Kampanye Piala Dunia Inggris berakhir dengan pencapaian terbaiknya sejak tahun 1966, namun kekalahan di semifinal melawan Argentina terus memicu perdebatan tentang apa yang sebenarnya salah. Meskipun sebagian besar kritik tertuju pada pendekatan taktis Thomas Tuchel setelah gol pembuka Anthony Gordon, Pangeran Harry memberikan penjelasan berbeda yang segera menarik perhatian. Alih-alih menyoroti formasi atau pergantian pemain, Duke of Sussex berpendapat bahwa Inggris kehilangan keyakinan pada momen krusial. Komentarnya mendapat sambutan dari James Corden, yang kemudian mengubah pembahasan tersebut menjadi usulan pelatih yang bernada ringan dan juga melibatkan Rio Ferdinand dalam percakapan.
Teori pola pikir Pangeran Harry menuai pujian ketika James Corden melontarkan candaan tentang posisi pelatih Inggris.
Berbicara di acara James Corden's After Hours di Fox, Pangeran Harry menyebutkan bahwa kegagalan Inggris lebih disebabkan oleh reaksi para pemain setelah memimpin, bukan karena instruksi dari pinggir lapangan.
Ia menjelaskan: “Ini soal pola pikir. Saya pikir yang kita lihat adalah sedikit efek keterkejutan bagi tim.”
“Oh, s***, kami unggul 1-0 melawan Argentina, lalu muncul godaan langsung untuk bertahan.”
“Saya tidak berpikir itu taktik, saya tidak berpikir itu rencana, itu hanya terjadi. Anda tidak bisa, berapa pun lamanya, mencoba mempertahankan keunggulan 1-0 melawan tim seperti itu. Tidak mungkin.”
“Jadi saya pikir pola pikirnya adalah keyakinan. Jika Anda unggul 1-0, percayalah bahwa itu bisa menjadi 2-0.”
Komentar tersebut menonjol karena mengalihkan pembahasan dari aspek taktis menuju pada kepercayaan diri. Pangeran Harry menilai bahwa para pemain Inggris tampak terkejut dengan keunggulan mereka sendiri dan secara naluriah berusaha mempertahankannya alih-alih memperbesarnya. Pandangan ini sejalan dengan pendapat beberapa mantan pemain yang disampaikan dalam beberapa hari setelah kekalahan itu, meski masih ada perbedaan pendapat mengenai seberapa besar tanggung jawab yang harus ditanggung oleh Tuchel.
Corden tampak menyukai analisis tersebut. Pembawa acara televisi itu bergurau bahwa Pangeran Harry layak mendapatkan posisi dalam jajaran pelatih masa depan Inggris, membayangkan tim kepelatihan yang dipimpin oleh mantan bek Manchester United dan Inggris, Rio Ferdinand, setelah kontrak Tuchel berakhir usai Euro 2028.
Ia berkata: “Begitu Thomas Tuchel mundur dua tahun lagi setelah Euro, bagaimana kalau ini? Manajer, Rio Ferdinand. Asisten manajer, Pangeran Harry.”
Saran jenaka tersebut muncul setelah Ferdinand sendiri mengungkapkan kekagumannya terhadap pandangan sepak bola Pangeran Harry dan mengundangnya tampil di podcast-nya, karena ia merasa mereka memiliki pandangan yang serupa tentang permainan tersebut.
Perdebatan ini tampaknya tidak akan segera berakhir. Peringkat ketiga Inggris menunjukkan kemajuan yang jelas, namun banyak pendukung masih percaya bahwa tim tersebut melewatkan peluang untuk mencapai final. Argentina kemudian kalah dari Spanyol di laga perebutan gelar juara, hasil yang semakin memperkuat argumen bahwa Inggris seharusnya bisa bermain lebih berani setelah unggul.
Pangeran Harry bukanlah sosok yang biasanya dikaitkan dengan analisis sepak bola, namun komentarnya menyentuh isu yang mendominasi pembahasan setelah turnamen. Apakah Inggris kalah karena taktik atau mentalitas masih menjadi perdebatan, namun argumennya bahwa kepercayaan diri hilang pada saat penentu jelas menemukan pendengarnya.