TRIBUN MANADO.COM, Manado - Sekitar 60 remaja, Putra-Putri Altar (PPA) dan Orang Muda Katolik (OMK) Paroki Hati Kudus Yesus Karombasan mengikuti kegiatan light talkshow bertajuk “Love Shouldn't Hurt: Growing with Respect, Healthy Relationships, Body Safety, and Responsible Choices” di Aula Pastoran Gereja Katolik Paroki Hati Kudus Yesus Karombasan, Kelurahan Karombasan Utara, Kecamatan Wanea, Kota Manado, Provinsi Sulawesi Utara, Minggu (19/7/2026).
Dalam rilis kepada Tribunmanado.com disebutkan bahwa kegiatan yang diselenggarakan oleh Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI) Cabang Hati Kudus Yesus Karombasan bekerja sama dengan Tim Katekese Paroki Hati Kudus Yesus Karombasan ini menghadirkan tiga narasumber kompeten dari bidang kesehatan jiwa, kesehatan reproduksi, dan kesehatan kulit serta kelamin.
Kegiatan dikemas secara interaktif melalui dialog, tanya jawab anonim, diskusi kelompok, serta edukasi berbasis kasus yang dekat dengan kehidupan generasi muda di era digital.
Tema yang diangkat dinilai sangat relevan dengan berbagai tantangan yang dihadapi remaja saat ini, mulai dari relasi yang tidak sehat (toxic relationship), perundungan (bullying), kekerasan dalam pacaran, pelecehan seksual, hingga penyalahgunaan media digital.
Dalam sambutannya, Pastor Paroki Hati Kudus Yesus Karombasan, RP Herry Zet Purasa MSC, menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada WKRI serta Tim Katekese yang telah menghadirkan ruang belajar yang aman bagi kaum muda.
"Saya mengapresiasi dan berterima kasih kepada Wanita Katolik RI dan Tim Katekese Paroki yang telah menginisiasi kegiatan yang sangat penting ini,” kata dia.
Menurut dia, di tengah perkembangan teknologi dan dunia digital yang begitu cepat, generasi muda membutuhkan pendampingan yang tepat agar mampu membangun relasi yang sehat, menghargai diri sendiri, dan menjaga martabatnya sebagai citra Allah.
“Saya berharap kegiatan seperti ini terus dilaksanakan secara berkelanjutan demi menyelamatkan generasi muda dan masa depan mereka," tekannya.
Membangun Relasi Sehat Tanpa Kekerasan
Sesi pertama dibawakan oleh dr Linny Liando, Sp.KJ (K), psikiater anak dan remaja, yang mengangkat tema “Love Shouldn't Hurt: Membangun Relasi yang Sehat Tanpa Kekerasan.”
Ia menjelaskan bahwa setiap manusia membutuhkan relasi, tetapi tidak semua relasi membawa pertumbuhan yang sehat. Hubungan yang sehat harus ditandai oleh rasa aman, penghargaan, kepercayaan, dan dukungan.
Menurutnya, banyak remaja sering tidak menyadari bahwa berbagai bentuk perilaku seperti mengontrol pasangan, posesif, manipulatif, meminta kata sandi media sosial, hingga mengisolasi seseorang dari teman dan keluarga merupakan tanda-tanda hubungan yang tidak sehat.
"Cinta yang sehat tidak membuat seseorang kehilangan dirinya sendiri. Cinta yang sehat menghormati, mendengarkan, melindungi, dan membantu kita bertumbuh. Jika sebuah hubungan membuat kita hidup dalam ketakutan, tekanan, atau kehilangan harga diri, maka itu bukanlah cinta yang sesungguhnya," ujar dia.
Ia juga mengingatkan peserta mengenai fenomena digital abuse yang semakin marak di kalangan remaja, seperti memaksa video call, mengawasi lokasi, membaca pesan pribadi, hingga mengancam menyebarkan foto atau informasi pribadi.
Tubuhku Berharga dan Harus Dilindungi
Pada sesi kedua, dr Joanna, SpOG membawakan materi tentang pubertas, kesehatan reproduksi, dan body safety.
Ia menekankan pentingnya pemahaman bahwa setiap anak dan remaja memiliki hak atas tubuhnya sendiri serta berhak mengatakan "tidak" terhadap segala bentuk sentuhan atau perlakuan yang membuat tidak nyaman.
