BANGKAPOS.COM, BANGKA— Suasana duka masih menyelimuti rumah kontrakan sederhana di Jalan Sungai Selan, depan Asrama Polisi, Kecamatan Pangkalan Baru, Kota Pangkalpinang, Sabtu (18/07/2026).
Seorang pria paruh baya bernama Yaimin tampak duduk di teras. Ia masih mengingat sosok Sri, penjual jamu keliling yang selama lebih dari 25 tahun bersamanya di tanah rantau.
Sri bukan sekadar teman satu kontrakan, melainkan sudah seperti keluarga sendiri.
Sri merupakan perempuan asal Jawa yang meninggal dunia setelah mengalami kecelakaan. Ia tertabrak truk pengangkut karung beras di Jalan Raya Desa Jelutung, Kabupaten Bangka Tengah, Jumat (17/7/2026) siang.
"Sudah seperti keluarga sendiri. Kami sama-sama merantau dari Jawa ke Bangka. Sudah sekitar 25 tahun lebih tinggal bersama di sini," kata Yaimin kepada Bangkapos Sabtu (18/07/2026).
Yaimin mengaku pertama kali mengetahui kabar kecelakaan Sri bukan dari keluarga maupun pihak kepolisian, melainkan dari sesama pedagang.
"Waktu itu ada teman telepon. Dia bilang ada penjual jamu kecelakaan," kata Yaimin.
Namun, saat pertama kali mendengar kabar tersebut, ia belum langsung percaya.
"Saya pikir bukan Mbak Sri. Karena banyak juga penjual jamu. Tapi setelah dikirim foto motor dan barang-barangnya, baru saya yakin itu Mbak Sri," tuturnya.
Saat kabar itu datang, Yaimin sedang berada di rumah bersama suami Sri. Yaimin merupakan penjual mie ayam yang libur setiap Jumat.
"Saya jual mie ayam di depan gudang pupuk. Kalau Jumat memang saya libur. Kebetulan waktu itu saya sedang di rumah bersama suaminya Mbak Sri," katanya.
Tidak lama kemudian, Ketua RT datang menyampaikan kabar duka tersebut.
"Kami tahu kabarnya sekitar jam tiga sore. Setelah itu semua langsung bergerak. Ada yang cari informasi, ada yang ke lokasi, ada yang mengurus keperluan jenazah," ucapnya.
Menurut Yaimin, para tetangga dan teman-teman Sri langsung membantu tanpa diminta.
"Semua merasa kehilangan. Karena Mbak Sri ini banyak kenal orang. Dia jualan keliling, jadi banyak yang tahu," katanya.
Setelah dinyatakan meninggal dunia di rumah sakit, jenazah Sri kemudian dibawa ke Yayasan Rumah Duka Bhakti Sosial.
“Kami tidak sempat ke rumah sakit karena sudah lama di sana jadi sudah dinyatakan meninggal dan siap di bawa ke rumah,” katanya.
Setelah dinyatakan meninggal dunia di rumah sakit, jenazah Sri kemudian dibawa ke Yayasan Rumah Duka Bhakti Sosial. Di tempat itulah Yaimin bersama suami Sri melihat almarhumah untuk pertama kalinya.
Menurut Yaimin, keluarga sempat mempertimbangkan membawa jenazah Sri ke rumah kontrakan. Namun, karena akses jalan menuju lokasi sempit dan menyulitkan ambulans, jenazah akhirnya dibawa langsung ke rumah duka.
"Meski rumah dukanya biasa digunakan masyarakat Tionghoa, yang memandikan tetap orang Islam. Kami juga membaca Yasin di sana. Semua teman-teman ikut membantu," katanya.
Menurut Yaimin, momen paling berat terjadi ketika suami Sri mengetahui bahwa perempuan yang selama puluhan tahun mendampinginya telah pergi untuk selamanya.
"Suaminya menangis terus. Tidak kuat menerima kenyataan. Sampai menangis sambil berguling-guling di rumah duka lebih dari dua jam," ungkap Yaimin.
Ia mengatakan, tidak mudah menenangkan seseorang yang kehilangan pasangan hidup setelah puluhan tahun bersama.
"Kami cuma bisa pegang dan kasih semangat. Kami bilang sabar, ini sudah kehendak Tuhan. Tapi namanya kehilangan istri yang sudah puluhan tahun bersama, pasti berat," katanya.
Yaimin melihat sendiri bagaimana beratnya perpisahan tersebut.
"Selama ini mereka selalu bersama. Dari merantau sampai tinggal di sini, sama-sama cari makan. Jadi wajar kalau suaminya sangat terpukul," ujarnya.
25 Tahun Mengais Rezeki di Bangka
Selama tinggal bersama, Yaimin mengenal Sri sebagai sosok pekerja keras. Bertahun-tahun perempuan itu mencari nafkah dengan berjualan jamu keliling menggunakan sepeda motor.
"Kerjanya ya jual jamu saja. Berangkat sekitar jam enam pagi. Pulangnya tidak tentu, kadang jam dua siang, kadang sampai jam empat sore, tergantung dagangannya," kata Yaimin.
Meski tidak mengetahui pasti rute perjalanan Sri setiap hari, Yaimin tahu perempuan tersebut sering berkeliling hingga wilayah cukup jauh di Bangka Tengah.
"Kalau jalannya persis saya tidak tahu. Yang saya tahu memang jauh. Kadang dengar sampai daerah Jelutung, kadang lewat Pinang Sebatang. Pokoknya mutar-mutar jual jamu," tuturnya.
Rutinitas mencari nafkah itulah yang akhirnya membawa Sri ke lokasi kecelakaan.
Sri diketahui memiliki tiga orang anak yang seluruhnya telah berkeluarga dan menetap di Jakarta. Setelah menerima kabar duka, anak-anaknya memutuskan membawa jenazah sang ibu pulang ke kampung halaman di Sragen, Jawa Tengah.
"Anak-anaknya minta jenazah dibawa pulang ke Jawa. Walaupun biayanya besar, belasan juta rupiah, mereka tetap ingin membawa ibunya pulang kampung," ujar Yaimin.
Rumah duka dipenuhi para perantau asal Jawa yang mengenal Sri selama puluhan tahun tinggal di Bangka.
"Banyak sekali yang datang. Penjual bakso, penjual es, pedagang pakaian, sesama penjual jamu. Semua kenal Mbak Sri karena sama-sama merantau di Bangka," ungkapnya.
Hingga Sabtu sekitar pukul 11.00 WIB, suami Sri bersama keluarga telah tiba di Jakarta untuk melanjutkan perjalanan menuju Sragen, Jawa Tengah. Namun, keluarga belum dapat memberikan keterangan karena masih fokus mengurus proses pemakaman.
Bagi Yaimin, kepergian Sri bukan hanya kehilangan bagi keluarga, tetapi juga bagi para perantau yang selama ini mengenalnya.
"Di rumah ini ada lima orang. Kami memang sama-sama merantau, jadi tinggal serumah supaya lebih hemat. Lama-lama sudah seperti saudara sendiri," pungkasnya.(Bangkapos.com/Erlangga).