SURYAMALANG.COM, KABUPATEN MOJOKERTO - Gedung SDN Pandankrajan 1 di Kecamatan Kemlagi, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, kondisinya kian memprihatinkan, atap nyaris ambruk hingga tidak ada toilet untuk siswa.
Terdapat dua ruangan yang ditutup total tidak digunakan, akibat kerusakan parah di bagian tembok dan atap bangunan.
Kondisi ini memaksa siswa dipindahkan ke ruangan kelas yang lebih aman.
Mirisnya, kerusakan bangunan sekolah di pelosok perbatasan antara Kabupaten Mojokerto dengan Kabupaten Jombang ini tak tersentuh prioritas perbaikan oleh pemerintah setempat.
Kepala SDN Pandankrajan 1, Juwono menjelaskan, dirinya sudah mengajukan permohonan perbaikan gedung sekolah pada periode tahun 2023 silam.
Saat itu, ia baru menjabat di sekolah ini.
"Ya memang sepertinya ini kondisinya bisa dilihat, saya sudah mengajukan (Perbaikan), WC saja tidak punya, anak-anak kalau membutuhkan kamar mandi itu pasti pulang ke rumahnya."
"Begitu pun dengan guru, mereka numpang ke warga terdekat atau pulang ke rumah karena tidak ada toilet," ujar Juwono kepada SURYAMALANG.COM, Minggu (19/7/2026).
Baca juga: Hari Keempat Kebakaran Hutan Tahura R Soerjo Mojokerto, Tersisa 2 Titik Api
Menurutnya, terdapat kamar mandi di sekolahnya namun kondisinya sudah lama rusak, tidak dapat digunakan.
Tidak adanya responS dari pemerintah daerah, para guru pun berinisiatif patungan membuat bangunan sederhana, untuk kamar mandi dan tempat salat.
Kamar mandi hasil swadaya ini berada persis di belakang ruangan guru.
"Para guru saya ajak urunan (patungan) buat kamar mandi yang juga untuk siswa."
"Kamar mandi cuma satu, jadi satu guru dengan murid."
"Supaya anak-anak aman, tidak lari-lari pulang kalau pas butuh kamar mandi," ungkap Kepsek Juwono.
Juwono menyebut, di sekolah ini tidak ada pagar keliling, berbatasan langsung dengan jalan beton.
Para guru secara bertahap membuat pagar kayu dari dana patungan.
"Dari dulu tidak ada pagar sekolah, ini buat pagar kayu masih tiang pancang agar aman untuk siswa," jelasnya.
Minimnya fasilitas sekolah diduga menjadi salah satu penyebab, SDN Pandankrajan 1 tidak mendapat siswa baru tahun ajaran 2006/2027.
Baca juga: Lokasi Kebakaran Hutan di Tahura R Soerjo Mojokerto Sulit Dijangkau, Proses Pemadaman Terhambat
Namun dikatakan Juwono, bahwa keterbatasan ini bukan faktor utama sekolahnya tidak memperoleh siswa baru.
"Tidak juga, karena itu dari domisili dan memang tidak ada anak usia SD di sini. Kan ada 3 sekolah di satu desa letaknya berdekatan," pungkasnya.
Juwono berharap, SDN Pandankrajan 1 dapat terus dipertahankan meskipun terdapat 3 lembaga pendidikan dasar di satu desa.
"Masyarakat sudah mau ke sini yang dekat-dekat, dan harapan saya dari dinas harus memperhatikan (sekolah) ini."
"Kalau melihat sekolah dari luar, orang tua siswa kan juga merasa tidak nyaman dan khawatir anaknya."
"Harapannya, ada perbaikan fisik dan kebutuhan pembelajaran di ruangan kelas harus ada," tutupnya.
Ika Prianti (38) mantan guru kelas I SDN Pandankrajan 1 mengaku, bangunan di sekolahnya memang memprihatinkan terutama tidak ada kamar mandi untuk siswa. Tidak ada pagar sekolah untuk keamanan siswa.
"Sudah lama sejak saya mengajar di sini sekitar tahun 2021, tidak ada kamar mandi atau sudah rusak tidak layak dipakai."
"Sekarang anak-anak kalau mau ke kamar mandi ke kantor guru," tandasnya.
Ika menambahkan, ketiadaan fasiltas di sekolah ini disinyalir turut mempengaruhi minat orangtua menyekolahkan anaknya di SDN Pandankrajan 1.
Dirinya berharap ada perhatian serius dari pemerintah untuk perbaikan gedung, dan sarana prasarana di sekolahnya.
Sebelumnya, Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Kabupaten Mojokerto, Amsar Azhari Siregar mengkonfirmasi, pihaknya telah berupaya memantau pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) tahun 2026.
"Dinas Pendidikan terus memantau pelaksanaan SPMB di seluruh satuan pendidikan."
"Terkait adanya sekolah yang belum memperoleh peserta didik baru, hal tersebut akan kami evaluasi," kata Amsar.
Dirinya menerangkan, faktor penyebab lembaga pendidikan dalam naungan Pemerintah Daerah (Pemda) mengalami kekosongan siswa baru.
"Karena dipengaruhi berbagai faktor, seperti kondisi demografi, persebaran penduduk dan pilihan masyarakat," jelas Amsar Mantan Camat Pungging Tersebut.
Amsar menegaskan, Dispendik Kabupaten Mojokerto akan melakukan pendampingan terhadap lembaga pendidikan yang terdampak kekurangan siswa.
Dirinya juga memastikan pelayanan pendidikan di sekolah yang bersangkutan tetap berjalan optimal.
"Kami akan melakukan pendampingan kepada sekolah yang bersangkutan, agar layanan pendidikan tetap berjalan dengan baik," tutupnya.
Ditambahkan Amsar, nantinya hasil evaluasi sekolah yang tidak memperoleh murid baru akan dijadikan acuan dalam membuat kebijakan untuk memperkuat layanan pendidikan di Kabupaten Mojokerto.
"Hasil evaluasi ini juga akan menjadi bahan penyusunan kebijakan, untuk memperkuat pemerataan layanan pendidikan di Kabupaten Mojokerto," tukas Amsar.
Baca juga: Ribuan Wisatawan Mendaki Bukit Cendono Mojokerto saat Musim Liburan Sekolah