaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Kendari, kawasan tersebut mulai dibersihkan dan dipelihara.
“Dulu sempat terbengkalai. Sekarang sudah berada di bawah naungan Disbudpar Kota Kendari, sehingga kondisinya lebih terjaga,” ujarnya kepada Tribunnewssultra.com.
Ia menyampaikan pada masa kolonial, reservoir ini dibangun untuk menampung air dari mata air di perbukitan sekitar Kendari.
Air kemudian dialirkan ke permukiman melalui jaringan pipa besi yang menjadi salah satu infrastruktur penting pada masanya.
Di sekitar bangunan saat ini masih tersisa potongan pipa, keran, serta ruang penampungan berukuran besar yang dahulu menjadi bagian dari sistem distribusi air bersih.
Adapun pengunjung yang datang didominasi pelajar dan mahasiswa.
“Mereka biasanya memanfaatkan lokasi tersebut sebagai bahan tugas sekolah, penelitian, maupun untuk mempelajari sejarah perkembangan Kota Kendari,” tuturnya.
Kata dia, setelah masa kolonial berakhir, pengelolaan reservoir sempat beralih kepada Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Kendari, yang dimanfaatkan sebagai penampungan air bersih.
Warga sekitar juga masih mengandalkan fasilitas tersebut untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari.
Namun, reservoir tersebut terakhir kali difungsikan sekitar 2006.
Operasionalnya dihentikan karena debit air dari sumber mata air terus menurun sehingga tidak lagi mampu mengalir hingga ke lokasi penampungan.
“Sejak saat tidak digunakan lagi, makanya kantor PDAM yang dulunya disini juga dipindahkan. Sekarang bangunan bersejarah tersebut perlahan kehilangan fungsinya,” jelasnya. (*)
(Tribunnewssultra.com/Dewi Lestari)