Jakarta (ANTARA) - Ratu wushu Indonesia Lindswell Kwok meminta Chef de Mission (CdM) Tim Indonesia untuk Asian Games 2026 Todotua Pasaribu untuk menjaga mental para atlet wushu agar bisa menghadapi tekanan selama di Jepang.
"Yang paling penting sebenarnya adalah psikologis atlet. Kepercayaan diri mereka saat berada di arena sangat dipengaruhi oleh bagaimana persiapan yang dibangun sejak jauh-jauh hari. Untuk cabang olahraga seperti wushu, atlet bertanding secara individu sehingga kesiapan mental menjadi sangat penting," kata Linswell Kwok dalam kegiatan kunjungan CdM Todotua Pasaribu ke pemusatan latihan nasional wushu di Jakarta, Selasa.
Juara dunia wushu nomor taijiquan dan taijijian lima kali itu mengatakan kesiapan mental atlet sangat berkaitan dengan pemenuhan seluruh kebutuhan sebelum pertandingan.
Aspek psikologis, kata dia, berarti penting bagi cabang olahraga yang mengandalkan performa individu seperti wushu. Alasannya, atlet harus mampu mengelola tekanan dan tampil optimal dengan kesiapan diri sendiri.
Lindswell yang menjadi pelatih dalam pelatnas wushu menjelaskan dukungan yang baik di luar arena dapat meningkatkan rasa percaya diri atlet ketika menghadapi lawan. Pernyataan tersebut dilatarbelakangi pengalaman Lindswell saat mengikuti sejumlah pertandingan tingkat internasional.
"Ketika menjalani training camp di luar negeri, perlengkapan lengkap, baju disiapkan dengan baik, semuanya dipersiapkan dengan matang, suasananya berbeda sekali ketika masuk ke arena pertandingan. Mental atlet menjadi jauh lebih siap dibandingkan kalau hanya berlatih di kandang sendiri," kata atlet peraih medali emas dan perak pada Asian Games 2014 dan 2018 itu.
Selain faktor mental, Lindswell juga menyampaikan arti penting perhatian terhadap detail pelayanan selama mengikuti ajang multi cabang internasional. Kenyamanan atlet, mulai dari akomodasi, transportasi, hingga kebutuhan pendukung lainnya, dapat membantu atlet menjaga fokus menjelang pertandingan.
CdM Todotua mengatakan masukan dari atlet dan mantan atlet atau pelatih, menjadi bagian penting dalam membangun sistem pelayanan kontingen Indonesia.
Setiap kunjungan ke cabang olahraga, menurutnya, bukan hanya dilakukan untuk melihat perkembangan latihan, melainkan juga membuka ruang diskusi untuk memahami kebutuhan atlet dari pengalaman langsung mereka.
"Kami ingin mendengar langsung dari mereka yang pernah berada di lapangan. Atlet dan mantan atlet adalah pihak yang paling memahami kebutuhan selama mengikuti multi-event," katanya.
Dia mengatakan berbagai masukan yang diterima menjadi yang menjadi bekal bagi tim CdM untuk memastikan pelayanan kepada kontingen benar-benar menjawab kebutuhan atlet ketika berada dalam Asian Games.
Todotua menambahkan tugas CdM bukan hanya mengatur keberangkatan kontingen, tetapi memastikan seluruh kebutuhan atlet terpenuhi agar mereka dapat berkonsentrasi penuh menghadapi pertandingan.





