Lewat Antologi 'Kembang', Oka Rusmini Suarakan Suara Sunyi Perempuan Penyintas Tragedi 1965
Putu Dewi Adi Damayanthi July 22, 2026 11:03 AM

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR — Gerakan literasi dalam perhelatan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII kembali menghadirkan ruang diskusi mendalam. 

Menggandeng Beranda Pustaka, forum literasi ini menghadirkan sastrawan terkemuka asal Bali, Oka Rusmini, untuk membedah antologi puisi terbarunya yang berjudul Kembang. 

Karya tersebut mengangkat narasi sejarah kelam tragedi 1965 dengan menyoroti nasib kaum perempuan yang kerap terpinggirkan dari catatan sejarah formal.

Dipandu moderator Wayan Esa Bhaskara, bedah buku berlangsung di Kalangan Ayodya pada Selasa malam 21 Juli 2026. 

Baca juga: Eka Kurniawan Bedah Novel O dan Proses Kreatif di Festival Seni Bali Jani VIII

Esa mengupas tuntas seluk-beluk estetika antologi Kembang, mulai dari pilihan diksi arkaik bernuansa magis, penggunaan peribahasa lama, hingga olah rima yang didominasi akhiran digraf /ng/.

Melalui Kembang, Oka berupaya membongkar ingatan sejarah yang retak, khususnya jejak para perempuan penyintas 1965 yang bertahun-tahun terisolasi dalam kesunyian, stigma negatif, serta penghapusan narasi. 

Antologi ini hadir sebagai manifesto subversif yang mendobrak dominasi sejarah maskulin dan mengembalikan agensi perempuan ke pusat kebenaran, bukan sekadar pelengkap catatan kaki.

"Jadi saya katakan tak lagi lantang atau teriak-teriak. Karena saat mewawancarai para penyintas perempuan yang mengalami tragedi 1965 tidak ingin dengar dan dilibatkan isu itu. Mereka ingin tenang," kata Oka.

Guna merampungkan buku yang merekam rekam jejak perempuan terlupakan ini, Oka menghabiskan waktu riset dan penulisan selama enam tahun. 

Jalannya diskusi memantik respons antusias serta pertanyaan dari deretan tokoh yang hadir, mengingat jajaran penonton turut diisi oleh penyair kenamaan Bali seperti Tan Lioe Ie, Wayan Jengki, dan Made Sujaya.

Berbeda dari gaya kritiknya yang biasa dilontarkan secara vokal, kali ini Oka memilih pendekatan yang lebih halus—seolah "berbisik" di ruang domestik dan lorong-lorong sejarah untuk menggali kembali memori perempuan yang terkubur oleh kuasa politik, agama, serta tradisi. 

Kumpulan puisi ini digambarkannya sebagai luapan kemarahan terpendam yang diwujudkan secara sublim dan tenang, merepresentasikan bagaimana ikatan stigma membuat para perempuan penyintas 1965 tidak berani bersuara dan terasingkan.

"Melihat ke Bali kesedihan. Luka-luka kemandirian jadi potret luar biasa berikan sisi letak sejarah hilang," tuturnya.

Menggunakan pendekatan mikrosejarah (microhistory), Oka merangkai serpihan kehidupan sehari-hari penyintas Kaminah dan Kusdalini menjadi bait-bait puitis yang menyentuh. 

Latar belakang pengerjaan Kembang dipicu oleh pemutaran film dokumenter You and I (2020) karya Fanny Chotimah yang mengisahkan keseharian Kusdalini (1943–2017) dan Kaminah (1947–2018) di Solo. 

Keheningan dan kehangatan hidup mereka yang menua bersama, dipadukan dengan inspirasi dari dokumenter A Secret Love karya Chris Bolan, buku foto Pemenang Kehidupan karya Adrian Mulya dan Lilik HS, serta pelbagai riset akademis, mendorong Oka membedah luka sejarah tersebut. Ia mengakui proses perancangan karya ini menjadi sebuah ziarah intelektual yang sangat menguras emosi.

Dua lapis trauma harus dihadapi perempuan penyintas 1965—berbeda dari penyintas pria yang dominan mengalami kekerasan fisik dan politik, perempuan turut menanggung penyiksaan fisik sekaligus kekerasan seksual. 

Membicarakan peristiwa tersebut sama halnya dengan merajut kembali memori perusakan martabat diri.

Tuntutan moralitas sosial yang berat memaksa mereka menarik diri ke ranah domestik. Upaya memastikan anak dan keluarga mendapatkan pendidikan serta identitas yang aman dari kejaran stigma menjadi mekanisme bertahan hidup paling rasional. 

Pada titik ini, sikap diam dipilih sebagai benteng perlindungan agar masyarakat tidak kembali mengusik kehidupan yang telah mereka bangun kembali.

"Menulis Kembang bukan lagi sekadar urusan estetika. Saya harus menyatukan param, usia tua, tubuh yang rapuh, kesepian, kerupuk, param dan soto dengan tato arit serta jeruji. Saya tidak hanya menggugat budaya yang kasatmata, tetapi juga menggugat keheningan negara atas trauma sejarah," ungkap sastrawan kelahiran Jakarta, 11 Juli 1967 ini.

Sepanjang karier kepenulisannya, Oka Rusmini telah melahirkan sederet karya sastra kenamaan, seperti Monolog Pohon (1997), Tarian Bumi (2000), Sagra (2001), Kenanga (2003), Patiwangi (2003), Warna Kita(2007), Pandora (2008), Tempurung (2010), Akar Pule (2012), Saiban (2014), Men Coblong (2019), Koplak(2019), dan Jerum (2020). Novel Tempurung sukses menyabet tiga penghargaan sekaligus pada 2012, yakni Anugerah Sastra Kemendikbudristek, Anugerah Sastra Tantular dari Balai Bahasa Provinsi Bali, serta The S.E.A. Write Award dari Kerajaan Thailand.

Deretan apresiasi lain yang berhasil diraihnya mencakup Kusala Sastra Khatulistiwa (2014), Ikon Berprestasi Indonesia kategori Seni dan Budaya (2017), CSR Indonesia Awards kategori Karsa Budaya Prima (2019), Bali Jani Nugraha dari Pemprov Bali (2019), Wikan Award dari Yayasan Korpri Bali (2023), hingga Penghargaan 40 Tahun Berkarya Bidang Kebahasaan dan Kesastraan dari Pemerintah Indonesia (2024).

Salah satu karya fenomenalnya, novel Tarian Bumi, bahkan telah diterjemahkan ke dalam pelbagai bahasa asing seperti bahasa Inggris, Swedia, Jerman, Korea, dan Italia.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.