40 Rapai Pase Berusia Ratusan Tahun Turun di Duel Akbar, Blah Nou Krueng vs Blah Deh Krueng
Muhammad Hadi July 19, 2026 02:03 AM

Laporan Wartawan Serambi Indonesia, Jafaruddin I Aceh Utara

SERAMBINEWS.COM,LHOKSUKON – Sebanyak 40 Rapai Pase berusia ratusan tahun dipastikan akan diturunkan dalam Duel Akbar 50 Rapai Pase yang mempertemukan dua kawasan budaya besar, Blah Deh Krueng (wilayah Tengah -Timur) melawan Blah Nou Krueng (wilayah Tengah–Barat).

Pertunjukan budaya tersebut akan digelar di Desa Dayah Meuria, Kecamatan Syamtalira Aron, Kabupaten Aceh Utara, Sabtu (25/7/2026) malam, sebagai bagian dari upaya pelestarian warisan budaya Rapai Pase yang telah hidup dan berkembang selama berabad-abad di kawasan bekas Kerajaan Samudera Pasai.

Puluhan rapai yang akan ditampilkan bukan sekadar alat musik tradisional, melainkan pusaka budaya yang diwariskan secara turun-temurun sejak abad ke-18 hingga abad ke-19.

Informasi yang diperoleh Serambinews.com saat wawancara dengan sejumlah Syekh rapai selama dua bulan terakhir, menyebutkan, setiap rapai memiliki nama, karakter bunyi, sejarah, serta silsilah pewaris yang berbeda.

Bagi para seniman Rapai Pase, nama-nama tersebut bukan hanya penanda alat musik, tetapi juga identitas kelompok yang terus dijaga lintas generasi.

Menjelang pelaksanaan duel akbar, puluhan grup Rapai Pase di berbagai kecamatan di Aceh Utara terus mengintensifkan latihan.

Selain mematangkan teknik permainan, para seniman juga melakukan perawatan terhadap rapai, mulai dari memperbaiki badan rapai berbahan kayu hingga mengencangkan membran kulit sapi agar menghasilkan suara yang tetap nyaring dan harmonis saat dipertunjukkan.

Koordinator Blah Deh Krueng (Tengah-Timur) Rusli M Yacob alias Nyak Lie, menyebutkan sudah mendata sebanyak 20 rapai pusaka yang akan diturunkan pada malam pertunjukan.

Rapai-rapai tersebut terdiri atas Raja Meudeuhak, Raja Bombai, Raja Muda, Sinampang aroe, Bintang Tamu, Bom Atom, Putroe Ijoe, Sibrok Blang Pha, Si Pirak, Lumoe Pok Ateung, Si Parot, Raja Itam, Buya Itam.

Kemudian Gelanteu Cot Uroe, Sibrok Kutabate, Putroe Banderoh, Tualang Meurante, Raja Himbe, Buket Meulinteung, dan Raja Rimba.

Nama-nama rapai tersebut selama ini menjadi kebanggaan kelompok-kelompok Rapai Pase di wilayah timur Aceh Utara dan tetap dipertahankan sebagai warisan leluhur.

Masing-masing, Grup Rapai Raja Meudeuhak dari Desa Pucok Alue, Kecamatan Baktiya, Geunta Alam dari Desa Blang Pha, Kecamatan Seunuddon, Geulumpang VII dari Kecamatan Matangkuli, Grup Kram Krum Tam-Tum Boh Beureutoh di Lhok Merbo, Kecamatan Tanah Jambo Aye, serta Grup Pusaka Indatu di Kecamatan Lhoksukon.

Sementara itu, Grup Raja Mulieng dari Desa Dayah Meuria, Kecamatan Syamtalira Aron, yang bertindak sebagai tuan rumah sekaligus koordinator Blah Nou Krueng, juga telah merampungkan pendataan rapai yang akan mewakili wilayah tengah hingga barat Aceh Utara.

“Tim kita juga sudah menghimpun sejumlah grup, di antaranya Peureupok, Putroe Canden Blang Asan, Lapang, Barona Jaya Kecamatan Tanah Luas, serta Raja Buwah,” ujar Koordinator Tim Blang Nou Krueng (Tengah -Barat), Syekh Amat IB, kepada Serambinews.com, Sabtu (18/7/2026).

Baca juga: Jelang Duel Akbar, Puluhan Grup Rapai Pase Aceh Utara Intensifkan Latihan

Dari wilayah Blah Nou Krueng, sebanyak 20 rapai pusaka yang dipastikan tampil yakni Raja Sagob, Raja Paya Reukam, Raja Jamok, Tualang Muda, Tualang Buket Asee Grah, Tualang Karu, Tualang Meu Pep-Pep.

Selanjutnya, Putroe Bunthok, Buya Galeun, Tualang Tuha, Si Cumeh, Si Mane, Raja Nago, Tualang Bade, Boh Beureutoh, Tualang 40, Bhom Racon, Tualang Rimba, Putro Ijo, dan Raja Geulanteu.

Rapai-rapai tersebut hingga kini masih disimpan dan dimainkan oleh kelompok seni yang tersebar di sejumlah kecamatan di Aceh Utara.

Sebagian besar rapai yang akan diturunkan dalam duel tersebut merupakan peninggalan berusia lebih dari satu abad dan masih digunakan oleh kelompok-kelompok Rapai Pase yang aktif hingga sekarang.

Panitia menyebutkan, duel budaya ini bukan sekadar mempertemukan kemampuan para pemain rapai, tetapi juga menjadi ruang untuk mendokumentasikan nama-nama rapai tua yang selama ini hanya dikenal di kalangan seniman.

Pendataan tersebut diharapkan dapat memperkuat upaya pelestarian Rapai Pase sebagai warisan budaya Aceh sekaligus menjadi referensi sejarah bagi generasi mendatang.

Duel Akbar 50 Rapai Pase juga menghadirkan satu grup tamu, Rapai Matang Keupula Kecamatan Madat, dari Kabupaten Aceh Timur, yang akan bergabung dengan tim Blah Deh Krueng.

“Pertunjukan diperkirakan berlangsung hingga dini hari dengan menampilkan dentuman rapai yang selama ratusan tahun menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat Pase,” ujar Syekh Amat.

Pelestarian warisan budaya aceh

Untuk diketahui Duel Akbar Rapai Pase merupakan bagian dari program Pelestarian Warisan Rapai Pase melalui Riset, Pertunjukan Budaya, Dokumentasi Buku, dan Promosi Digital bertema "Menghidupkan Warisan Spiritual Lewat Aksi Budaya dan Inovasi Digital."

Program tersebut digagas tim dosen Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Malikussaleh bersama komunitas pecinta budaya Aceh.

Selain pertunjukan budaya, kegiatan itu juga menghasilkan dokumentasi puluhan grup Rapai Pase yang akan diterbitkan dalam sebuah buku sebagai bagian dari upaya pelestarian warisan budaya Aceh. Didukung Dana Indonesiana yang dikelola LPDP bersama Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia.(*)

 

 

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.