Harga Rumput Laut Kering di Tarakan Rp 21 Ribu per Kg dan Lembap Rp24 Ribu, Permintaan Meningkat
Junisah July 21, 2026 02:14 PM

TRIBUNKALTARA.COM, TARAKAN- Beberapa bulan terakhir harga rumput laut di Tarakan Kalimantan Utara mengalami kenaikan signifikan. Kondisi ini menjadi kabar baik bagi ribuan Pembudidaya Rumput Laut yang menggantungkan penghasilan dari sektor tersebut.

Kepala Bidang Perikanan Budidaya, Pengolahan dan Pemasaran Dinas Perikanan Tarakan, Husna Ersant Dirgantara mengungkapkan, saat ini harga rumput laut dengan kategori kering di tingkat pemasaran mencapai Rp21.000 per kilogram. Menurutnya, tren kenaikan harga sebenarnya sudah terjadi sejak awal tahun 2026.

"Jadi pada saat ini terjadi kenaikan harga. Sebelumnya dari Februari itu harga sudah mulai membaik dari Rp17.000 naik Rp18.000, kemarin sempat Rp20.000, nah sekarang mencapai Rp21.000 per kilonya," ujar Husna Ersant Dirgantara kepada TribunKaltara.com.

Husna Ersant Dirgantara menjelaskan, harga tersebut berlaku untuk rumput laut dengan kondisi kering. Sementara rumput laut yang masih dalam kondisi lembap juga mengalami kenaikan dibandingkan sebelumnya.

"Dengan kondisi kering ya. Sedangkan untuk yang lembap sekarang berkisar antara Rp13.000 sampai Rp14.000 yang lembap," ucap Husna Ersant Dirgantara.

Baca juga: Harga Rumput Laut  di Nunukan Tembus Rp17 Ribu/Kg, Petani Sumringah

Husna Ersant Dirgantara menuturkan, harga rumput laut lembap sebelumnya hanya berada di kisaran Rp9.000 hingga Rp10.000 per kilogram.

"Dari harga sebelumnya sekitar Rp9.000 sampai Rp10.000. Jadi kalau untuk kekeringannya yang bagus itu sekarang Rp21.000," ujarnya.

Di Tarakan sendiri, sebagian besar rumput laut yang dipasarkan merupakan kategori kering. Para pengumpul biasanya membeli rumput laut dalam kondisi lembap untuk kemudian dijemur kembali sebelum dikirim ke luar daerah.

"Jadi yang pengumpul ini dijemur lagi baru nanti mereka kirim. Jadi memang karena persyaratan dari yang penerima tujuan itu kekeringannya biasanya harus sesuai standar," jelasnya.

Ia menyebut jumlah pengumpul rumput laut di Tarakan cukup banyak dan tersebar di sejumlah kawasan pesisir. Tersebar di wilayah Pantai Amal sampai di Tanjung Batu, Tanjung Pasir.

Saat ini, Dinas Perikanan Kota Tarakan mencatat terdapat 1.669 pembudidaya rumput laut yang tergabung dalam 54 kelompok budidaya. Mengenai penyebab kenaikan harga, Husna mengatakan faktor utama berasal dari meningkatnya permintaan pasar yang tidak diimbangi dengan ketersediaan stok.

Menurutnya, kondisi cuaca pancaroba yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir menyebabkan produksi menurun di sejumlah daerah penghasil rumput laut.

"Karena memang permintaan sekarang meningkat. Cuma memang produksi, karena sekarang kan lagi musim pancaroba. Sehingga produksi sedikit menurun," ujarnya.

Ia menambahkan, kondisi serupa juga terjadi di daerah penghasil rumput laut lainnya seperti Sulawesi.

"Di Sulawesi pun saya lihat kemarin mereka mengurangi produksi karena situasi cuaca yang tidak memungkinkan. Kita di sini kemarin juga banyak permasalahan karena pancaroba ini. Yang penyakit itu, terus gagal panen," katanya.

