TRIBUNPADANG.COM, PADANG - Gurat lelah tidak bisa disembunyikan dari wajah Nurmaini, salah seorang penyintas bencana alam yang kini musti rela menyambung hidup di bilik Hunian Sementara (Huntara) Kapalo Koto, Kecamatan Pauh, Kota Padang.
Saat disambangi TribunPadang.com, pada Sabtu (18/7/2026), perempuan paruh baya ini tengah sibuk merapikan beberapa barang dagangan di warung triplek berukuran mini miliknya yang didirikan tepat di bagian depan huntara.
Langkah ini terpaksa ia ambil demi bisa bertahan hidup, mengingat uluran tangan dan bantuan logistik dari berbagai pihak yang dulunya melimpah, kini sudah mulai menipis seiring berjalannya waktu.
Baca juga: Rumah Hanyut hingga Suami Wafat di Huntara, Penyintas Banjir Padang Berjuang di Warung Darurat
Bagi Nurmaini, berjualan makanan ringan dan minuman seduh adalah satu-satunya pilihan rasional yang tersisa untuk menyambung napas di tengah keterbatasan pengungsian.
Baginya, melayani pembeli yang datang mencicipi dagangannya adalah cara terbaik untuk membunuh sepi sekaligus menyambung napas kehidupan.
"Hanya ini yang bisa saya lakukan sekarang. Mau bekerja berat, tenaga sudah tidak seperti dulu," ujar Nurmaini lirih kepada TribunPadang.com.
Padahal, jika memutar memori sebelum bencana hidrometeorologi melanda kawasan tersebut pada akhir November tahun 2025 lalu, kondisi ekonomi Nurmaini terbilang sangat mapan dan jauh dari kata kekurangan.
Sebelum seluruh asetnya tersapu air bah, ia merupakan seorang pemilik warung nasi Ampera yang cukup dikenal di lingkungannya, lengkap menyediakan berbagai menu sarapan pagi yang selalu ramai pembeli.
Saban hari, dari kepulan asap dapur warung Ampera miliknya yang dulu, Nurmaini mampu mengantongi omzet serta keuntungan bersih yang sangat stabil untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
Baca juga: 3 Sapi Kurban untuk Korban Bencana Disembelih di Huntara Kapalo Koto Padang Hari Ini, 2 Ekor Besok
Namun, roda nasib berputar terlalu cepat, ketika air bah datang melenyapkan bangunan rumah sekaligus tempat usahanya tanpa menyisakan apa pun selain baju yang ada di badan.
Kini, jangankan mengharapkan keuntungan besar dari sepiring nasi Ampera, menjual camilan anak-anak di depan huntara pun sering kali sepi dari pembeli.
Nurmaini membeberkan, laba bersih yang ia peroleh saat ini terbilang sangat tipis, bahkan dalam seharian penuh adakalanya ia hanya mampu mengantongi uang Rp 20 ribu saja.
Kondisi ini kian diperberat lantaran sudah delapan bulan lamanya ia mendekam di Huntara Kapalo Koto tanpa adanya kepastian pemulihan ekonomi yang konkret.
Cobaan hidupnya seolah berlapis, karena di dalam bilik Huntara yang sempit itu pula, tepatnya 50 hari yang lalu, sang suami tercinta mengembuskan napas terakhirnya.
Di tengah jerat kemiskinan pascabencana dan duka mendalam ditinggal pilar hidupnya, Nurmaini kini harus berdiri di atas kakinya sendiri tanpa mau merepotkan orang lain.
Kendati untung dari warung kecilnya kerap kali tidak menentu, ia memilih untuk tetap tabah, enggan mengeluh, dan meyakini bahwa Sang Pencipta telah menyiapkan ketetapan yang jauh lebih baik di masa depan.
“Saya percaya, Tuhan selalu menyiapkan jalan yang lebih baik di depan sana. Tugas saya hanya melangkah dengan sabar," ucapnya lirih.