Tribunlampung.co.id, Pesawaran - Komandan Brigif 4 Marinir/BS, Kolonel Marinir Kanang Budi Raharjo, menyebutkan bahwa progres pengerjaan dermaga di depan Pusat Latihan Pertempuran (PLP) dan Batalyon Infanteri 7 Marinir/Dermaga Caligi, untuk sandar kapal induk dari Italia sudah mencapai 80 persen.
Baca Juga: Danbrigif 4 Marinir Ajak Insan Pers Bersinergi Kawal Pembangunan dan Kontrol Sosial
Dermaga yang disiapkan telah memiliki panjang sekitar 400 meter dan lebar 20 meter.
"Diharapkan pada September mendatang, pangkalan tersebut sudah siap sepenuhnya untuk menyambut kedatangan kapal induk tersebut dari Italia," kata Kolonel Marinir Kanang Budi Raharjo, saat diwawancarai di Mako Brigif 4 Marinir BS di Pesawaran, Selasa (21/7/2026).
Diteruskannya, kawasan Teluk Ratai, Kabupaten Pesawaran, Lampung, tengah bersiap menjadi sejarah baru bagi pertahanan militer Indonesia.
Dermaga di wilayah ini sedang dipersiapkan untuk menjadi pangkalan sandar kapal induk pertama yang dibeli Indonesia dari Italia.
"Jadi pengerjaan fasilitas pendukung dermaga terus dikebut dan ditargetkan rampung pada akhir Agustus, saat ini sudah 80 persen pengerjaannya," terangnya.
Ia mengatakan, fasilitas sedang dikebut dilebarkan dan dipancangkan sehingga memenuhi standar untuk pangkalan kapal induk, termasuk fasilitas listrik dan air.
Kanang menjelaskan bahwa dermaga tersebut dikembangkan hingga memiliki panjang sekitar 600 meter agar mampu menampung kapal berukuran raksasa.
"Tidak hanya kapal induk, dermaga ini juga dirancang untuk menampung armada pendukung lainnya dan kapal induk itu tidak bisa berdiri sendiri," kata Kanang.
Tetapi merupakan satu satuan gugus tugas dan nanti ada kapal eskorta, satuan kapal penyapu ranjau, hingga kapal cepat yang akan bersandar di Lampung.
"Selain itu akan ada sekitar 100 tenaga kerja atau pengawak asing yang ikut mendampingi di Lampung dalam rangka proses Transfer of Technology (ToT)," ujarnya.
Terkait kekhawatiran bersinggungannya aktivitas militer dengan jalur pariwisata, mengingat Teluk Ratai berada di lintasan penyeberangan wisata seperti Pulau Pahawang.
Pihaknya menegaskan bahwa kawasan Ketapang hingga Teluk Ratai merupakan kawasan pertahanan strategis.
Ia mengatakan, secara operasional, dermaga ini nantinya akan berada di bawah komando Armada 1.
Kemudian pengawasan dan pengendalian penuh berada di bawah naungan TNI Angkatan Laut.
"Pengadaan kapal induk pertama ini dibeli dari Italia di zamannya Pak Prabowo saat menjadi Menteri Pertahanan. Alhamdulillah Lampung ditunjuk menjadi pangkalannya," kata Kolonel Marinir Kanang.
Ia menjelaskan bahwa ada 100 orang asing pengawak yang hadir untuk melaksanakan alih teknologi dan pembelajaran Kodal (Komando dan Pengendalian) di Lampung.
Danbrigif Kanang juga meluruskan isu terkait pelebaran jalan utama menuju kawasan markas Marinir di Pesawaran.
Ia menegaskan bahwa proyek pelebaran jalan tersebut merupakan kewenangan Pemerintah Daerah (Pemda) dan bukan semata-mata atensi internal Marinir.
Dirinya membeberkan ada tiga pertimbangan strategis utama di balik pelebaran akses jalan tersebut.
Pertama pada sektor pertahanan strategis yakni kawasan tersebut akan dikembangkan menjadi pangkalan armada terpadu.
"Selain dermaga kapal induk, ke depan akan dibangun dermaga kapal selam serta landasan pacu pesawat tempur di kawasan Teluk Ratai," kata Kanang.
Kemudian kebutuhan akses cepat dengan pengembangan kawasan pertahanan strategis terpadu membutuhkan mobilitas tinggi dan kecepatan akses transportasi.
Kanang menjelaskan bahwa dengan dukungan kawasan pariwisata, maka wilayah pesisir Pesawaran merupakan destinasi wisata unggulan.
Proyek pelebaran jalan ini mendapat dukungan anggaran (back-up) langsung dari Pemerintah Pusat guna mendorong percepatan roda ekonomi dan pariwisata daerah.
Dengan hadirnya pangkalan kapal induk dan ratusan personel militer di Lampung dinilai menjadi angin segar bagi perekonomian lokal.
Kolonel Kanang mengajak masyarakat untuk melihat potensi besar di balik proyek nasional ini.
"Satu kapal induk itu dihuni ratusan hingga ribuan personel. Mereka butuh makan, tempat tinggal, hingga hiburan. Ini peluang ekonomi yang sangat besar yang bisa diambil oleh daerah dan masyarakat lokal," paparnya.
Saat ditanya pembangunan dermaga untuk kapal induk dan menjadikan markas wilayah TNI wilayah barat, Kanang mengatakan, secara operasional dermaga ini di bawah Armada 1.
"Tapi pengendalian seluruhnya tentunya di bawah TNI Angkatan Laut," tukasnya.
(Tribunlampung.co.id/Bayu Saputra)