TRIBUNKALTIM.CO - Pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyarankan pihak-pihak yang menganggap harga beras mahal untuk menanam padi sendiri menuai tanggapan dari pegiat perlindungan konsumen.
Ucapan tersebut dinilai memicu perdebatan mengenai hak masyarakat dalam menyampaikan kritik terhadap harga kebutuhan pokok.
Ketua Forum Konsumen Berdaya Indonesia (FKBI) Tulus Abadi berpendapat konsumen berhak mempertanyakan harga beras karena komoditas tersebut merupakan kebutuhan pangan utama masyarakat.
Menurutnya, respons terhadap keluhan publik seharusnya tetap mengedepankan etika serta memberikan penjelasan mengenai faktor yang memengaruhi harga.
Tulus juga menilai kenaikan harga beras perlu ditelusuri lebih jauh untuk memastikan siapa pihak yang paling menikmati keuntungan, apakah petani, pedagang, atau mata rantai distribusi lainnya.
Baca juga: Usai Hotman Paris Singgung Prabowo, Sahroni Langsung Bereaksi: Presiden Pasti Tak Berkenan
Ia berpandangan persoalan tata niaga pangan perlu menjadi perhatian agar harga yang diterima petani dan dibayar konsumen sama-sama mencerminkan rasa keadilan.
"Publik sebagai konsumen berhak bertanya, dan berhak atas harga yang wajar, apalagi untuk komoditas bahan pangan paling strategis, yakni beras," papar Tulus kepada Tribunnews.com, Sabtu (18/7/2026).
Menurutnya, keadilan dan kewajaran harga sangat diperlukan, baik bagi konsumen dan juga petani.
Tetapi, masalahnya, kata Tulus, apakah kenaikan harga beras itu benar dinikmati oleh petani, atau justru dinikmati oleh sekelompok pedagang besar, atau bahkan kelompok tengkulak?
"Patut diurai, bahwa kenaikan harga beras itu merupakan wujud keadilan pasar, ataukah justru adanya persoalan tata niaga yang terdistorsi oleh kelompok midle man?
Sekali lagi, pertanyaan dan keluhan warga sebagai konsumen beras, adalah pertanyaan dan pernyataan yang wajar," papar Tulus.
"Seharusnya tidak dijawab seperti itu (suruh tanam sendiri). Btw (ngomong-ngomong), jangan-jangan nanti kalau harga minyak naik, kemudian publik mempertanyakan, akan dijawab. Silakan masyarakat ngebor minyak sendiri, bikin minyak sendiri," sambung Tulus.
Baca juga: Prabowo Dinilai tak Paham Data Pertanian, CELIOS: Harga Beras Naik, Belum Tentu Petani Sejahtera
Presiden Prabowo Subianto sebelumnya menyampaikan apresiasi kepada para petani Indonesia sekaligus menanggapi anggapan bahwa harga beras dari petani dinilai terlalu mahal.
Pernyataan itu disampaikan Prabowo saat menghadiri Panen Raya TNI di Lanud Abdulrachman Saleh, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Jumat (17/7/2026).
Dalam kesempatan tersebut, Prabowo mengaku bangga terhadap hasil kerja para petani yang dinilainya telah memberikan kontribusi besar bagi ketahanan pangan nasional.
"Saya bangga dengan petani-petani Indonesia. Yang mengatakan beras terlalu mahal, suruh, ikut kau tanam beras," kata Prabowo di hadapan para petani yang hadir.
Ucapan tersebut langsung disambut tepuk tangan para peserta kegiatan.
Selain memberikan penghargaan kepada petani, Prabowo juga menyampaikan apresiasi kepada para nelayan yang menurutnya memiliki peran penting dalam memenuhi kebutuhan pangan masyarakat.
Ia menyebut petani dan nelayan merupakan sosok yang berjasa karena menghasilkan bahan pangan yang dibutuhkan seluruh rakyat Indonesia.
"Terima kasih petani, nelayan Indonesia. Kau, kau adalah pahlawan yang sebenarnya. Kau menghasilkan pangan untuk kita semua," ujarnya.
Prabowo kemudian kembali menyinggung kritik terhadap harga beras yang dinilai terlalu tinggi.
Menurutnya, tidak tepat apabila petani diharapkan menjual hasil panennya dengan harga murah sehingga tidak memperoleh penghasilan yang layak.
Dengan nada berkelakar, ia mengatakan pihak-pihak yang mempermasalahkan pendapatan petani sebaiknya mencoba menanam padi sendiri.
"Kalau petani beras nggak boleh dapat penghasilan yang tinggi, ya suruh mereka tanam padi sendiri itu," ucap Prabowo sambil tertawa.
"Wuenak aja gitu," lanjutnya.
Dalam kegiatan Panen Raya TNI tersebut, Presiden Prabowo turut didampingi sejumlah pejabat pemerintah dan pimpinan TNI.
Hadir di antaranya Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto, Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal Maruli Simanjuntak, Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana Muhamad Ali, serta Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal Tonny Hardjono. (*)