Opini: PKT dan Kita -Catatan Kritis atas Tulisan Konjen Zang Zhisheng
Dion DB Putra July 19, 2026 06:19 AM

Oleh: Tans Feliks
Dosen Universitas Nusa Cendana Kupang, Nusa Tenggara Timur

POS-KUPANG.COM - Tulisan Konsul Jenderal Republik Rakyat Tiongkok (Konjen RRT), Zhang Zhisheng, yang berjudul “105 Tahun, Mengapa Partai Komunis Tiongkok Bisa Berhasil“ di Pos Kupang, tanggal 13 Juli, 2026 (hlm. 2 dan 5), menarik untuk ditanggapi karena, antara lain, berkaitan dengan kita.  

Kita, di sini, dimaknai sebagai bangsa Indonesia dalam tautan dengan relasi damai kita dengan  bangsa lain, terutama RRT, ASEAN, dan negara-negara lain sekitar Laut China Selatan.  

Dalam tulisan itu, tesis Konjen Zhang ini: Partai Komunis Tiongkok (PKT), dalam satu abad lebih usianya, berhasil membuat RRT lebih baik secara domestik dan global.  

Melihat RRT, dalam beberapa dekade terakhir, tesis itu benar.  Oleh karena itu, jika mau menjadi bangsa yang maju dan moderen, kita perlu belajar dari PKT, think-tank keberhasilan fenomal RTT selama ini.  

Baca juga: Opini: Inggris Mengajari Dunia Bermain Sepak Bola, Dunia Mengajari Inggris Cara Menjadi Juara

Walaupun demikian, dalam proses belajar itu, kita juga harus tetap kritis karena PKT, selama 105 tahun terakhir, tidak selalu tampil prima.  

Karena itu, praktik baik, yang dipetik via pembelajaran itu, tetap harus ditempatkan secara proporsional dalam konteks kita masing-masing.  

Untuk Indonesia, misalnya, demokrasi multipartai yang ada saat ini, bukan partai tunggal seperti PKT di RTT, tetap terus dipertahankan.  

Namun, untuk membuat sistem demokrasi multipartai itu lebih efektif, misalnya, dalam pemberantasan korupsi, kita tidak perlu malu untuk meniru gaya PKT, seperti yang digambarkan oleh Konjen Zhang dalam tulisannya, sehingga seperti RTT, Indonesia akan bebas dari korupsi.  

Dalam konteks ini, belajar dari PKT sebuah keniscayaan, tetapi implementasinya tetap perlu disesuaikan dengan filofosi bangsa kita, yaitu Pancasila.  

Belajar dari PKT

Kemajuan pesat RRT kini, seperti yang digambarkan oleh Konjen Zhang dalam tulisannya,  tentu, bukan hasil keringat PKT saja.  

Bahwa PKT punya andil besar dalam memajukan RRT secara luar biasa dalam beberapa dekade terakhir (tesis Konjen Zhang), kita paham.  

Namun kemajuan pesat itu, menurut saya, tidak cukup hanya dengan melihat dinamika PKT dalam 105 tahun terakhir. 

Kemajuan itu berakar kuat dalam budaya Tiongkok dengan sejarahnya yang panjang.  Menjangkau, bahkan, kurun waktu ribuan tahun sebelum Masehi.   

Dalam kurun waktu itu, Tiongkok menjadi salah satu sumber peradaban dan gerakan moral global.  

Dari situ lahir Kong Hu Cu (Konfusius), filsuf Tiongkok yang tersohor itu. Ajarannya, Konfusianisme, tentang moralitas pribadi, etika sosial, dan tata pemerintahan, ikut membentuk dunia seperti sekarang ini; jauh setelah ia wafat tahun 479 SM.   

Pada waktu yang hampir bersamaan, ada Laozi, pendiri Taoisme, yang mangkat sekitar tahun 470 SM.  

