SURYA.co.id, SIDOARJO – Perjuangan guru di kawasan pesisir Kabupaten Sidoarjo menjadi potret nyata dedikasi tenaga pendidik di tengah keterbatasan.
Setiap hari, belasan guru SDN Sawohan 2 dan SMPN Satu Atap Buduran harus menempuh perjalanan sekitar satu jam menggunakan perahu bermotor untuk mengajar para siswa di Dusun Kepetingan, Desa Sawohan, Kecamatan Buduran.
Perjalanan itu bukan sekadar menyeberangi sungai.
Mereka harus menghadapi banjir rob yang semakin sulit diprediksi, cuaca buruk, hingga ancaman satwa liar di perairan.
Meski demikian, semangat mengajar para guru tetap tak surut demi memastikan anak-anak di kawasan pesisir tetap memperoleh hak atas pendidikan.
Kondisi tersebut juga memengaruhi proses belajar mengajar di sekolah. Ketika banjir rob menggenangi ruang kelas, aktivitas pembelajaran terpaksa dihentikan dan para siswa dipulangkan demi alasan keselamatan.
Kepala SDN Sawohan 2 dan SMPN Satu Atap Buduran, Ari Kurnia, mengatakan sebanyak 19 tenaga pendidik dan kependidikan setiap hari berangkat bersama menggunakan perahu bermotor.
Sebelum berangkat, seluruh guru berkumpul di dermaga, kemudian melanjutkan perjalanan menuju sekolah melalui jalur sungai.
"Kalau berangkat, kami berkumpul dulu di pelabuhan, setelah itu kami bersama-sama berangkat ke sekolah," kata Ari, Jumat (17/7/2026), dikutip SURYA.co.id dari Kompas.com.
Menurut Ari, jalur sungai menjadi pilihan paling aman dan efisien.
Akses darat memang lebih singkat, sekitar 30 menit, tetapi sering tidak dapat dilalui karena melintasi kawasan tambak yang terendam saat musim hujan maupun ketika banjir rob datang.
"Kalau lewat darat sekitar 30 menit, tetapi jalannya sering putus karena melewati tambak. Itu bukan jalan umum, jadi kami harus memutar cukup jauh. Karena itu kami memilih naik perahu," ujarnya.
Risiko perjalanan menuju sekolah tidak berhenti pada cuaca buruk.
Ari mengungkapkan, dirinya bersama rombongan guru pernah mengalami peristiwa menegangkan saat perahu mereka terjebak tumpukan enceng gondok di sungai.
Di balik tumpukan tanaman air tersebut, muncul tiga ekor buaya yang sedang berkelahi dengan jarak sangat dekat dari perahu.
"Waktu itu perahu kami tertahan enceng gondok. Di belakang tumpukan itu ternyata ada tiga buaya yang sedang berkelahi. Jaraknya sangat dekat dengan perahu kami," tuturnya.
Selain itu, para guru juga kerap diguyur hujan saat berada di tengah sungai. Meski perahu memiliki penutup, air hujan tetap masuk, terlebih ketika angin bertiup kencang.
"Lumayan sering kami kehujanan di tengah sungai. Walaupun perahunya ada penutup, tetap saja air hujan masuk, apalagi kalau disertai angin kencang," katanya.
Banjir rob yang rutin melanda Dusun Kepetingan kini semakin sulit diprediksi.
Ari menjelaskan, sekolah tetap menjalankan pembelajaran selama air belum memasuki ruang kelas.
Namun, ketika genangan mulai mengganggu aktivitas belajar, proses pembelajaran langsung dihentikan dan para siswa dipulangkan.
"Kalau sekarang banjir rob memang tidak bisa diprediksi lagi seperti dulu. Kondisinya sudah berbeda, jadi kami harus menyesuaikan dengan keadaan di lapangan," katanya.
"Kami tetap belajar sebelum air masuk ke kelas. Kalau air sudah masuk, kegiatan belajar kami hentikan dan anak-anak dipulangkan," ujarnya.
Agar target pembelajaran tetap tercapai, sekolah menerapkan sistem belajar yang lebih fleksibel.
"Materinya tetap sama. Kadang waktunya kami percepat atau beberapa materi kami gabungkan supaya target pembelajaran tetap tercapai," katanya.
Perjuangan menuju sekolah juga dirasakan para siswa.
Saat ini, SDN Sawohan 2 dan SMPN Satu Atap Buduran memiliki 48 siswa. Sebagian di antaranya berasal dari wilayah pesisir, termasuk empat hingga lima siswa SMP asal Desa Gebang.
Setiap hari mereka harus menyeberangi sungai menggunakan sampan agar dapat mengikuti kegiatan belajar.
"Ada sekitar empat sampai lima anak dari Desa Gebang yang setiap hari naik sampan karena sekolah kami yang paling dekat dari tempat tinggal mereka," ujar Ari.
Semangat belajar para siswa menjadi motivasi tersendiri bagi para guru untuk terus menjalankan tugas meski menghadapi berbagai keterbatasan.
Tantangan lain yang dihadapi sekolah adalah minimnya jaringan telekomunikasi.
Di lingkungan sekolah hampir tidak tersedia sinyal telepon seluler. Komunikasi hanya bisa dilakukan di area tertentu yang memiliki alat penguat sinyal.
"Kalau sedang di sekolah, kami benar-benar tidak ada sinyal. Dulu pernah mendapat bantuan alat penguat sinyal. Jadi, hanya di sekitar alat itu saja kami bisa berkomunikasi. Bergeser sedikit, sinyal langsung hilang," ungkap Ari.
Di sisi lain, sekolah juga masih menunggu pelaksanaan program revitalisasi bangunan yang telah disetujui oleh Kementerian Pendidikan.
"Kami sudah mendapatkan program revitalisasi, tetapi realisasinya memang belum dilaksanakan karena masih masuk antrean reguler," ujarnya.
Di tengah banjir rob, perjalanan panjang dengan perahu, cuaca ekstrem, hingga keterbatasan fasilitas, Ari menegaskan semangat para guru tetap terjaga.
Menurutnya, semangat siswa untuk terus datang ke sekolah menjadi energi terbesar bagi para tenaga pendidik.
"Yang paling membuat kami senang adalah ketika melihat semua anak tetap datang ke sekolah, tetap semangat belajar meski harus menghadapi banjir rob. Selama mereka masih punya semangat untuk belajar, kami juga akan terus semangat mengajar dan mendampingi mereka dalam kondisi apa pun," pungkasnya.
Kisah para guru dan siswa di Dusun Kepetingan menunjukkan bahwa tantangan pendidikan di Indonesia tidak hanya berkaitan dengan kualitas pembelajaran, tetapi juga akses menuju sekolah.
Ketika guru harus mengandalkan perahu, menghadapi banjir rob, cuaca buruk, bahkan ancaman buaya hanya untuk mengajar, kondisi tersebut menggambarkan masih besarnya kesenjangan infrastruktur pendidikan di daerah terpencil dan pesisir.
Fleksibilitas pembelajaran yang diterapkan sekolah menjadi solusi jangka pendek agar kurikulum tetap berjalan. Namun, dalam jangka panjang, revitalisasi sekolah, peningkatan akses transportasi, pengendalian banjir rob, serta penyediaan jaringan komunikasi yang memadai menjadi kebutuhan mendesak.
Dedikasi para guru memang patut diapresiasi, tetapi keberlanjutan pendidikan di wilayah seperti Dusun Kepetingan juga membutuhkan dukungan infrastruktur dan kebijakan yang lebih kuat agar semangat mengajar tidak terus bergantung pada pengorbanan pribadi para tenaga pendidik.