Baca juga: Harga Jual Rumput Laut Kering Anjlok, Pemudidaya di Tarakan Berharap Ada Pabrik Pengolahan

Akibat berkurangnya produksi, stok rumput laut di pasaran menjadi lebih sedikit sementara permintaan industri tetap tinggi.

"Sehingga stok berkurang, sedangkan permintaan masih tetap. Nah otomatis hukum pasar kan seperti itu. Karena orang butuh sehingga harga pun naik," jelas Husna Ersant Dirgantara.

Dari sisi produksi, Tarakan sempat mencatat peningkatan cukup tinggi pada awal tahun. Pada Januari 2026 produksi rumput laut kering mencapai sekitar 1.651 ton. Kemudian pada Februari naik menjadi 1.798 ton. Produksi kembali melonjak pada Maret hingga mencapai sekitar 2.734 ton.

"Pada bulan Maret, April ini kebetulan harga bagus. Harga bagus, terus produksi kita juga tinggi. Itu jadi sekitar 2.734 ton. Jadi kenaikannya hampir 1.000 ton dari bulan Februari ke bulan Maret," ungkapnya.

Namun memasuki April, produksi mulai mengalami penurunan meski tidak terlalu signifikan.

"Itu sekitar 2.465 ton produksi kita. Nah di bulan Mei ini masih kita rekap. Itu memang terjadi penurunan di bulan Mei karena panen sudah mulai agak kurang karena kondisi ada gagal panen," katanya.

Selain faktor permintaan dan produksi, Husna Ersant Dirgantara mengakui nilai tukar dolar Amerika Serikat yang menguat juga turut memberikan pengaruh terhadap harga rumput laut.

"Ada juga pengaruhnya. Karena sampai Rp18 ribu dari tukaran juga kan," ujarnya.

Meski demikian, menurutnya kenaikan harga tidak semata-mata dipicu oleh kurs dolar, melainkan lebih dominan karena mekanisme pasar.

"Itu salah satu sisi keuntungannya. Dan juga sebetulnya sih karena hukum pasar saja. Dulu juga waktu dolar naik, ada waktu harga turun karena permintaan juga memang turun," katanya.

Husna Ersant Dirgantara 21072026
HUSNA ERSANT DIRGANTARA-Kepala Bidang Perikanan Budidaya, Pengolahan dan Pemasaran Dinas Perikanan Kota Tarakan, Husna Ersant.

Husna Ersant Dirgantara menjelaskan, meningkatnya kebutuhan industri pengolahan rumput laut di luar negeri menjadi salah satu pemicu tingginya permintaan saat ini.

"Kebutuhan industri di China, di Eropa memang tinggi," ucapnya.

Untuk jalur distribusi, rumput laut dari Tarakan umumnya dikirim ke Surabaya dan Pinrang, Sulawesi Selatan, sebelum diolah dan diekspor ke berbagai negara.

"Kebanyakan ada yang ke Surabaya, ada yang ke Pinrang. Nah dari Pinrang nanti diolah baru diekspor. Karena di Pinrang itu ada pabrik terbesar di Asia Tenggara sehingga bisa menerima ribuan ton di sana," jelasnya.

Adapun negara tujuan ekspor yang paling banyak menyerap rumput laut Indonesia adalah China. Selain itu, pasar Eropa juga masih menjadi tujuan utama ekspor.

"Biasanya kita ekspornya ke China. Selain China, Eropa juga ada, termasuk Inggris," katanya.

Menurut Husna Ersant Dirgantara, menguatnya dolar memang membawa tantangan bagi sektor impor. Namun bagi komoditas ekspor seperti rumput laut, kondisi tersebut dapat memberikan keuntungan karena nilai jual produk ikut meningkat.

"Kalau dari sisi ekspor ya. Kalau dari sisi impor kan kita juga berpengaruh," pungkasnya.

(*)

Penulis: Andi Pausiah

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.