Tribunlampung.co.id, Tanggamus - Dulu, kukang Sumatera (nycticebus coucang) kerap dianggap sebagai hama tanaman oleh sebagian petani di Pekon Air Naningan, Kecamatan Air Naningan, Kabupaten Tanggamus, Lampung.
Persepsi yang lahir dari minimnya pengetahuan masyarakat tentang satwa nokturnal yang sebenarnya merupakan penghuni asli hutan Batutegi.
Kini, pandangan tersebut perlahan berubah. Melalui edukasi, pendampingan, dan penguatan program perhutanan sosial, upaya melindungi kukang akhirnya berjalan beriringan dengan kesejahteraan masyarakat.
Satwa endemik berbulu coklat ini memang tak sulit ditemukan di sekitar Pekon Air Naningan. Saat malam tiba, hewan bermata bulat itu kerap terlihat bertengger di pepohonan tinggi yang tumbuh di sekitar permukiman.
Di heningnya malam, kukang acap kali melintas di kabel-kabel listrik yang membentang di antara pepohonan.
Hewan pemalu itu menggunakan jaringan listrik sebagai jalur untuk berpindah dari pohon menuju pohon lain untuk mencari makan atau sekadar mencari tempat tidur.
Keberadaan kukang yang dekat dengan kehidupan warga bukan tanpa alasan. Pekon Air Naningan memang berbatasan langsung dengan Register 22 dan Register 39, Kawasan Hutan Lindung Batutegi.
“Kawasan ini menjadi habitat asli yang penting dan menjadi benteng terakhir bagi keberlangsungan hidup kukang Sumatera di wilayah tersebut,” kata Supervisor Riset dan Biodiversitas Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) Aris Subagio kepada jurnalis yang sambang langsung ke habitat kukang, Jumat (3/7/2026) lalu.
Sebagai lembaga yang aktif melakukan upaya konservasi kukang, YIARI sudah berulang kali melakukan pelepasliaran kukang di Hutan Lindung Batutegi.
Kukang yang diselamatkan merupakan satwa korban perburuan atau perdagangan ilegal. Kukang tersebut terlebih dahulu menjalani rehabilitasi sebelum dikembalikan ke habitat aslinya.
Aris menjelaskan, Hutan Lindung Batutegi dipilih sebagai wilayah konservasi kukang karena memiliki nilai ekologis yang sangat penting bagi Provinsi Lampung.
“Alasan lain yang mendasari adalah tingginya nilai keanekaragaman hayati yang dimiliki. Meskipun berstatus sebagai hutan lindung dan bukan taman nasional, Batutegi memiliki potensi biodiversitas yang sangat tinggi," tutur dia.
Kawasan ini juga menjadi habitat berbagai satwa liar, seperti harimau Sumatera, beruang madu, kambing hutan Sumatera, berbagai jenis kucing liar, serta delapan jenis primata, termasuk kukang Sumatera, siamang, owa ungko, simpai, tarsius, lutung kelabu, dan beruk.
Dari sisi flora, Batutegi juga menjadi habitat spesies langka seperti rafflesia arnoldii serta amorphophallus gigas dan amorphophallus titanum.
Keanekaragaman hayati tersebut menunjukkan kawasan ini memiliki fungsi penting sebagai habitat alami berbagai spesies yang perlu dilindungi.
Ancaman Kematian Kukang
Namun, upaya penyelamatan kukang kembali ke habitatnya bukan tanpa tantangan. Alih fungsi lahan menjadi kebun kopi monokultur yang berlangsung selama bertahun-tahun menyebabkan habitat satwa, termasuk kukang semakin terdegradasi.
Pohon-pohon yang dahulu saling terhubung berganti menjadi hamparan kebun sehingga kukang harus memanfaatkan kabel listrik sebagai jembatan untuk berpindah antar-pohon.
Kondisi ini membuat resiko kematian akibat tersengat listrik semakin tinggi. Sepanjang tahun 2022, PLN mencatat terdapat 6.328 gangguan jaringan listrik yang disebabkan oleh satwa, dan kukang menjadi salah satu penyebabnya.
Data YIARI menunjukkan, sepanjang 2022 hingga 2024 ditemukan sedikitnya 364 kukang berada di sekitar jaringan listrik di Pekon Air Naningan.
Keberadaan mereka di jalur listrik bukan semata karena mencari pakan, tetapi juga pohon tidur dan sumber pakan berada di sisi jaringan yang berbeda, sehingga kabel menjadi jalur lintasan yang paling mudah dijangkau.
