POSBELITUNG.CO, BANGKA - Kebahagiaan yang baru seumur jagung berubah menjadi duka mendalam bagi keluarga Radit alias RD (36).
Penambang timah asal Kecamatan Tempilang, Kabupaten Bangka Barat, itu meninggal dunia setelah diterkam buaya saat bekerja di aliran Sungai Batu Rusa, Desa Batu Rusa, Kecamatan Merawang, Kabupaten Bangka.
Korban ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa oleh Tim SAR Gabungan, Senin (20/7), setelah sempat dilaporkan hilang sejak malam sebelumnya.
Suasana haru menyelimuti RSUD Dr. (H.C.) Ir. Soekarno Bangka Belitung ketika jenazah korban tiba untuk proses identifikasi.
Di pelataran depan ruang dekontaminasi, seorang perempuan muda yang merupakan istri korban tampak tak beranjak dari kursinya.
Baca juga: Ka Unit PT Timah Belitung Bantah Turunkan Harga Timah, Ungkap Alasan Gudang Overload Jadi Pemicu
Didampingi dua anak kecil dan sejumlah kerabat, ia terus menatap pintu ruangan tempat jenazah suaminya berada.
Perempuan itu baru sekitar sepekan menyandang status sebagai istri Radit.
Baca juga: Penambang Beltim Keluhkan Lesunya Ekonomi dan Ketidakpastian Status Hukum di Forum RDP
Kebahagiaan membangun rumah tangga yang baru dirasakan harus berakhir dalam waktu singkat akibat tragedi yang terjadi di lokasi tambang.
Kerabat korban, Redo, mengatakan Radit telah lama bekerja sebagai penambang timah di wilayah Merawang.
Setelah menikah, korban sempat mengambil waktu istirahat sebelum kembali bekerja.
"Baru minggu lalu mereka menikah. Korban memang sudah lama bekerja sebagai penambang timah. Setelah menikah sempat libur, lalu kembali bekerja ikut bosnya di Merawang," kata Redo saat ditemui Posbelitung.co di lokasi kejadian.
Menurutnya, Radit berasal dari Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan.
Meski demikian, ia telah lama menetap di Bangka dan kemudian menikahi perempuan asal Tempilang.
Pasangan itu berencana tinggal bersama di Tempilang, namun pekerjaan membuat Radit harus bolak-balik ke lokasi tambang di Merawang.
Redo mengaku tidak mengetahui secara pasti detik-detik korban diterkam buaya karena bekerja di lokasi berbeda.
"Saya kerja di Sampur. Pagi tadi setelah mendapat kabar korban hilang, saya langsung datang ke lokasi pencarian. Untuk kejadian saya tidak tahu karena kami beda tempat bekerja," ujarnya.
Ia menambahkan, Radit telah lama berprofesi sebagai penambang timah dan bekerja bersama seorang pemilik tambang di Merawang yang disebutnya bernama Opang.
"Sudah lama dia kerja tambang. Dulu sempat ikut bos lain, kemudian kembali bekerja dengan bos yang sekarang," katanya.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, peristiwa nahas itu terjadi pada Minggu (19/7/2026) malam.
Saat itu korban bersama rekan-rekannya tengah memindahkan ponton tambang di aliran Sungai Batu Rusa.
Setelah pekerjaan selesai, korban diduga mencuci tangan di tepi sungai sebelum tiba-tiba menghilang.
Rekan kerja hanya mendengar suara percikan air dan menduga korban disambar buaya.
Laporan tersebut langsung ditindaklanjuti Tim SAR Gabungan yang terdiri atas Basarnas Pangkalpinang, Polairud, BPBD, aparat desa, dan warga.
Pencarian dilakukan dengan menyisir sungai menggunakan perahu karet hingga korban akhirnya ditemukan sekitar satu mil laut dari titik awal kejadian.
Dantim Basarnas Pangkalpinang, Supani, mengungkapkan proses evakuasi berlangsung dramatis karena tubuh korban masih berada dalam gigitan buaya saat ditemukan.
"Kita menggunakan alat setrum. Saat melakukan penyisiran menggunakan perahu karet, korban ditemukan masih dalam keadaan digigit buaya. Kami langsung mendekati buaya itu dan menggunakan alat setrum hingga akhirnya gigitan terlepas, kemudian korban berhasil dievakuasi," ujar Supani.
Menurutnya, lokasi penemuan korban tidak jauh dari tempat korban pertama kali dilaporkan hilang.
Buaya yang menyerang diperkirakan memiliki panjang sekitar lima hingga enam meter.
"Korban memang masih dalam gigitan buaya. Itu yang membuat proses evakuasi cukup sulit. Buayanya sangat besar, diperkirakan lima sampai enam meter," katanya.
Supani menjelaskan, korban mengalami sejumlah luka akibat gigitan di beberapa bagian tubuh, terutama di bawah ketiak dan bagian perut.
Saat ditemukan, korban juga sudah tidak mengenakan pakaian dan hanya tersisa sehelai kain yang melilit tubuhnya.
Usai dievakuasi, jenazah dibawa menggunakan ambulans Basarnas ke RSUD Dr. (H.C.) Ir. Soekarno Bangka Belitung untuk proses identifikasi sebelum diserahkan kepada pihak keluarga.
Redo mengatakan keluarga berencana memakamkan korban di Kecamatan Simpang Rimba, Kabupaten Bangka Selatan, karena sebagian besar kerabatnya berdomisili di wilayah tersebut. (Posbelitung.co/Adi Saputra)