Serangan Iran Meluas, Kuwait dan Bahrain Digempur Rudal serta Drone, Sirene Darurat Dibunyikan
Eri Ariyanto July 19, 2026 04:44 AM

TRIBUNNEWSMAKER.COM - Konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran semakin memanas dengan eskalasi yang kini meluas ke negara-negara Teluk yang menjadi sekutu Washington.

Setelah AS melancarkan serangan udara terhadap Iran selama tujuh malam berturut-turut, Teheran membalas dengan meluncurkan rudal dan pesawat nirawak ke sejumlah negara di kawasan.

Kuwait, Bahrain, dan Qatar menjadi sasaran dalam gelombang serangan terbaru yang terjadi pada Jumat (17/7/2026) hingga Sabtu (18/7/2026).

Di Kuwait, salah satu pembangkit listrik dan fasilitas penyulingan air dilaporkan terbakar setelah terkena serangan Iran.

Insiden tersebut menyebabkan beberapa unit pembangkit harus dinonaktifkan sehingga memicu gangguan pada infrastruktur energi negara tersebut.

Sementara itu, Bahrain kembali membunyikan sirene peringatan udara dan meminta seluruh warga segera berlindung dari ancaman rudal maupun drone.

Militer Bahrain mengklaim sistem pertahanan udaranya berhasil mencegat dan menghancurkan sejumlah proyektil yang mengarah ke wilayah negara itu.

Di Qatar, pertahanan udara juga diaktifkan untuk menghadapi rentetan rudal Iran, bahkan puing-puing hasil pencegatan dilaporkan melukai seorang anak.

Serangan balasan Iran terjadi setelah AS memperluas operasi militernya dengan menghantam berbagai target strategis, termasuk infrastruktur di sekitar Teheran dan pelabuhan utama Iran.

Ketegangan yang terus meningkat ini memicu kekhawatiran dunia karena berpotensi memperluas perang di Timur Tengah sekaligus mengancam stabilitas jalur pelayaran vital di Selat Hormuz.

Baca juga: Babak Baru Konflik AS vs Iran, Trump Blokade Selat Hormuz dan Gempur Puluhan Target Militer

Seperti diketahui, pasukan Amerika Serikat (AS) melancarkan serangan terhadap Iran untuk malam ketujuh berturut-turut pada Jumat (17/7/2026).

Iran membalas dengan menyerang negara-negara Teluk yang juga sekutu AS di Timur Tengah, Bahrain dan Kuwait.

Kedua negara itu menjadi sasaran serangan pesawat tak berawak dan rudal.

Kuwait Airways mengatakan pada Sabtu (18/7/2026) bahwa mereka telah menjadwal ulang sebagian besar penerbangan setelah negara tersebut untuk sementara menangguhkan operasi di Bandara Internasional Kuwait menyusul serangan tersebut.

Kuwait pada hari Sabtu juga mengatakan Iran menyerang lagi salah satu pembangkit listrik dan airnya.

Serangan Iran mengakibatkan beberapa unit pembangkit listrik dinonaktifkan, sehari setelah serangan serupa.

“Pembangkit listrik dan penyulingan air lainnya menjadi sasaran serangan musuh yang menyebabkan kebakaran di salah satu komponen pembangkit tersebut, yang mengakibatkan dinonaktifkannya beberapa unit pembangkit listrik," kata Kementerian Listrik, Air, dan Energi Terbarukan Kuwait dalam sebuah pernyataan, Sabtu, dilansir Al Arabiya.

RUDAL IRAN - Penampakan rudal Khorramshahr-4 Khaibar missile milik Iran. Korps Garda Revolusi Islam Iran atau Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) kembali memperlihatkan kemampuan militernya di tengah meningkatnya ketegangan kawasan Timur Tengah. IRGC menyatakan bahwa serangan selanjutnya terhadap Israel akan menggunakan rudal balistik dengan hulu ledak seberat sekitar satu ton, terhitung mulai 10 Maret 2026. (Dok./Wartakota)

Bahrain Aktifkan Sirene

Sementara itu, Bahrain mengaktifkan sirene udaranya untuk kedua kalinya pada hari Sabtu.

Bahrain memperingatkan warga untuk berlindung setelah mendeteksi kemungkinan datangnya drone atau rudal.

Militer negara itu mengatakan bahwa pertahanan udara negara tersebut berhasil memukul mundur gelombang serangan Iran.

