TRIBUNNEWS.COM - Konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran memasuki babak yang lebih berbahaya setelah Teheran memperluas serangan ke negara-negara sekutu Washington di Timur Tengah.
Dilansir Al Jazeera, Iran melancarkan serangan rudal dan pesawat nirawak (drone) ke sejumlah wilayah yang menjadi lokasi pangkalan militer AS, termasuk Yordania, Bahrain, dan Kuwait.
Serangan tersebut menewaskan dua tentara AS, memicu sirene serangan udara di negara-negara Teluk, serta meningkatkan kekhawatiran bahwa konflik kini telah berkembang menjadi perang kawasan.
Eskalasi itu terjadi ketika operasi militer AS terhadap Iran memasuki pekan kedua, menyusul gagalnya gencatan senjata sementara yang sebelumnya diumumkan Presiden Donald Trump.
Di saat yang sama, pertempuran di sekitar Selat Hormuz—jalur pelayaran yang dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak dunia—semakin memanas, meningkatkan kekhawatiran terhadap stabilitas keamanan dan pasokan energi global.
CNN melaporkan Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengonfirmasi dua anggota militernya tewas saat mempertahankan pangkalan Al-Azraq di Yordania dari serangan rudal balistik dan drone Iran pada 17 Juli.
Selain dua korban tewas, satu personel masih dinyatakan hilang, sementara empat anggota militer lainnya sempat dievakuasi ke rumah sakit sebelum kembali bertugas. Beberapa personel lain mengalami luka ringan.
Baca juga: Serangan Fasilitas Sipil Iran Diduga Bukan Acak, Pengamat Singgung Persiapan Operasi Darat
Insiden tersebut menjadi korban jiwa pertama militer Amerika akibat serangan langsung Iran sejak Maret lalu.
Presiden Donald Trump menyebut, kematian kedua tentaranya sebagai "kehilangan yang sangat menyedihkan".
"Kami sangat menyesalkan hal ini terjadi. Ini demi pengabdian kepada negara kami," ujar Trump kepada NewsNation.
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth juga menyampaikan belasungkawa.
"Semoga Tuhan menyertai kalian, para pahlawan. Pengorbanan mereka hanya memperkuat tekad kita," tulis Hegseth melalui akun X.
Al Jazeera melaporkan, dengan insiden terbaru tersebut, jumlah personel militer Amerika yang tewas sejak konflik kembali pecah meningkat menjadi 16 orang.
Lebih dari 430 personel lainnya dilaporkan mengalami luka-luka dan satu anggota militer masih dinyatakan hilang.
Pakar geopolitik dan keamanan nasional Wibawanto Nugroho Widodo menilai, perkembangan terbaru menunjukkan konflik AS-Iran tidak lagi sekadar saling membalas serangan militer.
Menurutnya, kedua negara kini memasuki fase persaingan strategis untuk menunjukkan dominasi di kawasan Teluk Persia.
"Sekarang ini bergeser menjadi kompetisi strategis multidimensional," ujar Wibawanto dalam wawancara di Kompas TV, Jumat (17/7/2026).
"Masing-masing ingin menunjukkan bahwa mereka masih memiliki kredibilitas dan disegani, mampu mengendalikan kondisi di Teluk Persia, mempunyai kemampuan secara de facto mengendalikan Selat Hormuz, serta menentukan regional security complex," lanjutnya.
Ia menilai, meluasnya sasaran serangan ke negara-negara yang menjadi tuan rumah pangkalan militer AS menunjukkan Iran ingin meningkatkan biaya politik dan militer yang harus ditanggung Washington dan sekutu-sekutunya.
Baca juga: Serangan Iran ke Sekutu AS: Picu Kebakaran di Pembangkit Listrik Kuwait, Bahrain Aktifkan Sirene
Di sisi lain, AS juga berupaya mempertahankan kredibilitas militernya sebagai kekuatan utama di kawasan melalui serangan balasan yang terus berlangsung.
Analisis tersebut, terlihat dari meluasnya target serangan Iran.
Dikutip dari The Guardian, Bahrain mengaktifkan sirene serangan udara dan meminta seluruh warga segera berlindung setelah sistem pertahanannya mendeteksi ancaman rudal dan drone.
