TRIBUNJAKARTA.COM, JAKARTA - Viralnya Liga Aspal yang digelar Karang Taruna RW 08 Kelurahan Menteng tak hanya menjadi ajang pertandingan futsal anak-anak.
Di balik turnamen yang berlangsung di jalan kampung dekat rel kereta itu, tersimpan harapan besar warga agar lahan tidur milik PT Kereta Api Indonesia (KAI) dapat dimanfaatkan menjadi ruang bermain bagi masyarakat.
Ketua Karang Taruna RW 08 Kelurahan Menteng Andicka Prasetya mengatakan, Liga Aspal lahir dari kegelisahan melihat anak-anak di lingkungannya yang tidak memiliki lapangan untuk bermain sepak bola.
Kondisi itu membuat mereka selama ini hanya bisa memanfaatkan jalan kampung sebagai arena bermain.
"Untuk Liga Aspal ini pertama kali dibuat memang karena saya dan teman-teman Karang Taruna sering melihat anak-anak kecil di sini main bola hampir setiap hari. Karena memang di sini enggak ada lapangan, akhirnya kami berdiskusi dengan Karang Taruna dan Pak RT untuk mewadahi mereka. Dari situlah akhirnya Liga Aspal dibuat," kata Andicka, Sabtu (18/7/2026).
Menurut Andicka, pihaknya tidak pernah menyangka turnamen sederhana yang digelar di jalan kampung tersebut mendapat perhatian luas hingga menuai respons dari Gubernur DKI Jakarta.
Ia menegaskan, tujuan utama kegiatan itu bukan sekadar menggelar kompetisi, melainkan menjadi bentuk kepedulian terhadap minimnya ruang bermain anak di Jakarta.
"Kenapa Liga Aspal ini ramai, kami juga enggak expect bisa seramai ini. Karena memang Liga Aspal dibuat sebagai bentuk ekspresi sosial. Lahan di Jakarta ini sempit, khususnya di RW kami yang memang enggak punya lapangan," katanya.
Ia mengaku mengapresiasi perhatian yang diberikan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terhadap fenomena liga kampung tersebut.
Menurutnya, dukungan itu diharapkan dapat membuka jalan bagi kerja sama dengan PT KAI agar lahan yang tidak dimanfaatkan bisa dijadikan ruang publik.
"Saya lihat narasi Pak Gubernur sangat suportif. Harapannya Pemprov bisa mendorong kerja sama dengan KAI supaya lahan yang selama ini tidak dimanfaatkan bisa digunakan masyarakat," ucapnya.
Andicka mengungkapkan, Karang Taruna sebenarnya sudah lebih dulu mengusulkan pemanfaatan lahan tidur milik KAI yang berada tidak jauh dari permukiman warga.
Surat permohonan bahkan telah dikirimkan sejak tahun lalu.
"Kami pernah mengirim surat ke KAI untuk memanfaatkan lahan itu agar bisa dipakai masyarakat. Anak-anak bisa bermain bola, ibu-ibu punya ruang berkegiatan, bapak-bapak juga bisa memanfaatkannya," tutur Andicka.
Namun, menurut dia, surat tersebut tidak pernah mendapat tanggapan. Warga kemudian berinisiatif membersihkan lahan secara swadaya selama kurang lebih tiga bulan agar bisa dimanfaatkan sebagai ruang bersama.
"Kurang lebih tiga bulan kami membersihkan ilalang dan sampah sampai lahannya rata. Itu semua hasil swadaya warga," katanya.
Andicka mengaku kecewa lantaran setelah lahan tersebut bersih, pihak KAI justru datang membawa surat yang berisi dasar-dasar hukum terkait penggunaan lahan.
Padahal, warga hanya ingin menghadirkan ruang terbuka yang bermanfaat bagi lingkungan.
"Yang kami mau sebenarnya duduk bareng dengan KAI. Apa yang dibutuhkan masyarakat bisa kita diskusikan bersama. Jangan langsung melihatnya dari sisi pasal-pasal hukum saja," ujarnya.
Ia berharap perhatian yang kini diberikan Pemprov DKI Jakarta dapat menjadi jembatan komunikasi antara warga dan PT KAI sehingga pemanfaatan lahan tidur dapat diwujudkan tanpa menimbulkan persoalan baru.
"Pastinya kami berharap dengan adanya atensi Pak Gubernur, Pemprov dan KAI bisa bersepakat agar lahannya bisa dimanfaatkan untuk masyarakat," kata Andicka.
Sementara itu, Liga Aspal sendiri digelar setiap akhir pekan dengan memanfaatkan ruas jalan kampung yang ditutup sementara.
"Setiap ada pertandingan jalan memang kami tutup sementara. Tapi sebelumnya kami sudah menyampaikan ke warga, karena mereka juga paham kalau kami memang enggak punya lapangan untuk bermain bola," ungkapnya.
Seluruh peserta Liga Aspal merupakan anak-anak yang tinggal di lingkungan RW 08 Kelurahan Menteng.
Turnamen tersebut juga diselenggarakan sepenuhnya dari hasil swadaya masyarakat dan kas Karang Taruna tanpa dukungan sponsor.
"Semua kegiatan ini hasil swadaya masyarakat dan kas Karang Taruna," ucap Andicka.
Ia memastikan Liga Aspal tidak akan berhenti pada musim perdana.
Selama kebutuhan ruang bermain anak belum terpenuhi, Karang Taruna berkomitmen terus melanjutkan turnamen tersebut sebagai wadah bagi anak-anak menyalurkan hobi bermain sepak bola.
"Mungkin Liga Aspal akan terus berlanjut sampai akhirnya ada solusi soal lapangan. Kalaupun nanti sudah ada lapangan, Liga Aspal tetap ada, mungkin hanya naik kelas dan tidak lagi dimainkan di atas aspal," pungkasnya.
Baca juga: Liga Aspal Lahir dari Keresahan Warga, Jalan Kampung Disulap Jadi Arena Futsal Setiap Akhir Pekan
Baca juga: JADWAL Konser Akbar Monas 2026 Malam Ini: Simak Jadwal Konser, Kantong Parkir hingga Rekayasa Lalin
Baca juga: Era Baru Pengelolaan Sampah Jakarta Dimulai, Bantargebang Terapkan Controlled Landfill