Banyak manfaat yang dirasakan dari program revitalisasi sekolah. Tak hanya siswa dan sekolah, tetapi juga warga dan UMKM.
Hal ini disampaikan Widyaprada Ahli Utama Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), Khamim. Program ini juga menjadi motor penggerak ekonomi ribuan warga. "Revitalisasi yang dilakukan oleh panitia di setiap satuan pendidikan itu berdampak terhadap pertumbuhan ekonomi yang di mana tadi ada 5.273 kecamatan, itu juga berdampak pada ekonomi di daerah," ujarnya dalam Media Briefing Kunjungan Revitalisasi Sekolah di Kupang yang digelar Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), di Hotel Aston Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), Senin (20/7/2026).
Data Kemendikdasmen menunjukkan, proyek revitalisasi sudah menyasar 16.167 satuan pendidikan yang tersebar di 38 provinsi, 514 kabupaten/kota, dan 5.273 kecamatan di seluruh Indonesia.
Khamim mengatakan pembangunan revitalisasi sekolah ini menggunakan sistem swakelola. Sistem ini membuat pembangunan lebih efisien dan berdampak bagi lebih banyak orang.
"Pembangunan ini berdasarkan partisipasi masyarakat, tidak dikontrakkan oleh kontraktor begitu ya, maka itu lebih efisien," tuturnya.
Serap 242 Ribu Tenaga Kerja Lokal
Salah satu fakta menarik dari proyek ini adalah masifnya penyerapan tenaga kerja. Khamim menunjukkan hasil dari proyek revitalisasi sudah mampu mempekerjakan 242.505 orang warga sekitar.
"Juga karena tukang dan tenaga yang dilibatkan di masyarakat sekitar bangunan itu, paling tidak melibatkan hampir 242.505 tenaga kerja. Ini juga luar biasa dampaknya," ujar Khamim.
Selain itu, dampak ekonom ikut dirasakan oleh warga dalam penyediaan kebutuhan. Seperti bertumbuhnya Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
"Itu dapat melibatkan hampir 32.000-an UMKM. Ini menunjukkan bahwa dengan pembangunan yang dikerjakan oleh masyarakat itu mampu berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi di daerah itu," tuturnya.
Revitalisasi 2026 Fokus ke 3 Provinsi Terdampak Bencana dan NTT
Pada tahun anggaran 2026, pemerintah memberikan perhatian khusus melalui Anggaran Biaya Tambahan (ABT). Fokus utama diberikan pada tiga provinsi yang sempat terdampak musibah, yakni Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara.
Namun, daerah lain seperti Nusa Tenggara Timur (NTT) juga tetap menjadi prioritas. Salah satu contoh nyata adalah SDN Naitemu di Kota Kupang yang mendapatkan dana revitalisasi hingga Rp 3,1 miliar.
"SD ini peminatnya sangat besar sampai tiga shift; pagi, siang, sore. Dengan revitalisasi, tadinya 8 sekarang menjadi 13 ruang. Artinya anak-anak sudah bisa belajar dengan ideal, tidak perlu masuk siang atau sore lagi yang bisa mengganggu waktu bermain mereka," tambah Khamim.





