TRIBUNNEWS.COM - Berawal dari keresahan melihat pertunjukan teater yang lebih banyak dinikmati kalangan tertentu, Komunitas Teater Sandilara memilih jalan lain.
Sejak berdiri pada 2013, komunitas ini konsisten menghadirkan pertunjukan yang lebih dekat dengan masyarakat melalui konsep pentas keliling kampung.
Pendiri sekaligus penulis naskah dan sutradara Teater Sandilara, Idham Ardi Cahyo (35), mengatakan gagasan tersebut lahir karena saat itu sebagian besar kelompok teater lebih sering tampil di ruang-ruang seni dengan penonton yang didominasi para pegiat teater. Kondisi tersebut membuat masyarakat umum merasa asing dan enggan datang menyaksikan pertunjukan.
"Pada 2013 kebanyakan kelompok teater berpentas berfokus pada estetikanya atau tampil di kantong-kantong seni. Penontonnya ya penontonnya sendiri. Penonton awam menjadi segan menonton karena tidak terbiasa dan tidak merasa disapa. Karena itu saya ingin membuat pertunjukan untuk masyarakat umum melalui pentas keliling kampung," ujar Idham saat ditemui Tribunnews.com, Senin (20/7/2026).
Berangkat dari semangat tersebut, Teater Sandilara mengusung visi menghadirkan seni teater yang dapat diterima seluruh lapisan masyarakat. Misi itu diwujudkan melalui pementasan keliling kampung yang hingga kini menjadi ciri khas komunitas tersebut.
Nama "Sandilara" sendiri merupakan plesetan dari kata "sandiwara". Namun, menurut Idham, nama tersebut juga memiliki makna filosofis yang mendalam.
"Sandilara merupakan kode rasa sakit. Dalam konteks teater, tubuh itu adalah tubuh kebudayaan. Ketika ada yang tidak benar dalam kebudayaan, Sandilara menjadi sinyal atau jeritan atas rasa sakit itu," jelasnya.
Tidak hanya aktif menggelar pertunjukan, Sandilara kini juga mengembangkan berbagai program pendidikan teater.
Komunitas tersebut membuka kelas akting melalui Aktif Studio, memberikan pelatihan kepada kelompok teater tingkat SMA, hingga membimbing anggota baru yang ingin mempelajari seni peran.
Setiap produksi diawali dengan latihan rutin. Dari proses tersebut dipilih para aktor yang akan tampil dalam pementasan, kemudian dilanjutkan dengan penyusunan naskah hingga latihan intensif menjelang hari pertunjukan.
Baca juga: Teater KPK Sakit Jiwa Digelar di Gedung Merah Putih, Soroti Kasus Blueray Cargo
Menurut Idham, setiap pementasan memiliki cerita, proses, dan makna tersendiri sehingga tidak ada satu pun pertunjukan yang dianggap paling berkesan.
"Ciri khas kami menggunakan bahasa sehari-hari untuk menyampaikan tema-tema besar. Properti yang digunakan juga sederhana sehingga penonton lebih fokus pada cerita dan permainan aktor," katanya.
Pendekatan sederhana tersebut kemudian menjadi identitas Sandilara dalam setiap pementasannya.
Strategi itu dinilai berhasil menarik perhatian masyarakat. Tak sedikit penonton yang kembali datang untuk menyaksikan pertunjukan Sandilara berikutnya.
Di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital, mempertahankan eksistensi teater menjadi tantangan tersendiri.
Meski demikian, Sandilara tetap berupaya menghadirkan pengalaman menyaksikan pertunjukan secara langsung yang tidak dapat digantikan oleh layar digital.
"Era digital membuat masyarakat terbiasa menikmati hiburan lewat layar. Kami justru ingin mempertahankan pengalaman bertemu langsung antara pemain dan penonton, baik dalam latihan maupun pementasan," ujarnya.
Untuk menarik minat generasi muda, Sandilara menghadirkan pertunjukan yang mudah dipahami tanpa menghilangkan kedalaman makna.
"Setiap karya memiliki beberapa lapisan makna. Penonton bisa menikmati keseruannya saja, tetapi juga bisa menggali makna yang lebih dalam," tambahnya.
Selain bekerja sama dengan sejumlah sekolah menengah atas dalam pendampingan lomba teater, komunitas ini juga terbuka bagi siapa saja yang ingin bergabung.
Calon anggota dapat mengikuti latihan rutin atau menghubungi akun media sosial Teater Sandilara.
Dalam waktu dekat, Sandilara akan kembali membuka kelas akting untuk masyarakat umum.
Selain itu, pada Oktober mendatang komunitas tersebut berencana menggelar pementasan kolosal bertajuk "Bahasa Jawa Ora Bisa Ora" yang melibatkan berbagai kelompok teater binaan Sandilara serta peserta kelas akting.
Pertunjukan dijadwalkan berlangsung di Teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah dan Taman Budaya Sukoharjo, meski tanggal pelaksanaannya masih menunggu kepastian.
Selama lebih dari satu dekade berkarya, Sandilara telah mementaskan sekitar 50 pertunjukan.
Dalam setahun, komunitas tersebut sedikitnya menggelar dua pementasan dan pada periode tertentu pernah mencapai sepuluh pertunjukan.
Di balik konsistensinya, persoalan pendanaan masih menjadi tantangan yang terus dihadapi. Namun, menurut Idham, setiap produksi selalu disesuaikan dengan kebutuhan artistik sehingga keterbatasan anggaran tidak mengurangi kualitas pertunjukan.
Konsistensi tersebut turut mengantarkan Sandilara meraih berbagai penghargaan. Di antaranya juara monolog tingkat nasional di Makassar, juara III Drama Bahasa Jawa, serta penghargaan penulisan naskah dari Balai Bahasa Jawa Tengah.
Meski demikian, bagi Idham, pencapaian terbesar bukanlah deretan penghargaan tersebut.
"Saya bangga karena sampai sekarang masih bisa meneruskan Sandilara, meskipun sudah lulus kuliah, bekerja, menikah, dan memiliki anak. Harapan saya anggota Teater Sandilara bisa bertahan lebih lama lagi," tuturnya.
Salah seorang anggota Teater Sandilara asal Sukoharjo, Muhammad Irfanudin (22), mengaku tertarik bergabung karena proses kreatif yang diterapkan komunitas tersebut.
"Saya tertarik dengan proses kreatif Sandilara dalam melahirkan karya yang secara sederhana tetapi sebenarnya tidak sederhana," ujar Irfan.
Lebih dari satu dekade berkarya, Teater Sandilara terus membuktikan bahwa panggung tidak selalu harus berdiri di gedung pertunjukan megah.
Bagi komunitas ini, halaman kampung, ruang terbuka, hingga lingkungan permukiman dapat menjadi ruang bertemunya pemain dan penonton dalam satu pengalaman yang sama.
Melalui konsistensinya menghadirkan pertunjukan yang dekat dengan kehidupan masyarakat, Teater Sandilara berharap seni teater semakin dipahami bukan sekadar hiburan, melainkan ruang belajar, media pembentukan karakter, sekaligus sarana menyuarakan berbagai persoalan sosial dan kebudayaan.
(Mg/Lizera Janwa Naifa Sharon)
Penulis merupakan peserta magang Universitas Sebelas Maret (UNS).