Seperti Konfusianisme, prinsip dasar Taoisme, yaitu tao (jalan) yang mengatur alam semesta, kehidupan yang selaras dengan alam melalui wu wei (tindakan tanpa paksaan), dan keseimbangan yin-yang, juga ikut membentuk peradaban global seperti saat ini.  Secara langsung ataupun tidak.  

Selain soal moral, Tiongkok juga adalah soal kreativitas.  Penemuan kertas tahun 105 Masehi oleh Cai Lun, pejabat Dinasti Han, adalah salah satu contohnya.  

Penciptaan  aksara Tionghoa, sekitar 3.500 tahun yang lalu, pada masa Dinasti Shang (1600-1046 SM), dan terciptanya porselen pada masa dinasti yang sama adalah contoh lain kreativitas itu.  

Demikian juga kemampuan membuat mie, sejak 4000 tahun yang lalu, merupakan bukti lain bahwa Tiongkok bangsa kreatif.  Kreativitas itu juga terlihat pada Tembok Besar China sepanjang 21.196 Km.  

Dibangun sejak abad ke-3 SM dan kini menjadi salah satu keajaiban dunia, Situs Warisan Dunia UNESCO.  

Setelah zaman keemasan itu, Tiongkok, memang, seperti berjalan di tempat, terutama dalam beberapa abad terakhir.  

Karena itu, tentang Tiongkok, Napoleon Bonaparte (1769-1821), berkata, “Biarkan Tiongkok tertidur, karena ketika ia bangun, ia akan mengguncang dunia.”  

Dalam beberapa dekade terakhir, Tiongkok, dengan motor penggeraknya PKT, kita tahu, sudah bangun dan duniapun dibuatnya terguncang.  Tercengang.  Jalan tolnya megah dan panjang.  Tahun 2022 sekitar 177.000 Km.  

Kini, mendekati 200.000 Km.   Bandara seperti Beijing Capital, Shanghai Pudong, dan Bejing Daxing, dengan arsitekturnya yang canggih dan megah, termasuk yang terbaik di dunia.  

Pelabuhan lautnya, seperti Shanghai, Ningbo-Zhoushan, dan Qingdao, juga tak kalah hebatnya. Kota-kotanya, seperti Shenzhen dan Guangzhou, begitu gemerlap dengan berbagai gedung pencakar langit yang memesona.

Selain itu, dalam membuat rakyatnya makmur, dalam waktu singkat, RRT jago.  Konjen Zhang menulis, “Di bawah kepemimpinannya (PKT), rakyat Tiongkok mampu menyelesaikan proses industrialisasi yang memakan waktu berabad-abad di negara maju hanya dalam kurun waktu beberapa dekade saja.  

Hal ini melahirkan dua capaian luar biasa: pertumbuhan ekonomi yang sangat pesat dan stabilitas sosial yang terjaga dalam jangka panjang“ (hlm. 2).  

Kemajuan yang mengagumkan itu, terjadi terutama sejak 2012, ketika Xi Jinping memimpin Komite Sentral PKT (hlm. 2).  Sejak itu, PKT “menegakkan disiplin secara ketat, menyempurnakan sistem pengawasan dan tata kelola kelembagaan di lingkungan partai, serta menerapkan sikap tanpa kompromi untuk mencegah dan memberantas tindakan korupsi“ (hlm. 5).  

Dampaknya luar biasa: 4,6 juta kasus diselidiki secara tuntas.  Yang lari ke luar negeri dikejar, ditangkap, dan dikembalikan ke RRT untuk diadili (hlm. 5). 

Dampak lanjutannya, RRT masuk dalam jajaran negara dengan pendapatan per kapita 13.000 dolar AS saat ini.  

Masuk dalam jajaran upper-middle income countries.  Artinya, tinggal sedikit waktu lagi, RRT menjadi negara dengan high income (14.375 dolar AS ke atas).

Kehebatan RRT tidak hanya berhenti dalam dirinya sendiri. “Saat ini,” Konjen Zhang menulis, “Tiongkok menjadi penyumbang dana terbesar kedua bagi operasional PBB dan misi pemeliharaan perdamaian dunia.  