"Tubuh adalah anugerah Tuhan yang sangat berharga. Karena itu setiap orang berhak menjaga batasannya, mengatakan tidak ketika merasa tidak nyaman, dan mencari pertolongan jika mengalami kekerasan atau pelecehan. Tidak ada seorang pun yang berhak melanggar martabat tubuh orang lain," tekannya.
Ia mengajak para peserta untuk berani berbicara kepada orang tua, guru, pastor, pembina OMK, atau tenaga profesional apabila mengalami atau menyaksikan tindakan yang mengarah pada kekerasan seksual maupun perundungan.
Pilihan Bijak untuk Masa Depan yang Sehat
Materi ketiga disampaikan oleh dr Ch Meilany Korompis, M.Kes., Sp.DVE dengan tema “Smart Choices for a Healthy Future: Seksualitas Sehat dan Infeksi Menular Seksual (IMS)”.
Ia menjelaskan berbagai jenis IMS, cara penularan, kelompok berisiko, gejala, serta langkah-langkah pencegahannya.
Dalam paparannya, ia menegaskan bahwa perilaku seksual yang bertanggung jawab merupakan bentuk penghormatan terhadap diri sendiri dan masa depan.
"Pilihan yang kita ambil hari ini akan menentukan kualitas hidup kita di masa depan. Karena itu generasi muda perlu berani mengatakan tidak pada perilaku berisiko dan membangun gaya hidup yang sehat, bertanggung jawab, serta sesuai dengan nilai-nilai moral yang baik," ungkapnya.
Ia juga menekankan pentingnya edukasi yang benar mengenai kesehatan reproduksi agar remaja tidak memperoleh informasi dari sumber yang keliru.
Implementasi Program Laskar Tanna
Ketua WKRI Cabang Hati Kudus Yesus Karombasan, dr Maria Oratmangun, SpM, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan program tahunan menjelang Hari Anak Nasional sekaligus bagian dari implementasi gerakan Laskar Tanna (Laskar Santa Anna) yang dikembangkan WKRI sebagai satuan tugas pencegahan dan perlindungan perempuan, anak, serta kelompok rentan dari berbagai bentuk kekerasan.
"Melalui kegiatan ini kami ingin menghadirkan ruang aman bagi anak-anak dan kaum muda untuk belajar, berdialog, dan memahami nilai dirinya. Laskar Tanna hadir bukan hanya untuk merespons kasus kekerasan, tetapi juga membangun kesadaran sejak dini agar generasi muda mampu melindungi dirinya dan menghargai sesama," jelas dia.
Menurutnya, di tingkat Sulawesi Utara, semangat Laskar Tanna terus dikembangkan melalui berbagai edukasi, kampanye, pelatihan kader, dan komitmen bersama untuk menolak segala bentuk kekerasan terhadap perempuan dan anak.
Katekese yang Menyentuh Kehidupan Nyata
Ketua Tim Katekese Paroki Hati Kudus Yesus Karombasan, Herry Mety, turut menyampaikan apresiasi kepada WKRI, para narasumber, pastor paroki, dan seluruh peserta yang terlibat aktif dalam kegiatan tersebut.
Menurutnya, katekese Gereja tidak hanya berbicara tentang Kitab Suci, teologi, dan liturgi, tetapi juga tentang bagaimana iman diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.
"Katekese bukan hanya soal memahami ajaran iman secara teoritis, tetapi bagaimana iman itu diwujudkan dalam praksis pastoral yang nyata. Tema relasi sehat, perlindungan diri, penghormatan terhadap tubuh, dan pencegahan kekerasan merupakan bagian dari upaya Gereja menjaga harkat dan martabat manusia, khususnya generasi muda Katolik," jelas Hery.
Ia berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan secara berkala dengan format yang lebih variatif.
"Kami berharap kegiatan seperti ini terus berlanjut karena sangat dibutuhkan oleh kaum muda. Ke depan, tidak menutup kemungkinan kegiatan-kegiatan edukatif seperti ini juga dapat dilaksanakan secara outdoor sehingga semakin menarik dan menjangkau lebih banyak peserta," kata dia.
Kegiatan yang berlangsung dalam suasana hangat, terbuka, dan penuh antusiasme tersebut ditutup dengan sesi refleksi bersama.
Para peserta diajak menyadari bahwa cinta sejati tidak pernah menyakiti, melainkan membangun, menghormati, melindungi, dan membantu seseorang bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik.
Sebagaimana pesan utama yang terus digaungkan sepanjang kegiatan: "Kamu berharga, tubuhmu berharga, dan cintamu berharga. Jangan biarkan siapa pun menyakiti hatimu."