Ancaman lain datang dari perdagangan satwa liar secara ilegal yang sempat marak melalui media sosial.
Meski demikian, dalam dua tahun terakhir tren perdagangan kukang menunjukkan penurunan berkat sosialisasi yang masif, patroli, serta kolaborasi antara pemerintah, YIARI, kelompok masyarakat, dan berbagai pihak lainnya.
Upaya ini menjadi sangat penting mengingat kukang juga memiliki laju reproduksi yang lambat, sehingga setiap kematian individu di alam berdampak besar terhadap kelestarian populasinya.
Supervisor Pemberdayaan Masyarakat dan Edukasi Lanskap YIARI Aji Mandala Putra menceritakan, tantangan terbesar konservasi bukan sekadar menyelamatkan satwa melainkan mengubah cara pandang manusia terhadap alam.
Menurutnya, masyarakat sebenarnya memahami keberadaan pohon-pohon pelindung jauh lebih baik dibandingkan sistem monokultur kopi.
Namun dalam prakteknya, keputusan petani selalu kembali pada kebutuhan ekonomi keluarga.
“Masyarakat itu sebenarnya tahu secara ekologi tajuk tinggi jauh lebih baik daripada monokultur kopi. Tapi semuanya kembali lagi pada pemenuhan kebutuhan ekonomi," ujar Aji.
Karena itu, YIARI memilih pendekatan yang tidak hanya berbicara mengenai perlindungan satwa, tetapi memberikan solusi ekonomi hijau yang nyata bagi masyarakat.
Pendekatan tersebut diwujudkan melalui penguatan tiga aspek utama yakni kelembagaan masyarakat, tata kelola kawasan, serta tata kelola usaha.
Perubahan Pola Pikir Masyarakat
Titik balik perubahan pola pikir ini dimulai ketika masyarakat menyadari peran ekologis kukang yang luar biasa.
Danang Hardiansyah (36), seorang volunteer YIARI sekaligus sahabat Kukangku menjelaskan, primata ini sejatinya adalah makhluk pemalu dan sama sekali bukan penyerang.
Lebih dari itu, kukang adalah predator alami serangga yang menjadi musuh utama tanaman kopi. Makanan favorit mereka meliputi ulat, belalang, kumbang, ngengat, hingga tonggeret (cicada).
“Jadi kukang bukan pengganggu tanaman petani, justru kukang membantu petani memberantas hama dan penyebaran biji-bijian di hutan,” tutur Danang di hadapan awak media.
Dengan membiarkan kukang hidup dan beraktivitas di kebun, populasi serangga pengendali hama terkontrol secara alami.
"Efeknya luar biasa, keseimbangan ekosistem terjaga, produktivitas kopi aman, dan petani bisa menekan biaya pembelian pestisida kimia," lanjutnya.
Kini, petani memilih hidup harmoni, membiarkan satwa itu tidur dan mencari makan dengan tenang di sekitar kebun mereka.
Danang pun aktif mengedukasi anak-anak desa agar menjaga satwa ini tanpa harus menyentuh atau memeliharanya demi keselamatan bersama.
Tangan Dingin Perempuan dalam Ekonomi Hijau
Ekonomi hijau di Batutegi kian berakar berkat gerakan kemandirian perempuan. Di Pekon Datar Lebuay, Kecamatan Air Naningan, Tanggamus, Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) Bumi Tani Sejahtera (BTS) yang lahir pada 2023 menjadi motor penggerak.
Berawal dari 10 orang ibu rumah tangga yang didampingi YIARI, mereka kini bertransformasi menjadi pelaku usaha olahan hasil bumi. Seperti bubuk kopi murni, minyak kemiri, ikan lele, hingga keripik pisang nangka renyah berkualitas premium.
"Dulu cuma ibu rumah tangga biasa. Sekarang kami belajar menghitung biaya produksi, keuntungan, presentasi, sampai mengelola usaha bersama. Itu luar biasa bagi kami," kata Nurul, Ketua KUPS BTS dengan penuh rasa syukur.
Produk mereka kini bahkan telah merambah pengiriman hingga Jambi dan Cilacap.
Dibeberkannya, dari yang tadinya mereka hanya mengandalkan panenan kopi namun saat ini sudah punya penghasilan tambahan dari berjualan olahan hasil bumi.
“Kalau pendapatan, bisa dibilang sedikit banyak menambah pendapatan karena tadinya hanya bertani saja, terus sekarang bisa membuat olahan juga,” imbuhnya.
