Diawali dengan akhir pekan berujung duka, pelajar SMK Pemkab Ponorogo tewas tenggelam di sungai saat memancing.
Selanjutnya Kampung Nelayan Merah Putih Banyuwangi jadi percontohan ASEAN, delegasi takjub konsep wisata kuliner.
Terakhir ratusan monyet ekor panjang turun ke kawasan Telaga Ngebel, Ponorogo, Jawa Timur, karena berkurangnya pakan alami akibat musim kemarau.
Berikut selengkapnya:
Baca juga: Jatim Terpopuler: Usulan Pengasuh Ponpes Darul Ulum soal PBNU hingga Pembunuhan Berencana Nganjuk
Rencana mengisi akhir pekan dengan memancing berakhir tragis bagi Alfian Reza Prasetyo (16), pelajar kelas X SMK Pemkab Ponorogo.
Remaja asal Desa Brahu, Kecamatan Siman, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, itu meninggal dunia setelah tenggelam saat mandi di Sungai Kedung Samijah, Desa Ngindeng, Kecamatan Sawoo, Sabtu (18/7/2026) sore.
Peristiwa tersebut diduga terjadi karena korban tidak mengetahui kondisi kedalaman sungai ketika memutuskan berenang setelah memancing bersama temannya.
Korban sempat dicari oleh warga menggunakan batang bambu setelah rekannya meminta pertolongan.
Namun saat ditemukan di dasar sungai, Alfian sudah dalam kondisi tidak bernyawa.
Salah satu warga, Eko Subiyanto, mengatakan dirinya mengetahui kejadian tersebut setelah mendengar ada orang meminta pertolongan.
Ia kemudian menuju lokasi dan ikut membantu proses pencarian korban.
“Tadi ada orang minta tolong, temannya tenggelam. Saya lari lah ke lokasi. Saya ikut mencari. Ketemu di dasar sungai korbannya dalam kondisi tak bernyawa,” ungkap Eko, Sabtu sore.
Menurutnya, korban datang ke lokasi untuk memancing bersama temannya.
Setelah itu, korban memutuskan mandi karena merasa kepanasan.
Namun karena bukan warga setempat, Alfian diduga tidak mengetahui bahwa bagian sungai tersebut memiliki kedalaman cukup tinggi.
“Kemudian berenang di lokasi. Nah karena orang luar Desa Ngindeng, korban Alfian ini tidak tahu kedalaman sungai. Di sini kedalamannya hampir 3 meter,” jelas Eko.
BACA SELENGKAPNYA >>>
Baca juga: Jatim Terpopuler: Nasib 8 SDN di Ponorogo Tak Dapat Siswa Baru hingga Ledakan di Gupusmu Madiun
Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) Lateng di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, menarik perhatian delegasi internasional dalam forum ASEAN ID Blue, yang membahas pengembangan ekonomi biru di kawasan ASEAN, East Asia Summit (EAS), dan Pacific Islands Forum (PIF).
Kawasan tersebut dipilih sebagai contoh praktik terbaik (best practice) karena dinilai berhasil mengembangkan sektor perikanan berbasis hilirisasi dan pariwisata.
Dalam kunjungan lapangan yang berlangsung pada 17–18 Juli 2026, para delegasi melihat secara langsung bagaimana hasil tangkapan nelayan tidak hanya dipasarkan sebagai bahan mentah, tetapi juga diolah menjadi beragam produk kuliner yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.
Konsep tersebut dinilai mampu menciptakan sumber pendapatan baru bagi masyarakat pesisir sekaligus menjadikan kawasan nelayan sebagai destinasi wisata yang menarik bagi wisatawan.
Selain mengamati proses hilirisasi hasil perikanan, para peserta forum juga meninjau berbagai fasilitas penunjang yang tersedia di KNMP Lateng serta berdialog dengan pelaku usaha dan nelayan setempat.
Pengembangan KNMP Lateng menjadi salah satu contoh implementasi ekonomi biru yang mengintegrasikan sektor perikanan, pemberdayaan masyarakat, dan pariwisata secara berkelanjutan.
