Laporan Wartawan Serambi Indonesia Rahmad Wiguna | Aceh Tamiang
SERAMBINEWS.COM, KUALASIMPANG - Krisis bahan bakar minyak (BBM) di Aceh Tamiang berdampak luas terhadap laju perekonomian di daerah ini.
Sektor yang paling terdampak merupakan usaha pengangkutan barang yang bakal disusul naiknya harga kebutuhan pangan.
Abdul Gani, pengusaha angkutan asal Kota Kualasimpang menyampaikan pihaknya terpaksa menaikan tarif lebih 100 persen pasca-buruknya distribusi BBM dua pekan terakhir.
Bila sebelumnya tarif Medan ke Kota Kualasimpang hanya Rp3 juta, kini melonjak tajam menjadi Rp7 juta.
“Naiknya bertahap, dari tiga juta setengah dulu, habis itu lima juta, dan sekarang sudah tujuh juta,” kata Gani, Minggu (19/7/2026).
Kenaikan ini sangat beralasan karena untuk menutup biaya ekstra selama truk tertahan di Medan, Sumatera Utara. Gani menyampaikan selama ini truknya hanya membutuhkan tiga hari untuk bongkar muat dari Medan ke Kota Kualasimpang. Namun krisis BBM menyebabkan truknya tertahan selama 10 hari.
“Rata-rata satu hari kebutuhan sopir dan kernet Rp200 ribu, jadi kalau mereka 10 hari di Medan, sudah membengkak Rp2 juta,” ungkapnya.
Baca juga: Krisis BBM Hantam Aceh Tamiang, Proyek Pemulihan Pascabanjir Terancam Lumpuh Total
Krisis BBM ini diungkapnya menciptakan situasi yang sangat rumit dan menyulitkan bisnis yang sudah dilakoninya belasan tahun. Beberapa kali truknya harus parkir di Belawan, Sumatera Utara tanpa kejelasan kapan barang dari Jawa masuk ke Pelabuhan.
“Kami bawa barang pecah belah, barang dibawa pakai kapal ke Belawan, tapi karena BBM lagi susah, kapal pun jarang masuk,” kata dia.
Pengusaha angkutan akhirnya memilih memarkirkan truknya sebagai Langkah efisiensi. Kebijakan ini tentu membuat pasokan barang dari Medan untuk kebutuhan di Kualasimpang berkurang dan dikhawatirkan memicu keniakan harga yang sangat tajam.
“Kami lihat situasi dulu, kalau memang belum ada kejelasan, terpaksa parkir panjang,” ucapnya. (*)