Dalam menangani berbagai permasalahan penting seperti krisis Ukraina dan situasi di Timur Tengah, Tiongkok secara tegas menentang sikap dominasi dan kekuasaan sepihak … ” (hlm. 5).   

Tentang kita, Indonesia dan Tiongkok, disebutnya sebagai negara besar dan bersahabat.  Dengan jejak persahabatan sekitar 1.000 tahun.  

Ke depan, hubungan kita diarahkan “sebagai teladan persatuan yang kokoh, contoh pembangunan bersama, dan garda terdepan kerja sama antarnegara berkembang.  

Langkah ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi rakyat kedua negara, masyarakat di kawasan, dan dunia secara luas” (hlm. 5).

Sampai pada titik ini, PKT dan, kemudian, Xi Jinping, dalam hal pembangunan, harus diakui, telah tampil menjadi “garam dan terang” global.  

Karena itu, daripadanya, kita bisa belajar banyak hal, terutama terkait ini: kreativitas, disiplin, visi pembangunan bangsa, pengentasan kemiskinan, konsistensi dalam pencegahan dan pemberantasan korupsi, serta keikutsertaan aktif dalam membangun relasi internasional yang damai dan saling menguntungkan.  

Namun, apakah itu berarti PKT sempurna dan, karena itu, patut menjadi contoh?

Mengkritisi PKT

Selain hal-hal yang mengagumkan di atas, sejarah, kita tahu, juga mencatat dinamika PKT yang, sayangnya, tidak selalu berterima secara universal.  

Pada masa  Mao Zedong (1893-1976), pendiri dan pemimpin RRT dan Ketua PKT (1949-1976), misalnya, ada 40 hingga 80 juta orang meninggal akibat kebijakannya yang salah.  

Selain itu, ada Tragedi Lapangan Tiananmen, 3-4 Juni 1989, ketika militer Tiongkok dikerahkan untuk melumpuhkan gerakan prodemokrasi yang menewaskan ratusan hingga ribuan korban jiwa.

Itu dua contoh PKT tidak selalu sukses dalam mengatasi persoalan internalnya secara harmonis sesuai ajaran Laozi atau Konfusius.  

Walaupun demikian, tulisan Konjen Zhang di atas melegakan karena dari situ kita, kini dan ke depan, RRT, di bawah komando PKT, berubah: cara-cara yang lebih manusiawi, seirama-sejalan dengan ajaran agung Laozi dan Konfusius itu, (akan) ditempuh untuk mengatasi masalahnya.

Harapan saya, cara-cara itu, kiranya, juga akan diterapkan secara konsisten dalam berelasi dengan negara lain, termasuk negara di seputar Laut China Selatan, yakni ASEAN dan Taiwan.  

Artinya, apapun persoalannya dengan negara lain, RRT, seperti kata Konjen Zhang, akan tetap dengan “tegas menjunjung tinggi semangat  perdamaian, pembangunan, kerja sama, dan keuntungan bersama, serta mempromosikan nilai-nilai yang dianut seluruh umat manusia” (hlm. 5).  

Dengan PKT, saya tidak ragu sedikitpun.  Sebab jutaan orang anggota partai itu pasti orang yang sangat paham bahwa jika tidak menyesuaikan diri sesuai dengan tuntutan zaman, komunisme, seperti fasisme, akan menjadi sejarah masa lalu (baca misalnya, Yuval Noah Harari, 21 Lessons for the 21st Century.  2018.  Random House: New York, hlm. 3-5).

Kepastian tersebut melegakan.  Sebab di situ ada harapan.  Ketika berelasi dengan RRT, dengan PKT sebagai basisnya, tidak akan pernah terjadi relasi buruk, seperti yang kini terjadi di Timur Tengah: perang yang menghancurkan.  

Dengan RRT, saya yakin, tidak akan ada perang seperti itu. Bukankah begitu, Konjen Zhang? (*)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.