Direktur Pemberdayaan Usaha Kementerian Kelautan dan Perikanan, Ali Rahmat Iman Santoso, mengatakan KNMP Lateng dikembangkan sebagai kawasan kampung nelayan modern dengan konsep hilirisasi berbasis wisata kuliner.
Menurutnya, hasil tangkapan nelayan yang dibawa ke kawasan tersebut langsung diolah menjadi berbagai menu kuliner sehingga memberikan nilai tambah dibanding hanya dijual sebagai ikan segar.
“KNMP Banyuwangi berbeda dengan lainnya, mereka fokus pada turisme sehingga lebih mengedepankan wisata kuliner. Hasil tangkapan nelayan langsung dibawa ke sini (KNMP) dan bisa langsung diolah menjadi berbagai macam kuliner,” kata Ali Rahmat Iman Santoso saat berada di KNMP Lateng, Sabtu (18/7/2026).
Selain menawarkan kuliner hasil laut, kawasan KNMP juga dibangun dengan konsep arsitektur yang mengadopsi rumah adat Suku Osing, suku asli Banyuwangi.
Perpaduan desain modern dan kearifan lokal tersebut menghadirkan identitas budaya yang kuat sekaligus memperkuat daya tarik kawasan pesisir sebagai destinasi wisata.
BACA SELENGKAPNYA >>>
Baca juga: Jatim Terpopuler: ASN Tulungagung Bolos Kerja Sebulan hingga Gerai Kopdes Dibangun di Telaga
Kemunculan kawanan monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) di kawasan wisata Telaga Ngebel, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, mendapat perhatian dari Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Timur.
Fenomena turunnya satwa liar tersebut ke kawasan wisata, pasar, hingga permukiman warga diduga terjadi karena berkurangnya ketersediaan pakan alami di habitatnya akibat musim kemarau.
BBKSDA Jawa Timur mengimbau masyarakat maupun wisatawan agar tidak memberikan makanan kepada monyet yang muncul di sekitar Telaga Ngebel.
Kebiasaan tersebut dinilai dapat membuat satwa liar kehilangan perilaku alaminya dan semakin sering turun ke area aktivitas manusia.
“Kami telah memantau. Dan kalau saran kami malah jangan diberi makan,” ungkap Kepala Seksi KSDA Wilayah II Balai Besar KSDA Jawa Timur, Gatot Kuncoro Edy, Sabtu (18/7/2026).
Menurut Gatot, fenomena monyet turun dari kawasan hutan sebenarnya merupakan kejadian yang sering terjadi setiap musim kemarau.
Gatot menjelaskan, habitat alami monyet ekor panjang berada di kawasan TKPH Wilis Barat, RPH Ngebel.
Wilayah tersebut masih memiliki kawasan hutan yang cukup rimbun sebagai tempat hidup satwa tersebut.
Namun, saat musim kemarau, ketersediaan makanan alami di hutan mengalami penurunan sehingga sebagian monyet mencari sumber makanan lain di luar habitatnya.
“Sebenarnya fenomena tahunan mbak ya. Jadi fenomena tahunan. Memang pada musim-musim kemarau ini agak berkurang, pokoknya habis,” katanya.
Ia menegaskan, kondisi tersebut bukan disebabkan karena monyet menjadi jinak kepada manusia, melainkan karena faktor alam berupa keterbatasan makanan.
Salah seorang warga Ngebel, Kepri, juga menyebut turunnya monyet ke kawasan warga biasanya terjadi ketika sumber makanan di hutan mulai sulit ditemukan.
“Kalau makanan habis pasti turun. Ini kan kemarau. Di gunung atau hutan sama makanannya habis makanya turun kesini (Ngebel),” terang Kepri.
Selain melarang pemberian makanan, BBKSDA Jawa Timur juga mengingatkan masyarakat agar tidak terlalu dekat dengan satwa liar tersebut.
Menurut Gatot, meskipun terlihat biasa berinteraksi dengan manusia, monyet ekor panjang tetap memiliki potensi membahayakan apabila merasa terganggu.
BACA SELENGKAPNYA >>>
Informasi lengkap dan menarik lainnya di Tribunjatim.com