Sementara itu, Kuwait menutup sementara wilayah udaranya setelah berhasil mencegat sejumlah rudal Iran yang mengarah ke wilayah negara tersebut.
Pemerintah Kuwait menuduh Iran sengaja menargetkan infrastruktur sipil, termasuk pembangkit listrik, fasilitas desalinasi air, hingga instalasi energi.
Bagi Kuwait, fasilitas desalinasi memiliki arti vital karena sekitar 90 persen kebutuhan air minum negara itu berasal dari hasil penyulingan air laut.
Kuwait Petroleum Corporation juga melaporkan adanya kerusakan material pada sejumlah fasilitas minyak akibat serangan tersebut.
Selain itu, beberapa petugas pemadam kebakaran dan seorang pekerja dilaporkan mengalami luka saat berupaya memadamkan kebakaran yang dipicu serangan.
Sekretaris Jenderal Dewan Kerja Sama Teluk (GCC), Jasem Mohamed Al-Budaiwi, mengecam keras aksi Iran.
Ia menyebut, penargetan terhadap infrastruktur sipil sebagai pelanggaran serius terhadap hukum internasional yang dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang.
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim, serangan mereka berhasil menghantam sejumlah fasilitas militer Amerika Serikat di kawasan.
Media pemerintah Iran menyebut pangkalan Al-Azraq di Yordania, Camp Arifjan dan pangkalan udara Ali Al Salem di Kuwait, hingga pangkalan udara Sheikh Isa di Bahrain menjadi sasaran rudal dan drone Iran.
IRGC juga mengklaim berhasil menghancurkan sedikitnya dua pesawat tempur Amerika Serikat dan tiga pesawat lainnya.
Namun, hingga kini Washington belum mengonfirmasi klaim tersebut.
Baca juga: Iran Makin Unjuk Taring: Bertekad Balas Agresi AS dengan Cepat, Tegas dan Proporsional
Iran juga mengeklaim dua kapal tanker minyak di Selat Hormuz meledak setelah menabrak ranjau yang disebut dipasang atas arahan badan intelijen Amerika Serikat.
Militer AS membantah tuduhan tersebut dan menyebut klaim Iran tidak benar.
Di tengah klaim tersebut, militer Amerika Serikat justru meningkatkan operasi militernya.
CENTCOM menyatakan, serangan udara terbaru menyasar pusat logistik militer Iran, gudang senjata bawah tanah, fasilitas pengawasan, hingga kemampuan maritim Teheran.
Menurut militer AS, operasi tersebut bertujuan terus melemahkan kemampuan militer Iran.
Media pemerintah Iran melaporkan ledakan terjadi di sejumlah kota, termasuk Sirik, Ahvaz, dan Yazd.
Sementara itu, Kementerian Kesehatan Iran menyebut sedikitnya 50 orang tewas dan lebih dari 500 lainnya terluka sejak gelombang serangan terbaru berlangsung.
Pemerintah Iran juga mengakui untuk pertama kalinya bahwa serangan Amerika telah merusak sebagian infrastruktur kelistrikan di wilayah selatan negara itu.
Di tengah meningkatnya tekanan militer, penasihat senior Pemimpin Tertinggi Iran, Mayor Jenderal Mohsen Rezaee, memperingatkan bahwa Teheran siap meningkatkan operasi militernya apabila serangan Amerika Serikat terus berlanjut.
"Iran tidak akan lagi membatasi diri pada respons balasan yang setara. Tidak ada lagi batas politik yang akan aman," ujar Rezaee seperti dikutip media pemerintah Iran.
Pernyataan tersebut, memperkuat kekhawatiran bahwa konflik telah bergeser dari perang terbatas menjadi konfrontasi yang berpotensi menyeret semakin banyak negara di Timur Tengah.
Baca juga: Setelah Hormuz, Iran Bidik Bab al-Mandeb, Ancaman Houthi Bisa Lumpuhkan Jalur Perdagangan Dunia
Dengan serangan yang kini menjangkau negara-negara sekutu AS di kawasan Teluk, peluang tercapainya deeskalasi dalam waktu dekat dinilai semakin kecil.
Situasi tersebut juga meningkatkan risiko gangguan terhadap jalur perdagangan energi global, terutama di Selat Hormuz yang menjadi salah satu titik paling strategis bagi distribusi minyak dunia.
(Tribunnews.com/Andari Wulan Nugrahani)