Harga Rumput Laut di Tarakan Naik, Pembudi Daya Bersyukur Cukup Buat Putar Modal dan Beli Bensin
Junisah July 21, 2026 06:14 PM

TRIBUNKALTARA.COM, TARAKAN- Setelah beberapa tahun terakhir dihantam harga rendah dan hasil panen yang tak menentu. Kini harga rumput laut naik dan membawa sedikit anging segar bagi petani yang ada di Pesisir Pantai Amal Tarakan Kalimantan Utara. 

Meskipun harga rumput laut mengalami kenaikan, bagi para Pembudidaya Rumput Llaut hal ini elum sepenuhnya mampu mengangkat kesejahteraan keluarga. Harga rumput laut yang agak membaik saat ini dinilai baru cukup menutupi biaya operasional melaut, terutama pembelian bahan bakar dan kebutuhan selama bekerja di laut.

Hal itu diungkapkan Lili, warga RT 7 Pantai Amal yang sehari-hari bergelut sebagai petani pemukat rumput laut sekaligus pengumpul rumput laut, Selasa (21/7/2026).

Saat  ditemui TribunKaltara.com Lili tengah mengayun anaknya. Tapi Lilit tetap mau berbagi cerita suka duka menjadi petani rumput laut.

Menurut Lili, kenaikan harga baru terjadi sekitar dua pekan terakhir setelah sebelumnya harga rumput laut berada di titik yang cukup rendah.

Baca juga: Harga Rumput Laut Kering di Tarakan Rp 21 Ribu per Kg dan Lembap Rp24 Ribu, Permintaan Meningkat

"Memang terjadi kenaikan harga. Baru air ini naiknya, sekitar dua minggu," ujarnya saat ditemui di lokasi penjemuran rumput laut.

Ia menjelaskan harga rumput laut tidak bisa disamaratakan karena bergantung pada tingkat kekeringan dan kadar air yang masih terkandung di dalamnya. Untuk rumput laut yang masih tergolong lembap, harga saat ini berkisar Rp10 ribu hingga Rp11 ribu per kilogram.

"Kemarin harga keringnya kisaran Rp10 ribuan. Kita ada yang beli Rp10 ribu, Rp11 ribu, itu masih lembap," katanya.

Harga tersebut jauh lebih baik dibanding beberapa waktu lalu ketika rumput laut hanya dihargai Rp8.500 hingga Rp9 ribu per kilogram.

"Bulan-bulan kemarin sempat harga Rp8.500 sampai Rp9 ribu. Sekarang mulai naik Rp10 ribu sampai Rp11 ribu," ujarnya.

Bahkan pada kondisi tertentu, rumput laut yang lebih kering bisa dibeli hingga Rp14 ribu sampai Rp15 ribu per kilogram.

Baca juga: Harga Rumput Laut  di Nunukan Tembus Rp17 Ribu/Kg, Petani Sumringah

"Kalau keringnya di lapangan ada yang beli Rp14 ribu sampai Rp15 ribu juga," katanya.

Meski demikian, harga saat ini masih jauh dibanding masa kejayaan rumput laut beberapa tahun silam. Lili mengaku pernah merasakan masa ketika harga rumput laut mencapai lebih dari Rp20 ribu hingga mendekati Rp30 ribu per kilogram untuk kondisi lembap.

"Saya pernah dapat harga Rp20 ribu lebih, hampir Rp30 ribu waktu itu. Itu memang jaya-jayanya petani," kenangnya.

Saat harga sedang tinggi, menurutnya hasil yang diperoleh petani masih mampu memberikan keuntungan meski hasil panen tidak terlalu banyak.

"Waktu itu walaupun dapat sedikit, pembagiannya ada saja. Alhamdulillah dapat, karena harganya tinggi," ujarnya.

Berbeda dengan kondisi sekarang. Meski harga mulai merangkak naik, hasil yang diperoleh petani masih belum cukup untuk memenuhi seluruh kebutuhan rumah tangga.

"Kalau sekarang di harga Rp11 ribu sampai Rp12 ribu masih belum mencukupi. Masih baru nutup uang bensin, uang makan dan ongkos-ongkos di perahu," kata Bu Lili.

Ia mengaku sebagian besar pendapatan yang diperoleh masih berputar untuk modal melaut. "Putar begitu saja modalnya. Belum nutup untuk anak-anak sekolah," tuturnya.

Biaya hidup yang terus meningkat, menjadi tantangan tersendiri bagi keluarga petani rumput laut. Lili akui harga kebutuhan pokok yang terus naik membuat penghasilan dari rumput laut semakin tergerus.

"Untuk dimakan juga harga-harga sekarang naik. Beras naik, minyak goreng juga naik," ujarnya.

Ia menyebut minyak goreng dua liter yang biasa dibeli kini mencapai Rp48 ribu.

"Harganya Rp48 ribu dua liter. Kita cari yang murah-murah saja," katanya.

RUMPUT LAUT - Tampak rumput laut dari pembudidaya dijemur lagi sebelum diambil pengumpul keluar daerah.
RUMPUT LAUT - Tampak rumput laut dari pembudidaya dijemur lagi sebelum diambil pengumpul keluar daerah. (TribunKaltara.com/Andi Pausiah)

Sementara kebutuhan beras untuk keluarga beranggotakan lima orang mencapai sekitar 20 kilogram per bulan.

"Enggak cukup kalau cuma 10 kilogram. Saya punya anak tiga, jadi lima orang di rumah," ujarnya.

Selain persoalan harga, pembudidaya juga menghadapi tantangan produksi akibat cuaca panas yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir. Lili mengatakan banyak bibit rumput laut yang mengalami kerusakan karena terpapar panas berkepanjangan.

"Rusaknya karena cuaca. Kalau terlalu panas begini, bibit baru otomatis menguning," katanya.

Menurutnya, bibit rumput laut lebih cocok ditanam saat kondisi cuaca tidak terlalu terik atau ketika turun hujan.

"Kalau masih baru memang berpengaruh sekali sama cuaca matahari," ujarnya.

Akibat kondisi tersebut, hasil panen rumput laut yang diperoleh para petani belum maksimal.

"Rumput masih ada, tapi enggak banyak," katanya.

Dalam sekali turun melaut, hasil yang diperoleh terkadang tidak sampai 100 kilogram. Kadang juga di bawa 100 kilogram. Padahal biaya operasional yang harus dikeluarkan tidak sedikit. Untuk kegiatan pemukat atau pengambilan rumput laut di laut, biaya bahan bakar bisa mencapai Rp400 ribu per 1-2 kali turun ke laut. Biaya tersebut belum termasuk konsumsi awak perahu yang biasanya berjumlah tiga orang.

"Mana uang makan di perahu, mana bensinnya. Baru nanti dibagi lagi hasilnya," ujarnya.

Karena itu, menurut  Lili, harga ideal yang diharapkan petani berada di kisaran Rp15 ribu per kilogram agar pendapatan dan biaya operasional lebih seimbang.

"Kalau ideal ya Rp15 ribu. Tapi sekarang yang banyak dijual petani itu masih lembap, jadi harganya Rp10 ribu sampai Rp11 ribu," katanya.

Meski belum sepenuhnya memulihkan kondisi ekonomi petani, Lili tetap bersyukur harga rumput laut mulai bergerak naik setelah sempat terpuruk.

"Kita bersyukur sekali sudah ada kenaikan begini dari sebelumnya. Karena dulu harga murah sekali, sampai kadang tidak cukup untuk bayar bensin," tukasnya.

(*)

Penulis: Andi Pausiah

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.