TRIBUNKALTIM.CO - Upaya pencarian terhadap Femas Yani Arianto, pemuda asal Kabupaten Madiun, Jawa Timur, yang diduga memisahkan diri dari rombongan wisata saat mengikuti perjalanan ke Korea Selatan, terus dilakukan.
Hampir tiga pekan setelah menghilang, keberadaan peserta open trip berusia 22 tahun itu masih belum diketahui.
Kasus tersebut kini memasuki babak baru setelah agen perjalanan Berani Backpacker mengumumkan sayembara bagi masyarakat yang dapat membantu menemukan Femas.
Hadiah yang disiapkan pun terbilang menarik, yakni paket liburan gratis ke Singapura dan Malaysia untuk satu keluarga.
Baca juga: 5 Fakta Viral WNI Diduga Kabur saat Open Trip di Korea Selatan, Berawal Pamit Beli Sepatu
Di sisi lain, hilangnya Femas tidak hanya menjadi persoalan pencarian orang. Pihak travel mengaku harus menanggung dampak administratif dan finansial yang cukup besar, mulai dari ancaman denda ratusan juta rupiah hingga risiko dipersulit dalam pengajuan visa rombongan wisata ke Korea Selatan pada masa mendatang.
Perjalanan yang awalnya dirancang sebagai agenda wisata beberapa hari di Negeri Ginseng justru berubah menjadi persoalan serius yang melibatkan keluarga peserta hingga aparat kepolisian.
Marketing sekaligus Tour Leader Berani Backpacker, Dwiky Prayogi, membenarkan pihaknya telah membuka sayembara bagi masyarakat yang mengetahui keberadaan Femas Yani Arianto.
Menurut Dwiky, hadiah tersebut diberikan sebagai bentuk apresiasi kepada siapa saja yang berhasil membantu menemukan peserta open trip tersebut.
"Betul ada sayembara (untuk mencari Femas) Bagi siapa saja yang berhasil menemukan Femas."
"Nanti ada hadiah liburan gratis ke Singapura dan Malaysia untuk satu keluarga boleh gitu. Tapi, kalau keluarganya tujuh bersaudara, ya empat maksimal ya (yang diberangkatkan)," kata Dwiky saat dihubungi dari dapur redaksi Tribunnews di Solo, Jawa Tengah.
Program liburan gratis itu diharapkan dapat memperluas jangkauan informasi sehingga keberadaan Femas dapat segera diketahui.
Berangkat Bersama 39 Peserta Open Trip
Dwiky kemudian menjelaskan kronologi hilangnya Femas sejak awal keberangkatan.
Menurutnya, Berani Backpacker menyelenggarakan perjalanan wisata atau open trip, yakni paket wisata yang diikuti peserta dari berbagai daerah yang bergabung dalam satu rombongan meski tidak saling mengenal sebelumnya.
Rombongan tersebut terdiri atas 39 peserta, termasuk Femas Yani Arianto.
Mereka berangkat dari Indonesia pada 27 Juni 2026 dan tiba di Korea Selatan sehari kemudian.
"Kita sampai di Korea itu tanggal 28 Juni 2026 dan tournya sampai 1 Juli 2026," kata Dwiky.
Selama beberapa hari pertama, seluruh agenda wisata berjalan sesuai rencana.
Berpisah Saat Free Time di Myeongdong
Peristiwa bermula ketika rombongan mengunjungi kawasan Myeongdong, salah satu distrik paling terkenal di Kota Seoul yang dikenal sebagai pusat belanja, kuliner, serta destinasi wisata favorit wisatawan mancanegara.
Di sela perjalanan terdapat sesi free time, yaitu waktu bebas ketika peserta diperbolehkan berjalan sendiri untuk berbelanja maupun menikmati kawasan sekitar sebelum kembali berkumpul sesuai waktu yang telah ditentukan.
Pada momen itulah Femas meminta izin meninggalkan rombongan.
"Femas kemudian bilang kalau dia mau cari sepatu. Maka di situlah berpisah dari rombongan," tambah Dwiky.
Sebelum berpisah, pihak tour leader telah memberikan penjelasan mengenai rute transportasi umum agar Femas dapat kembali ke hotel secara mandiri.
Tak Pernah Kembali ke Hotel
Seiring berjalannya waktu, peserta lain telah kembali ke penginapan.
Namun hingga larut malam, Femas belum juga muncul.
Keesokan harinya situasi semakin mengkhawatirkan karena pemuda asal Kabupaten Madiun tersebut juga tidak memberikan kabar.
Tim Berani Backpacker kemudian berulang kali menghubunginya melalui WhatsApp.
Akan tetapi, pesan yang dikirim tidak pernah memperoleh balasan.
Dwiky mengaku sempat mengira Femas mengalami musibah.
"Di Korea kan banyak klub malamnya. Kita sempat berpikir apa dia pingsan di pinggir jalan atau di mana gitu. Akhirnya kita sama-sama telusuri dari titik berpisah, tapi tidak ketemu," lanjutnya.
Ponsel Masih Sesekali Aktif
Meski tidak pernah memberikan jawaban, ponsel Femas ternyata masih aktif pada waktu-waktu tertentu.
