Alasan Kesehatan, Nanik S Deyang Mundur dari Kepala BGN: Pak Presiden Prabowo Prihatin dengan Saya
Sri Juliati July 22, 2026 10:38 AM

TRIBUNNEWS.COM - Nanik Sudaryati Deyang telah memutuskan untuk mundur dari jabatannya sebagai Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), badan yang mengurusi program andalan Presiden RI Prabowo Subianto, Makan Bergizi Gratis (MBG).

Diketahui, Nanik S Deyang yang dikenal sebagai jurnalis senior itu dilantik Prabowo menjadi Kepala BGN baru pada Senin (8/6/2026) lalu menggantikan Dadan Hindayana yang dicopot lantaran terjerat kasus dugaan korupsi tata kelola program MBG.

Saat itu, Nanik dilantik bersama Agustina Arumsari dan Mayjen (Purn) Trenggono yang menjabat sebagai Wakil Kepala BGN.

Sebelumnya, Nanik menjabat sebagai Wakil Kepala BGN, saat Dadan Hindayana masih menduduki posisi Kepala BGN.

Konfirmasi keputusan Nanik untuk mundur dari jabatan Kepala BGN diunggah di akun media sosial Facebook-nya, Naniek Sudaryati Deyang, Rabu (22/7/2026) pagi.

Ini artinya, wanita berusia 58 tahun tersebut hanya menjabat Kepala BGN selama kurang lebih 1 bulan 14 hari (1,5 bulan).

Jurnalis senior yang pernah menjabat sebagai salah satu tim sukses Prabowo dalam pencalonan presiden di Pemilihan Presiden atau Pilpres 2019 itu mengungkapkan, kesehatan menjadi alasan utama dirinya mundur.

Dalam unggahannya, Nanik mengaku berat hati saat harus berpamitan kepada Prabowo untuk mundur dari Kepala BGN.

Ia berencana melakukan pengobatan di luar negeri untuk kesehatan jantungnya, dan akan berangkat pada Rabu (22/7/2026) hari ini juga.

"Dengan berat hati akhirnya saya pamit Bapak presiden untuk melakukan pengobatan di luar negeri untuk jantung saya, rencananya hari ini, Rabu (22/7) saya berangkat," tulis Nanik.

"Ini bukan karena tidak percaya dokter hebat di Indonesia, tapi untuk second opinion dan kebetulan ada kawan yang merekomendasikan di tempat yang mau saya tuju."

Baca juga: Jejak 1,5 Bulan Nanik Deyang di BGN: Menangis saat Dilantik, Kini Mundur karena Alasan Kesehatan

Nanik juga meminta maaf kepada Prabowo.

Menurut dia, Prabowo sudah memaklumi kondisi kesehatannya.

Meski demikian, Nanik juga mengklaim, Prabowo masih meminta dirinya untuk ikut mengawasi BGN melalui sebuah dewan pengawas khusus yang akan dibentuk.

Kata Nanik, dirinya diminta untuk menjadi ketua dewan pengawas tersebut.

Nanik pun berseloroh, dirinya masih mau untuk melakukan tugas pengawasan, tetapi tidak jika berurusan dengan uang.

"Saya sampaikan ke presiden juga dengan beribu maaf sepertinya saya harus mundur sebagai Kepala BGN, demi kesehatan saya, dan karena presiden prihatin dan kasihan dengan saya, presiden menyetujui," tulis Nanik.

"Namun, saya diminta tetap ikut mengawasi BGN. Kemungkinan presiden akan membentuk dewan pengawas di mana saya disuruh menjadi ketua dewan pengawasnya (kalau mencereweti kayaknya masih bisa, yang penting tidak berhubungan dengan pegang uang, sumpah trauma akut [3 emoji tertawa])."

Dikonfirmasi Asisten Khusus Presiden

Pengunduran diri Nanik S Deyang dari jabatan Kepala BGN dikonfirmasi langsung oleh Dirgayuza Setiawan, Asisten Khusus Presiden Bidang Komunikasi dan Analisa Kebijakan.

Dirgayuza menyebut, Nanik sudah berpamintan langsung dengan Presiden RI Prabowo Subianto.

Ia juga menjelaskan, Nanik akan menjalani pengobatan jantung.

"Hari ini, 22 Juli 2026, Ibu Nanik Deyang berpamitan kepada Presiden Prabowo untuk menjalani pengobatan jantung. Beliau juga mengundurkan diri sebagai Kepala Badan Gizi Nasional," ujar Dirga kepada Kompas.com, Rabu (22/7/2026).

Dirgayuza memaparkan, dirinya telah mengenal Nanik sejak menjelang Pemilihan Umum atau Pemilu 2014.

Menurutnya, selama lebih dari satu dekade dirinya melihat satu hal yang tidak pernah berubah dari Nanik, yakni tidak bisa diam ketika melihat rakyat menghadapi ketidakadilan dan kesulitan.

"Ketika dipercaya Presiden memimpin BGN, hanya dalam satu setengah bulan, ia membongkar masalah dan meletakkan fondasi perbaikan," jelas Dirgayuza.

Ia juga melihat bagaimana MBG menghidupkan ekonomi rakyat. 

"Ketika program berhenti selama tiga minggu libur sekolah, petani dan peternak mengeluh hasil produksinya tidak terserap. Pedagang pasar harus membuang sayur dan buah karena kehilangan pembeli," pungkasnya.

(Tribunnews.com/Rizki A.) (Kompas.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.