Laporan Wartawan TribunLombok.com, Ahmad Wawan Sugandika
TRIBUNLOMBOK.COM, LOMBOK TENGAH - Buntut kerusuhan pada ajang Final Volu pada Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Nusa Tenggara Barat (NTB) yang terjadi pada 18 Juli 2026.
Sebanyak 14 atlet dan ofisial dari tim kabupaten Dompu dilaporkan ke polisi.
Pelaporan ini didasari pada wasit yang memimpin jalannya pertandingan sempat menerima pukulan dan lemparan bangku saat kerusuhan terjadi.
“Jumlahnya lebih dari 10 orang, atlet dan official ada 14 orang (yang dilaporkan),” ucap Kasi Humas Polres Lombok Tengah, Iptu Lalu Brata Kusnadi, Senin (20/7/2026).
Brata mengungkap permasalahan dipicu pukulan bola dari tim Dompu yang sempat dianulir wasit.
“Nah, hal inilah yang menimbulkan adanya pertentangan dan perbedaan sehingga ada rasa ketidakpuasan dari tim atau pemain dari Dompu dan terjadi accident itu,” katanya.
Baca juga: Porprov NTB 2026 Diwarnai Kericuhan dan Protes, Ketua KONI Sebut sebagai Ekspresi Gairah Juara
Pihak Polres Lombok Tengah juga sempat mengamankan belasan atlet dan ofisial tersebut.
Sempat juga dilakukan mediasi guna mendamaikan persoalan yang terjadi, namun proses hukum sampai saat ini masih berlanjut.
“Penyebabnya yang dipukul itu dia luka-luka, kemudian keluarganya melapor ke kami,” kata Brata.
Saat ini, pihak kepolisian masih mendalami kasus tersebut, pihaknya juga sudah meminta keterangan sejumlah saksi guna mendukung proses penyelidikan lebih lanjut.
“Ini (Laporan) sedang kita dalami, proses masih proses penyelidikan,“ pungkasnya.
Laga yang seharusnya menjadi pesta olahraga ini justru berubah menjadi ajang aksi saling dorong dan lempar kursi di tengah lapangan.
Insiden memanas saat Lombok Barat tengah unggul dua set yang kemudian memuncak ketika wasit memberikan poin kepada Lombok Barat karena pemain Dompu dinilai melakukan pelanggaran double.
Keputusan tersebut tidak diterima yang kemudian memicu protes keras hingga terjadi kontak fisik yang melibatkan pemain serta ofisial.
Dalam rekaman video yang beredar, terlihat suasana stadion menjadi tidak kondusif dengan benda-benda yang melayang ke arah area pertandingan.
Situasi baru bisa dikendalikan setelah aparat keamanan dan panitia turun tangan untuk meredam massa.
(*)