Sementara seorang jurnalis AFP di Manama melaporkan mendengar ledakan setelah sirene berbunyi.

“Sistem pertahanan udara menggagalkan serangan-serangan tersebut," kata militer dalam sebuah pernyataan, menambahkan bahwa mereka mencegat dan menghancurkan sejumlah serangan udara Iran yang berbahaya.

Iran Serang Qatar

Sekutu AS lainnya, Qatar, telah dua kali memperingatkan warga untuk berlindung karena rentetan rudal Iran menargetkan negara tersebut, Jumat (17/7/2026).

Amerika Serikat (AS) memperluas kampanye serangan udaranya terhadap Iran pada Jumat pagi dengan menghantam lebih banyak jembatan dan meruntuhkan sebuah menara di pelabuhan utama Iran.

Hal itu sebagai bagian dari ancaman Presiden AS Donald Trump untuk mulai menyerang infrastruktur guna menekan Teheran agar melonggarkan cengkeramannya di Selat Hormuz.

Setelah itu, Iran meluncurkan serangan rudal baru terhadap negara-negara sekutu AS di Timur Tengah, termasuk Qatar, mediator utama dalam perang tersebut.

Di Qatar, warga mendengar ledakan di atas kepala saat pertahanan udara menembak untuk mencegat rudal-rudal tersebut.

Dilansir AP News, Kementerian Dalam Negeri Qatar mengatakan puing-puing yang berjatuhan melukai seorang anak.

Qatar, bersama dengan Pakistan, adalah mediator kunci dalam upaya mengakhiri perang Iran.

Namun, pembicaraan telah gagal karena cengkeraman Iran di Selat Hormuz.

Iran juga menargetkan Bahrain dan Kuwait pada Jumat pagi.

Militer Yordania mengatakan telah mencegat tiga rudal yang diluncurkan Iran pada Jumat pagi.

Ledakan juga terdengar pada Jumat pagi di Irbil dan Sulaymaniyah di wilayah Kurdi semi-otonom Irak utara ketika pertahanan udara menargetkan tembakan yang datang.

Pada hari Jumat juga, sebuah kapal tanker diserang saat melintasi Selat Hormuz dengan mengambil rute terdekat ke Oman, kata militer Inggris.

Laporan dari pusat Operasi Perdagangan Maritim Inggris Raya menyatakan bahwa kapal tersebut mengalami kerusakan ringan tanpa ada awak kapal yang terluka.

Iran telah menyerang kapal tanker yang melintas di rute dekat Oman, tetapi belum segera mengakui adanya serangan tersebut.

AS Perluas Serangan

Amerika Serikat (AS) mengintensifkan serangannya yang menargetkan Iran pada Kamis (16/7/2026) pagi waktu setempat.

Serangan AS menghantam target lebih jauh ke utara, sementara pasukan AS juga menembaki sebuah kapal yang dituduh mencoba menerobos blokade angkatan lautnya terhadap Republik Islam tersebut.

Iran langsung membalas dengan tembakan rudal dan drone yang menargetkan Bahrain, Yordania, dan Kuwait sebelum fajar.

Negara-negara ini diketahui memiliki pangkalan militer Amerika Serikat.

Para pejabat Iran mengatakan serangan AS telah menewaskan lebih dari 35 orang dan melukai lebih dari 300 lainnya.

Ketika AS dan Israel melancarkan perang terhadap Iran pada 28 Februari 2026, Teheran secara efektif menutup selat tersebut untuk lalu lintas pengiriman, sebuah langkah yang menyebabkan harga minyak, pupuk, dan banyak barang lainnya melonjak jauh di luar kawasan dan memberi Iran pengaruh besar dalam negosiasi.

Seorang penasihat pemimpin tertinggi Iran, Ali Akbar Velayati, mengisyaratkan rezim teokrasi Iran akan terus memperjuangkan selat tersebut, dan menggambarkan kendali Teheran atas jalur air itu pada hari Kamis sebagai "pencapaian yang sangat berharga."

Serangan udara AS pada Kamis pagi menghantam sekitar Teheran, menurut laporan media pemerintah.

Laporan itu menyebutkan serangan AS menargetkan provinsi Semnan, tempat produksi rudal balistik dan program luar angkasa Iran.

Media Iran juga melaporkan serangan pada Kamis pagi di sekitar provinsi Hamedan, Hormozgan, Khuzestan, Lorestan, Markazi, dan Sistan dan Baluchistan.

(TribunNewsmake.com/TribunNews/Nuryanti)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.