TRIBUNNEWS.COM – Di tengah hiruk-pikuk Jakarta yang nyaris tak pernah berhenti, ruang untuk menghirup udara segar dan melepas penat menjadi kebutuhan yang semakin berharga. Kini, kebutuhan itu tak lagi sekadar dipenuhi oleh aneka tanaman subur menghijau, tetapi juga ruang publik yang aman, nyaman, dan terbuka untuk berbagai aktivitas masyarakat.
Jika dulu ruang terbuka hijau (RTH) hanya identik dengan pepohonan dan lintasan jogging, kini wajahnya telah berubah. Berbagai taman di Jakarta berkembang menjadi ruang kolektif tempat warga berkumpul, membaca buku, menikmati pertunjukan seni, hingga membangun jejaring melalui komunitas.
Transformasi tersebut merupakan bagian dari upaya Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta dalam meningkatkan kualitas RTH sekaligus menghadirkan ruang publik yang lebih inklusif dan nyaman.
Berdasarkan data Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta yang dikutip dari Kompas, hingga April 2026 Jakarta memiliki sekitar 3.703,56 hektare RTH yang tersebar di lebih dari 2.232 lokasi. Kawasan tersebut meliputi taman lingkungan, hutan kota, jalur hijau, hingga kawasan mangrove.
Tak hanya memperluas ruang hijau, Pemprov DKI juga merevitalisasi sejumlah taman agar memiliki fungsi yang lebih beragam. Langkah ini menjadi bagian dari komitmen Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, dalam meningkatkan kualitas hidup warga.
“Kami ingin warga Jakarta merasakan kenyamanan. Ruang-ruang yang ada akan kita manfaatkan bukan hanya untuk penghijauan, tetapi juga untuk kegiatan positif seperti olahraga, seni, dan aktivitas komunitas,” ujar Pramono saat meninjau Taman Gapura Muka di Cakung, Jakarta Timur, Sabtu (10/1/2026).
Baca juga: Tangani Banjir dan Genangan, Pemprov DKI Perkuat Sistem Tata Air Jakarta
Perubahan wajah taman kota mulai terasa di berbagai sudut Jakarta. Salah satunya terlihat di Taman Suropati, Menteng. Selama bertahun-tahun taman ini dikenal sebagai lokasi favorit warga untuk berolahraga atau bersantai. Kini, Taman Suropati juga menjelma menjadi ruang kreatif bagi para pelaku seni.
Di tempat ini, Taman Suropati Chamber rutin menggelar latihan musik terbuka sekaligus membuka kelas belajar biola gratis bagi masyarakat. Sesekali, pengunjung juga dapat menikmati konser mini yang menghadirkan suasana berbeda di tengah rindangnya pepohonan.
Berbeda dengan Suropati yang kental dengan nuansa seni, Taman Literasi Martha Christina Tiahahu di kawasan Blok M menawarkan pengalaman yang lebih dekat dengan dunia literasi.
Komitmen Pemprov DKI Jakarta dalam menghadirkan lahan terbuka hijau berkualitas juga tercermin melalui peresmian Taman Bendera Pusaka pada Maret 2026 lalu.
Terintegrasi dengan Stasiun MRT Blok M, taman ini dilengkapi amfiteater, ruang baca, dan area terbuka yang kerap menjadi lokasi diskusi buku, peluncuran karya, kelas kreatif, hingga lokakarya. Tak mengherankan jika kawasan ini menjadi destinasi favorit pelajar, mahasiswa, pekerja, hingga komunitas yang ingin menghabiskan waktu secara produktif.
Sementara itu, di Jakarta Selatan, hadir wajah baru ruang hijau melalui Taman Bendera Pusaka yang diresmikan pada Maret 2026.
Taman seluas sekitar 5,6 hektare tersebut merupakan hasil integrasi Taman Ayodya, Taman Langsat, dan Taman Leuser. Dengan kawasan yang kini saling terhubung, warga memiliki ruang yang lebih luas untuk berjalan kaki, berolahraga, maupun menikmati waktu bersama keluarga dalam satu hamparan ruang hijau.
Baca juga: Wujudkan Kota Inklusif, Pemprov DKI Salurkan Bantuan untuk Kelompok Rentan
Transformasi taman-taman tersebut hanyalah sebagian dari wajah baru Jakarta. Di berbagai penjuru kota, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terus mengembangkan dan merevitalisasi ruang terbuka hijau agar semakin dekat dengan kebutuhan warga. Salah satu proyek yang tengah dipersiapkan adalah revitalisasi Taman Semanggi, yang diproyeksikan menjadi ikon ruang hijau modern menjelang perayaan 500 tahun Kota Jakarta pada 2027.
Melalui revitalisasi ini, Taman Semanggi akan hadir dengan jalur pedestrian yang lebih nyaman, area olahraga, ruang komunal, plaza aktivitas, serta lanskap hijau yang lebih tertata dan ramah bagi pengunjung. Kehadirannya diharapkan tidak hanya mempercantik kawasan strategis ibu kota, tetapi juga menjadi ruang publik yang hidup dan aktif digunakan masyarakat.
“Revitalisasi ini merupakan bentuk penghormatan terhadap gagasan besar Bung Karno pada 1962. Empat helai daun Semanggi yang melambangkan fungsi, konektivitas, transformasi, serta estetika, kini akan diperkuat melalui konsep regenerasi yang lebih relevan dengan kebutuhan zaman,” ujar Pramono saat groundbreaking revitalisasi Taman Semanggi di Jakarta Selatan, Jumat (20/2/2026).
Ia berharap Taman Semanggi dapat menjadi ruang bersama yang mampu menampung berbagai aktivitas warga, mulai dari berolahraga, bersantai, hingga berinteraksi dan membangun komunitas.
Pada akhirnya, di tengah ritme Jakarta yang bergerak tanpa henti, taman kota menawarkan sesuatu yang semakin berharga, seperti ruang untuk bernapas dan berinteraksi dengan aman, nyaman, menyenangkan, dan menyehatkan.
Baca juga: Pramono Anung: Jakarta Perlu RS Berstandar Internasional agar Warga Tak Berobat ke Luar Negeri