Perkuat Sinergitas
Kesuksesan di akar rumput ini mendapat pengawalan ketat dari pihak berwenang. Sejak tahun 2010 Seksi KSDA Wilayah III Lampung Balai Konservasi Sumber Data Alam (BKSDA) Bengkulu bersama YIARI telah melepasliarkan 276 individu kukang hasil rehabilitasi ke habitat alaminya.
"Pelepasliaran hanyalah awal dari proses panjang. Setelah satwa dilepas, tim melakukan pemantauan secara berkala di sekitar lokasi pelepasliaran," terang Kepala Seksi Konservasi Wilayah III Lampung BKSDA Bengkulu Itno Itoyo kepada Tribunlampung.co.id melalui pesan WhatsApp, Selasa (14/7/2026).
Pemantauan berkala menggunakan sampel radio collar terus dilakukan untuk memastikan satwa-satwa tersebut dapat bertahan hidup secara mandiri (survive).
Itno Itoyo menegaskan pihaknya terus memperkuat sinergi dengan UPTD KPH Batutegi, aparat penegak hukum, akademisi, dan masyarakat.
BKSDA menilai sinergi antara kesejahteraan ekonomi melalui KUPS dan perlindungan satwa merupakan strategi yang tepat untuk menjaga kukang aman di habitatnya namun perekonomian petani juga bisa berjalan beriringan.
BKSDA memandang model pemberdayaan masyarakat melalui KUPS sebagai pendekatan yang menjanjikan karena mampu menyelaraskan tujuan konservasi dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Bagi YIARI, keberhasilan konservasi tidak hanya diukur melalui besarnya pendapatan masyarakat ataupun jumlah satwa yang dilepasliarkan.
Ukuran yang paling penting adalah perubahan perilaku masyarakat terhadap hutan. Selama empat hingga lima tahun terakhir, lebih dari 700 petani dari lima gabungan kelompok tani telah mengikuti berbagai kegiatan pemberdayaan.
"Mulai dari diskusi kelompok, pelatihan kelembagaan, analisis SWOT, hingga penggunaan bibit tanaman Multi Purpose Tree Species (MPTS) bersertifikat sebagai pengganti bibit asal cabutan," terang Aji Mandala Putra.
Sekitar 30 hingga 40 persen di antaranya kini menjadi penggerak aktif yang ikut mengampanyekan pentingnya menjaga tutupan hutan.
Sementara itu, BKSDA menilai keberhasilan konservasi tidak mungkin dicapai oleh satu lembaga saja.
"Karena itu koordinasi terus diperkuat bersama KPH Batutegi sebagai pengelola kawasan, YIARI sebagai mitra konservasi, akademisi, aparat penegak hukum, pemerintah daerah serta masyarakat," ujar Itno.
Selain perlindungan habitat dan pemantauan satwa, kolaborasi juga diarahkan pada edukasi, pemberdayaan masyarakat, hingga penguatan kelembagaan ekonomi desa.
"Masyarakat mempunyai peran signifikan dalam mendukung konservasi seperti kesadaran akan pentingnya menjaga habitat dan terlibat aktif dalam mencegah aktivitas ilegal," ujarnya.
"Dukungan kami yaitu melakukan upaya sosialisasi kepada masyarakat terkait dengan pentingnya perlindungan satwa liar termasuk kukang Sumatera," urai Itno.
Apresiasi juga datang dari Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Lampung Prof. Christine Wulandari, yang menilai Air Naningan berpotensi menjadi model percontohan nasional.
Menurutnya, edukasi sosial-budaya dan pengembangan ekonomi berbasis konservasi adalah kunci mutlak.
"Selama ini kukang masih sering dianggap sebagai hama, padahal memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem sebagai predator alami serangga. Karena itu, edukasi dan pendekatan sosial budaya dinilai menjadi kunci utama dalam upaya pelestarian," ujarnya dalam wawancara dengan Tribunlampung.co.id beberapa waktu lalu.
Prof. Christine juga mendorong pengembangan ekowisata berbasis konservasi sebagai solusi yang mampu menyelaraskan perlindungan satwa dengan peningkatan ekonomi masyarakat.
Menurutnya, Universitas Lampung siap mendukung melalui penelitian, pengabdian masyarakat, serta kolaborasi lintas disiplin ilmu untuk mengembangkan wisata edukasi, mengidentifikasi tanaman pakan kukang, dan meningkatkan nilai tambah hasil hutan.
(Tribunlampung.co.id/ Sulis Setia Markhamah)