Hal itu diketahui dari perubahan tanda pengiriman pesan WhatsApp.
"Saya dan tim office beberapa kali chat. Chat centang satu, tapi nanti di jam-jam tertentu itu akan centang dua."
"Nanti centang satu lagi, centang dua lagi berulang seperti itu. Jadi memang benar-benar ada waktu-waktu tertentu dia mengaktifkan HP-nya," beber Dwiky.
Kondisi tersebut membuat tim menduga Femas memang masih menggunakan telepon selulernya, tetapi memilih tidak merespons seluruh upaya komunikasi.
Polisi Korea Menilai Bukan Orang Hilang
Karena tidak berhasil menemukan Femas, pihak travel akhirnya melapor kepada aparat kepolisian di Korea Selatan.
Namun laporan tersebut tidak dapat diproses sebagai laporan orang hilang.
Menurut penjelasan Dwiky, kepolisian menilai Femas memisahkan diri dari rombongan secara sadar.
Selain itu, pada saat itu izin tinggal atau visa miliknya masih berlaku sehingga belum dianggap melakukan pelanggaran keimigrasian.
"Jadi dianggap memisahkan diri dari rombongan dengan sadar. Dia juga masih punya masa tinggal yang legal. Masa berlaku visanya masih 15 hari dan baru berakhir pada 12 Juli 2026," lanjut dia.
Kini, hingga Minggu (19/7/2026), Dwiky memastikan Femas telah berstatus overstay.
Overstay adalah kondisi ketika seseorang tetap berada di suatu negara melebihi batas waktu izin tinggal yang diberikan oleh otoritas imigrasi.
Datangi Rumah Orang Tua di Kabupaten Madiun
Setelah seluruh rombongan kembali ke Indonesia, pencarian tidak berhenti.
Dwiky bersama tim mendatangi rumah orang tua Femas di Kabupaten Madiun, Jawa Timur.
Awalnya, ibu Femas mengaku tidak mengetahui keberadaan anaknya.
Bahkan, ia juga menyatakan tidak mengetahui bahwa Femas berangkat ke Korea Selatan.
"Tapi ibu ini jawabannya, 'Saya enggak tahu, saya enggak tahu'. Dari chat dan telepon itu kelihatan si ibu tidak peduli sama sekali terhadap anaknya. Enggak sewajarnya sebagai seorang ibu dia seperti itu."
"Jadi akhirnya kita dari awal pun sudah berasumsi kayak ini enggak beres nih ibunya seperti itu. Akhirnya saya dan tim memutuskan untuk ke rumah beliau," urai Dwiky.
Muncul Dugaan Ada yang Ditutupi
Saat bertemu keluarga, pihak travel mulai menemukan sejumlah kejanggalan.
Dwiky menjelaskan bahwa salah satu syarat pengajuan visa Korea Selatan ialah melampirkan rekening koran dan surat penjamin.
Dalam kasus ini, dokumen tersebut menggunakan identitas ibu Femas.
Namun pada awalnya sang ibu mengaku tidak mengetahui proses tersebut.
Setelah diberikan penjelasan lebih lanjut, akhirnya ia mengakui mengetahui keberangkatan anaknya ke Korea Selatan.
Meski demikian, pihak keluarga tetap tidak dapat memberikan informasi mengenai lokasi Femas.
Pernah Mengikuti Pelatihan Kerja ke Korea
Pihak Berani Backpacker kemudian mencari informasi tambahan dari warga sekitar.
Dari penelusuran tersebut diketahui bahwa Femas pernah mengikuti pendidikan di LPK (Lembaga Pelatihan Kerja) selama sekitar dua tahun.
LPK merupakan lembaga yang memberikan pelatihan keterampilan kerja, termasuk pelatihan bahasa dan persiapan tenaga kerja yang akan bekerja di luar negeri.
Temuan itu memperkuat dugaan pihak travel bahwa Femas sengaja meninggalkan rombongan agar dapat bekerja secara ilegal di Korea Selatan.
"Berarti kan sudah pernah niat ke luar negeri untuk mencari kerja. Memang disayangkannya jika benar kabur untuk mencari kerja lewat jalur enggak resmi," tegas Dwiky.
Travel Mengaku Rugi Ratusan Juta Rupiah
Kasus tersebut membawa dampak besar terhadap Berani Backpacker.
Dwiky mengatakan pihaknya terancam dikenai sanksi administratif dari otoritas Korea Selatan.
"Kita dikenakan denda oleh pihak manajemen visa kurang lebih Rp125 juta. Ini angka minimal, belum visa tour selanjutnya juga bisa terancam dibatalkan. Jadi kerugian bisa jadi ratusan juta nilainya," urai Dwiky.
Selain kerugian finansial, kejadian tersebut juga berpotensi menyulitkan seluruh peserta rombongan ketika mengajukan visa ke Korea Selatan pada masa mendatang.
"Mereka dianggap tidak menjaga satu rombongan. Jadi bisa dipersulit saat mengajukan visa ke Korea."
"Jadi dampaknya sebenarnya besar banget dan ini merugikan banyak orang. Enggak hanya kita sebagai travel, tapi juga merugikan banyak orang. Termasuk untuk negara kita pastinya," tegas Dwiky.