Tukang Tambal Ban Menangis Sesali Nyawa Rajivandri Melayang Gegara Utang Rp65 Ribu
taryono July 21, 2026 09:38 AM

Tribunlampung.co.id, Palembang - Air mata Sanjaya alias Jay (26) tak terbendung saat menceritakan kembali detik-detik yang mengubah hidupnya.

Baca juga: Warga Muji Rahayu Cor Jalan Swadaya Sambil Menunggu Dukungan Pemerintah Daerah

Tukang tambal ban itu kini hanya bisa menyesali perbuatannya setelah pisau cutter yang ia gunakan untuk bekerja justru membuat Rajivandri (42) kehilangan nyawa. 

Di hadapan penyidik Polsek Ilir Barat 1 Palembang, Sumatera Selatan, Jay mengaku tidak pernah membayangkan perselisihan soal utang narkoba senilai Rp65 ribu berakhir dengan kematian.

Peristiwa berdarah tersebut terjadi di Jalan Kapten Anwar Arsyad, Kelurahan Siring Agung, Kecamatan Ilir Barat 1, Palembang, Sabtu (18/7/2026) sore. Jay yang sehari-hari mencari nafkah dari usaha tambal ban harus berhadapan dengan hukum setelah terlibat dalam peristiwa yang menewaskan Rajivandri.

Dengan suara bergetar, Jay mengungkapkan bahwa dirinya sebenarnya masih berniat membayar utang tersebut. Ia meminta waktu hingga malam karena saat itu belum memiliki uang yang cukup dan berharap ada pelanggan datang ke bengkelnya.

"Kata aku kan malam (bayarnya), karena belum ada duit bukan gak mau bayar. Aku nunggu orang yang mau nampal ban baru bayar. Dan aku juga kenal dengan kawan korban, bukan baru kenal," ujar Jay saat ditemui Tribunsumsel.com di Mapolsek Ilir Barat 1, Senin (20/7/2026).

Kejadian bermula sekitar pukul 17.00 WIB ketika Jay sedang bekerja di bengkel tambal ban miliknya. Saat itu, Rajivandri datang bersama seorang rekannya untuk menagih utang yang disebut sudah berlangsung selama dua hari.

Jay mengaku sudah meminta kelonggaran waktu agar pembayaran bisa dilakukan pada malam hari. Namun, situasi justru memanas hingga terjadi adu mulut antara dirinya dan korban.

Perselisihan tersebut kemudian berubah menjadi keributan setelah korban meninggalkan lokasi dan kembali bersama sejumlah orang. Jay menyebut kedatangan rombongan itu membuat dirinya merasa semakin terdesak.

"Dia datang aku ni kan ada utang dengan dia. Kata aku tuh malam kan. Nah dia tuh tidak sabar lagi kan jadi cekcok, cekcok, panas semua kan jadi berkelahi. Pas berkelahi tuh, dia balik ngajak rombongan langsung ngeroyok ke aku," ungkap Jay.

Menurut Jay, empat orang datang ke bengkel dan langsung menyerangnya. Ia mengaku melihat ada yang membawa senjata tajam, sementara dirinya berada dalam posisi sulit untuk menghindar karena berada di dalam ruangan sempit.

"Dia terbalik dia itu ngajak rombongan langsung nyerang aku berempat orang itu. Ada yang makai senjata... yang korban itu makai pisau, yang itu pakai golok, yang duanya enggak pakai apa-apa," jelasnya.

Jay mengatakan dirinya tidak memiliki banyak pilihan saat itu karena merasa keselamatannya terancam. Dalam kondisi panik, ia mengambil pisau cutter yang biasa digunakan untuk membetot ban di bengkel.

"Aku lagi di dalam kan, kalau di luar enak bisa berlari aku. Di luar berlari dulu daripada mati kan? Posisi itu di luar kayak nyerang mendesak aku ke dalam tuh," tambahnya.

Dalam situasi yang berlangsung cepat tersebut, Jay mengaku menusukkan pisau itu satu kali ke arah punggung Rajivandri. Ia menyebut benda tajam tersebut bukan senjata yang sengaja disiapkan, melainkan alat kerja yang berada di tempatnya mencari nafkah.

"Senjata tajam itu untuk meset (membetot) ban di bengkel itulah. (Menusuk) bagian belakang, sekali itulah," ujarnya.

Setelah kejadian itu, Jay mengaku mengalami syok berat. Ia bahkan sempat terdiam sekitar 30 menit di dalam bengkel karena pikirannya kosong sebelum akhirnya pergi meninggalkan lokasi.

Dalam perjalanan, kondisi Jay semakin tidak terkendali. Ia sempat memesan ojek online yang kebetulan dikendarai oleh temannya sendiri, namun sepanjang perjalanan ia terus mengucapkan kata-kata yang menunjukkan kepanikan dan rasa bersalah.

"Aku cuma ngonyor-ngonyor pesan ojol, pas di motor itu aku yang bawa, 'mati jok, mati jok' (mati saya). Aku langsung dipukulnya belakang aku, turun aku, jadi aku berjalan entah kemana-mana," katanya.

Jay kemudian berjalan tanpa tujuan selama kurang lebih sehari semalam. Ia mengaku tidak sadar arah yang ditempuh hingga akhirnya bertemu keluarganya di jalan.

Menurut Jay, dirinya baru mengetahui Rajivandri meninggal dunia setelah diberi tahu oleh keluarganya. Saat itu, ia mengaku masih dalam kondisi bingung dan tidak membawa barang apa pun, termasuk telepon genggam.

"Setelah itu, aku kayak lupa ingatan tuh masih gak nyangka, gak sadar tuh ke mana berjalan sampai sehari semalam gak tahu ke arah mana. Baru ketemu keluargaku di jalan diajak ke rumah," terangnya.

Menanggung rasa bersalah yang semakin besar, Jay akhirnya memilih menyerahkan diri ke Polsek Ilir Barat 1 Palembang. Keputusan itu diambil setelah mendapat dorongan dari keluarga yang meminta dirinya mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Saat berada di kantor polisi, tangis Jay kembali pecah ketika menyampaikan permintaan maaf kepada keluarga korban. Ia mengaku masih sulit menerima kenyataan bahwa konflik yang awalnya hanya persoalan utang kecil berakhir dengan hilangnya nyawa seseorang.

"Keluargaku ngomong, aku ngomong aku bersalah kan. Kami mengantarkan sampai ke sini ke polsek nyerah diri. Aku cuman minta maaf tulah rasa gak nyangka sampai jadi begitu. Sampai saat ini kan rasa tidak nyangka di hati itu terjadi," ucap Jay terisak.

Penyesalan Jay semakin dalam ketika mengingat anak tunggalnya yang masih berusia lima tahun. Ia mengaku malu dan terpukul karena tindakannya membawa dampak besar bagi keluarganya.

"Baru satu anak, 5 tahun. Malu aku dengan anakku dan keluarga... cuma minta maaf dan masih dak nyangka sampai saat ini di hati kejadiannya," tutup Jay dengan tangis yang pecah.

Sumber: TribunSumsel.com

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.