Teknologi AI Bakal Akhiri Delay Pesawat?
GH News July 21, 2026 12:09 PM
Jakarta -

Traveler di Amerika Serikat sudah terbiasa menghadapi keterlambatan penerbangan yang sering mengganggu perjalanan. Kini, Federal Aviation Administration (FAA) menjanjikan perubahan besar lewat penerapan teknologi berbasis Artificial Intelligence (AI).

FAA menggelontorkan kontrak senilai USD 875 juta kepada perusahaan Air Space Intelligence (ASI) untuk menghadirkan dua sistem manajemen lalu lintas udara berbasis AI.

Tujuannya adalah memprediksi kemacetan udara lebih awal dan mengurangi keterlambatan penerbangan sebelum masalah terjadi. Salah satu sistem yang disiapkan bernama Smart.

Platform ini akan menganalisis data penerbangan untuk mendeteksi potensi konflik ruang udara dan kepadatan lalu lintas, lalu memberikan rekomendasi rute serta waktu keberangkatan kepada petugas pengatur lalu lintas udara sebelum pesawat lepas landas.

Sistem kedua, Flow Management Data and Services (FMDS), diproyeksikan menjadi pusat data utama pengendalian lalu lintas udara di AS. FMDS akan mempelajari jadwal maskapai, pola cuaca, kapasitas bandara hingga proyek perbaikan landasan untuk memprediksi arus penerbangan beberapa bulan sebelumnya.

Menurut Philip Mann, mantan spesialis sistem ruang udara nasional FAA, jika sistem ini bekerja sesuai rencana maka penumpang akan merasakan lebih sedikit keterlambatan.

Bahkan ketika cuaca buruk terjadi, dampaknya diperkirakan tidak akan menyebar luas ke seluruh jaringan penerbangan. "Dalam beberapa kasus mungkin jumlah penerbangan yang tersedia sedikit berkurang karena jadwal disesuaikan dengan kapasitas yang mampu ditangani saat cuaca buruk," ujarnya seperti dikutip Travel Weekly, Selasa (21/7/2026).

Meski demikian, sejumlah analis menilai target implementasi penuh sebelum akhir 2028 terlalu ambisius. Mereka menilai keberhasilan Smart dan FMDS bergantung pada proyek lain seperti sistem pelacakan pesawat baru, peningkatan deteksi cuaca, serta jaringan serat optik yang semuanya harus selesai dan terbukti berfungsi. Namun tidak semua analis yakin solusi terpusat dari FAA adalah langkah terbaik.

Michael Baiada, mantan pilot United Airlines yang kini memimpin ATH Group, menilai maskapai sebenarnya lebih memahami cara mengatur antrean penerbangannya sendiri. Ia mengibaratkan operasi penerbangan seperti sebuah jalur produksi yang seharusnya dikelola langsung oleh maskapai.

Menurut Baiada, jika pengaturan antrean penerbangan terlalu bergantung pada sistem FAA melalui platform Smart, maka seluruh maskapai akan disamakan pada standar yang paling rendah. "Sangat buruk bagi bisnis maskapai jika menyerahkan kendali aset utama kepada pemerintah," kata Baiada.

Di sisi lain, FAA tetap optimistis kedua sistem ini akan menggantikan pendekatan lama yang bersifat reaktif menjadi sistem yang lebih prediktif dan proaktif. Semua data penting akan ditempatkan dalam satu platform berbasis cloud sehingga pengambilan keputusan dapat dilakukan lebih cepat.

Dukungan awal juga datang dari industri penerbangan. Organisasi Airlines for America menyebut program ini sebagai langkah maju yang menjanjikan, meski tantangan terbesar nantinya adalah memastikan seluruh maskapai menerima kebijakan pengurangan jadwal penerbangan di area yang diprediksi mengalami kepadatan.

Jika proyek ini berhasil, pengalaman terbang di Amerika Serikat dalam beberapa tahun mendatang bisa menjadi jauh lebih baik. Penumpang mungkin tidak lagi terlalu sering menghadapi delay panjang yang selama ini menjadi keluhan utama saat bepergian dengan pesawat.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.