SURYA.CO.ID, SURABAYA – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa terus mengoptimalkan program Pasar Murah sebagai upaya menjaga stabilitas harga bahan pokok sekaligus memperkuat daya beli masyarakat di tengah potensi inflasi.
Langkah taktis ini dilancarkan secara masif ke berbagai penjuru daerah demi memastikan kebutuhan pangan warga tetap terpenuhi tanpa gejolak.
Intervensi pasar secara intensif dipandang penting untuk meredam lonjakan harga pangan yang mengancam kesejahteraan masyarakat bawah.
Pemprov Jatim berkomitmen hadir langsung menyapa dan meringankan beban hidup masyarakat di tengah bayang-bayang fluktuasi ekonomi global.
Baca juga: Raih Potensi 80 Ribu Ton Kopi, Gubernur Khofifah Genjot Kopi dan Kakao Jatim Tembus Pasar Dunia
Hingga pertengahan Juli 2026, Pemerintah Provinsi Jawa Timur telah menggelar Pasar Murah sebanyak 84 kali di berbagai daerah.
Program terbaru digelar di halaman Kantor Kecamatan Larangan, Kabupaten Pamekasan dan hari ini dilakukan di Kabupaten Sampang, Selasa (21/7/2026).
Khofifah mengatakan, pelaksanaan Pasar Murah merupakan salah satu langkah konkret Pemprov Jatim dalam mengendalikan inflasi melalui intervensi harga komoditas pokok agar tetap terjangkau oleh masyarakat.
“Setiap Selasa ada rakor bersama Mendagri soal inflasi maka sebetulnya bagian dari kita melakukan penetrasi dari kemungkinan terjadinya potensi inflasi. Kita terus keliling melakukan penjangkauan dan memaksimalkan penguatan daya beli masyarakat melalui pasar murah,” ujarnya.
Menurut Khofifah, program itu tidak hanya menjaga keterjangkauan harga, tetapi juga memastikan masyarakat tetap memiliki akses terhadap kebutuhan pokok di tengah fluktuasi harga pangan.
Dalam Pasar Murah itu, masyarakat dapat membeli berbagai komoditas dengan harga subsidi, antara lain beras premium Rp14.000 per kilogram, beras medium Rp11.000 per kilogram, minyak goreng Rp13.000 per liter, telur ayam ras Rp20.000 per pak, tepung terigu Rp10.000 per kilogram, gula pasir Rp14.000 per kilogram, bawang putih Rp6.000 per 250 gram, bawang merah Rp6.000 per 250 gram, paket cabai Rp5.000 per 200 gram, hingga daging ayam ras Rp32.000 per kilogram.
Khofifah menjelaskan, harga yang dijual jauh di bawah harga pasar diharapkan dapat mengurangi beban belanja masyarakat sekaligus menjaga stabilitas harga di tingkat konsumen.
“Misalnya daging ayam di Pamekasan harga Rp39.000 - Rp40.000 per kg, kita menjual di sini Rp32.000 per kg. Lalu MinyaKita mungkin di pasar harganya sampai Rp16.000 per liter, di sini kita jual Rp13.000 per liter, kemudian gula harganya rata-rata Rp17.500 per kg, kita jual di sini Rp14.000 per kg,” jelasnya.
“Jadi pada dasarnya pasar murah sifatnya meluaskan penjangkauan kepada masyarakat. Mudah-mudahan daya beli mereka semakin kita siapkan di pasar murah, semakin terjangkau dan stabilisasi harga bisa kita lakukan,” imbuhnya.
Baca juga: Khofifah Gencarkan Pasar Murah di Jatim demi Tekan Kenaikan Harga Cabai
Selain menjaga stabilitas harga, Pasar Murah juga dimanfaatkan sebagai sarana pemberdayaan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Berbagai produk UMKM lokal turut dipasarkan sehingga mendapat kesempatan menjangkau lebih banyak konsumen.
“Selalu Ada UKM yang memberseiringi Pasar Murah untuk menguatkan posisi UKM di mana saja supaya UKM naik kelas,” katanya.
Khofifah menjelaskan, setiap pelaksanaan Pasar Murah juga menjadi bagian dari proses kurasi produk UMKM.
Produk yang dinilai memiliki kualitas baik akan memperoleh pendampingan lebih lanjut hingga berpeluang mengikuti misi dagang yang difasilitasi Pemprov Jatim.
“Tampak sederhana tapi ini adalah proses bagaimana kita saling melihat produk-produk UKM di setiap titik Pasar Murah sambil melakukan kurasi. Biasa ada satu dua pack yang saya ambil lalu biasanya saya sendiri yang menjadi testernya,” ujarnya.
“Kemudian nanti ada tim dari Disperindag atau UKM yang akan melakukan penguatan pendampingan dan berikutnya di setiap misi dagang selalu ada pelaku UKM yang kita bawa untuk meluaskan pasar dari produk-produk UKM,” jelasnya.
Khofifah berharap pelaksanaan Pasar Murah yang digelar secara berkelanjutan di berbagai kabupaten dan kota mampu memberikan manfaat ganda, yakni menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok sekaligus memperkuat perekonomian masyarakat melalui pengembangan UMKM.
“Dengan distribusi bahan pangan yang lebih mudah diakses masyarakat, diharapkan gejolak harga dapat ditekan dan ketersediaan komoditas pokok tetap terjaga di berbagai wilayah,” pungkasnya