TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Gunung Merapi dilaporkan mengalami 4 kali guguran lava ke arah Kali Sat/Putih dengan jarak luncur maksimum 2000 meter.
Hal itu berdasarkan hasil pemantauan BPPTKG Yogyakarta sepanjang periode pengamatan hari ini, Minggu (19/7/2026), pukul 00.00-06.00 WIB.
Untuk aktivitas kegempaan, tercatat 34 kali gempa Guguran dengan amplitudo 2-40 mm dan lama gempa 53.34-162.7 detik.
Selain itu, tercatat 23 kali gempa Hybrid/Fase Banyak dengan amplitudo 2-55 mm, S-P tidak teramati dan lama gempa 24.03-54.03 detik.
Serta 2 kali gempa Vulkanik Dangkal dengan amplitudo 4-8 mm, dan lama gempa 14.7-16.06 detik.
Hingga saat ini, Balai Penyelidikan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) masih menetapkan Level III (Siaga) untuk gunung berapi aktif di perbatasan DIY dan Jawa Tengah tersebut.
Untuk pengamatan visual, Gunung api terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-II.
Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tebal tinggi sekitar 50 meter dari puncak.
Cuaca teramati cerah hingga berawan, angin tenang ke arah utara.
Suhu udara sekitar 14.9-19.1°C. Kelembaban 90-93.1 persen. Tekanan udara 874.7-918 mmHg.
Baca juga: Jalur Pendakian Pasar Bubrah Dinilai Tak Aman Saat Status Merapi Siaga, Ahli: Jangan Naik
Lebih lanjut, BPPTKG Yogyakarta menyampaikan rekomendasi terkait potensi bahaya saat ini berupa guguran lava dan awan panas pada sektor selatan-barat daya meliputi Sungai Boyong sejauh maksimal 5 km, Sungai Bedog, Krasak, Bebeng sejauh maksimal 7 km.
Pada sektor tenggara meliputi Sungai Woro sejauh maksimal 3 km dan Sungai Gendol 5 km.
Sedangkan lontaran material vulkanik bila terjadi letusan eksplosif dapat menjangkau radius 3 km dari puncak.
Data pemantauan menunjukkan suplai magma masih berlangsung yang dapat memicu terjadinya awan panas guguran di dalam daerah potensi bahaya.
Masyarakat pun diimbau agar tidak melakukan kegiatan apapun di daerah potensi bahaya dan mewaspadai bahaya lahar serta awan panas guguran (APG), terutama saat terjadi hujan di seputar Gunung Merapi.
Jika terjadi perubahan aktivitas yang signifikan, maka tingkat aktivitas Gunung Merapi akan segera ditinjau kembali. (*)