Pendiri Qaryah Thayyibah Berbagi Inspirasi di Sidrap, Guru Diajak Memerdekakan Cara Belajar Anak
Muh Hasim Arfah July 18, 2026 08:07 PM

TRIBUN-TIMUR.COM, SIDRAP- Pendiri Komunitas Belajar Qaryah Thayyibah (KBQT) Kalibening, Salatiga, Jawa Tengah, Ahmad Bahruddin, hadir menjadi pembicara pada kegiatan Temu Pendidik Nusantara (TPN) 2026 di Datae Eco Park, Kelurahan Lawawoi, Kecamatan Watang Pulu, Kabupaten Sidrap, Sulawesi Selatan, Sabtu (18/7/2026).

Kehadiran Ahmad Bahruddin menjadi salah satu momen yang paling dinanti ratusan guru dari berbagai jenjang satuan pendidikan di Kabupaten Sidrap.

Sebanyak 549 guru mengikuti kegiatan tersebut dengan antusias, mulai dari guru TK, SD, SMP, SMA, hingga tingkat SMK.

Mereka tidak hanya datang untuk mendengar materi.

Namun juga ingin belajar bagaimana menghadirkan pendidikan yang lebih dekat dengan kehidupan anak.

Dalam pemaparannya, Ahmad Bahruddin mengajak para guru mengubah cara pandang terhadap proses belajar.

Menurutnya, ruang belajar tidak hanya berada di dalam kelas.

Lingkungan sekitar justru menyimpan banyak pengetahuan yang bisa dijadikan sumber pembelajaran.

Baca juga: Dari Sidrap untuk Pendidikan Indonesia, 549 Guru Ikut Temu Pendidik Nusantara

"Segala sesuatu yang ada di sekitar kita adalah bahan belajar. Anak-anak bisa belajar dari sawah, pasar, sungai, kebun, hingga kehidupan masyarakat," ujarnya saat memberikan materi di depan guru-guru.

Pemikiran itu sejalan dengan konsep Komunitas Belajar Qaryah Thayyibah yang ia dirikan di Kalibening, Salatiga.

KBQT dikenal sebagai salah satu model pendidikan alternatif yang telah menginspirasi banyak sekolah di Indonesia.

Di komunitas tersebut, siswa tidak dibatasi oleh seragam, ujian formal, maupun kurikulum yang kaku.

Anak-anak justru diberi ruang menentukan minat belajarnya sendiri.

Guru berperan sebagai pendamping yang membantu mereka menemukan potensi terbaik.

Pembelajaran dilakukan melalui riset sederhana, diskusi, proyek nyata, hingga menyelesaikan persoalan yang mereka temui di lingkungan sekitar.

Konsep itulah yang dinilai relevan dengan semangat Temu Pendidik Nusantara.

TPN sendiri merupakan ruang berbagi praktik baik antara guru dari berbagai daerah.

Melalui forum tersebut, para pendidik diajak saling belajar, bertukar pengalaman, sekaligus menemukan solusi atas tantangan pendidikan di sekolah masing-masing.

Ahmad Bahruddin kemudian membagikan pengalaman sederhana yang mengundang perhatian para peserta.

Ia bercerita tentang seorang anak yang bolos sekolah.

Menurutnya, anak tersebut tidak langsung dihukum.

Sebaliknya, guru mengajaknya berdialog dan meminta anak itu menuliskan alasan mengapa ia memilih tidak masuk sekolah.

"Dalam mendidik anak, kami tidak terburu-buru memberikan hukuman. Kami ingin mengetahui alasan di balik perilakunya. Ketika anak diberi ruang untuk bercerita, kami justru menemukan solusi yang lebih mendidik dan berdampak bagi perkembangan dirinya," katanya.

Bagi Ahmad Bahruddin, setiap perilaku anak selalu memiliki alasan yang perlu dipahami.

Karena itu, tugas guru bukan hanya menegakkan aturan.

Tetapi juga mendampingi anak menemukan jalan keluar dari persoalan yang dihadapinya.

Ia menilai pendekatan yang mengedepankan dialog mampu menumbuhkan rasa percaya diri sekaligus tanggung jawab pada diri peserta didik.

Anak-anak pun merasa pendapatnya dihargai.

Mereka menjadi lebih berani menyampaikan ide, bertanya, hingga mengambil peran dalam proses belajar.

Menurut Ahmad Bahruddin, pendidikan yang baik bukan hanya menghasilkan murid yang patuh.

Tetapi juga melahirkan generasi yang mampu berpikir kritis, mandiri, peduli terhadap lingkungan, dan berani mencari solusi atas persoalan di sekitarnya.

Pesan itu mendapat sambutan hangat dari para peserta Temu Pendidik Nusantara di Sidrap.

Banyak guru menilai pendekatan yang dibagikan Ahmad Bahruddin menjadi inspirasi untuk menghadirkan suasana belajar yang lebih manusiawi di sekolah.

Salah satunya diungkap oleh Kasmawati, seorang guru Watang Sidenreng.

Ia mengatakan bahwa masukan dari pendiri Qaryah Thayyibah memberikan motivasi dalam mengajar.

“Alhamdulillah saya sangat senang mengikuti kegiatan TPN ini. Saya benar-benar bisa belajar tentang bagaimana menghadapi dan merangkul anak-anak untuk menjadi pribadi yang lebih mandiri dan bertanggung jawab,” katanya.

Melalui Temu Pendidik Nusantara, para guru diharapkan tidak hanya pulang membawa materi pelatihan.

Lebih dari itu, mereka membawa semangat baru bahwa guru sejatinya bukan hanya mengajar, tetapi juga terus belajar, mendengarkan, dan bertumbuh bersama murid demi menghadirkan pendidikan yang memerdekakan dan memberi manfaat bagi masa depan anak-anak Indonesia (*)

Laporan Reporter Sidrap: Hardiyanti Kamaluddin

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.