IRGC Iran: Terima Kasih Intelijen Yordania Sudah Berikan Posisi Akurat Pasukan Amerika
TRIBUNNEWS.COM - Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) mengklaim mendapatkan dukungan informasi intelijen dari sejumlah warga sipil dan personel militer Yordania dalam operasi serangan terhadap aset militer Amerika Serikat di negara tersebut.
Menurut IRGC, informasi tersebut membantu Iran menentukan sasaran dalam serangan rudal balistik terbaru terhadap fasilitas militer Amerika Serikat di Yordania.
Baca juga: Serangan ke Yordania Bukti Rudal Iran Kian Canggih dan Sulit Dicegat Sistem Pertahanan Amerika
"IRGC menyampaikan rasa terima kasih kepada “rakyat terhormat dan prajurit pemberani Yordania” atas “kerja sama yang tulus dan informasi yang akurat,” yang membantu pasukan Iran menentukan lokasi aset militer AS," bunyi pernyataan itu.
IRGC menyebut rudal Iran menargetkan pesawat angkut militer C-17 dan pesawat komando serta kendali P-8 milik AS yang berada di Lapangan Udara Aqaba, Yordania selatan.
Iran mengklaim sejumlah pesawat mengalami kerusakan berat, meski klaim tersebut belum dikonfirmasi secara independen oleh pihak Amerika Serikat maupun Yordania.
Baca juga: Laporan NYT: Serangan Iran di Yordania Hajar Lebih dari 20 Unit Helikopter Black Hawk AS
Dalam pernyataannya, IRGC juga menyebut informasi intelijen dari sumber di Yordania membantu mereka mengidentifikasi sekitar 20 hanggar yang digunakan untuk menampung pasukan Amerika Serikat di kawasan Al-Azraq.
Klaim tersebut muncul di tengah meningkatnya ketegangan antara Iran dan AS, sekaligus menyoroti upaya Teheran untuk menunjukkan kalau kehadiran militer Washington di kawasan tidak sepenuhnya aman.
Namun, belum ada pernyataan resmi dari pemerintah Yordania mengenai tuduhan adanya kerja sama intelijen antara warga atau tentaranya dengan Iran.
Yordania selama ini merupakan salah satu mitra keamanan utama Amerika Serikat di Timur Tengah dan menjadi lokasi penempatan pasukan serta fasilitas militer AS.
Sebelumnya, Amerika Serikat mengonfirmasi serangan Iran terhadap salah satu fasilitas militernya di Yordania pada 17 Juli menyebabkan dua tentara AS tewas, satu orang hilang, serta sejumlah personel lainnya terluka.
Namun, Washington belum memberikan konfirmasi mengenai klaim Iran terkait kerusakan pesawat di Lapangan Udara Aqaba.
Iran sebelumnya juga beberapa kali menyatakan berhasil menghancurkan pesawat dan peralatan militer Amerika Serikat dalam serangan terhadap pangkalan AS di kawasan tersebut.
Sejumlah laporan media internasional menyebut pejabat AS mengkhawatirkan peningkatan kemampuan rudal Iran, terutama dalam menghindari sistem pertahanan udara melalui kecepatan tinggi dan kemampuan manuver.
Sebelum konflik kembali meningkat, Pentagon dilaporkan memindahkan sebagian pasukan dan aset militernya dari Qatar serta Uni Emirat Arab ke Yordania dan Israel.
Kedua negara tersebut dinilai memiliki posisi yang relatif lebih aman karena jaraknya lebih jauh dari wilayah Iran dibandingkan pangkalan AS lainnya di kawasan Teluk.
Namun, serangan terbaru menunjukkan bahwa pangkalan militer AS di negara-negara sekutu regional tetap menjadi sasaran potensial dalam eskalasi konflik Iran-Amerika Serikat.
(oln/vna/tasnim/*)