TRIBUNNEWS.COM - Pelaksana Tugas Menteri Urusan Muslim Singapura, Faishal Ibrahim (58), mengundurkan diri dari jabatannya karena interaksinya dengan seorang wanita.
Hal itu disampaikan Perdana Menteri Singapura, Lawrence Wong dalam sebuah pernyataan pada Senin (21/7/2026).
"Sebagian besar interaksi mereka terjadi melalui pesan online. Mereka juga bertemu di sela-sela acara publik," tulis Wong.
Mengutip Reuters, kedua pihak kemudian saling melontarkan tuduhan pelecehan, dan kasus tersebut sedang diselidiki oleh kepolisian.
Wong mengatakan, tidak ada pelanggaran pidana yang dilakukan oleh kedua pihak.
Namun, terdapat pertanyaan terpisah mengenai apakah perilaku Faishal memenuhi standar yang diharapkan dari seorang pejabat politik dan anggota parlemen.
Faishal juga mengundurkan diri dari Partai Aksi Rakyat (People's Action Party/PAP) yang berkuasa.
Ayah dua anak itu telah menjadi anggota parlemen sejak 2006 dan menjabat sebagai menteri sementara yang bertanggung jawab atas urusan Muslim sejak 2025.
Dalam surat pengunduran dirinya yang diunggah di situs web Kantor Perdana Menteri, Faishal mengatakan:
"Meskipun tidak ada hubungan fisik antara kami, dan saya tidak bermaksud agar interaksi tersebut berkembang menjadi hubungan fisik, ada kesalahan penilaian di pihak saya dalam cara saya menangani interaksi tersebut, dan dalam kegagalan untuk menetapkan batasan yang lebih jelas pada tahap awal."
Wong mengatakan, dirinya sedih melihat Faishal meninggalkan dunia politik dalam situasi seperti ini.
Baca juga: Motif WNA Singapura Cekik Pacarnya Asal Tegal: Tidak Mau Diputuskan
Partai Aksi Rakyat (PAP), yang membanggakan reputasinya sebagai partai yang "lebih putih dari putih", telah diguncang sejumlah skandal politik dalam beberapa tahun terakhir.
Pada 2023, Menteri Transportasi saat itu, S. Iswaran, diselidiki dalam kasus korupsi.
Beberapa anggota parlemen senior juga mengundurkan diri akibat persoalan lain yang mencuat pada periode tersebut.
Hal itu mendorong mantan Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong mengatakan bahwa partainya telah terpukul oleh serangkaian skandal.
Kemudian pada 2024, Iswaran mengaku bersalah atas tindakan menghalangi proses peradilan dan menerima hadiah senilai lebih dari 300.000 dolar AS. Ia kemudian dijatuhi hukuman 12 bulan penjara.
Tahun lalu, sejumlah menteri Singapura dan seorang anggota parlemen juga menjadi sorotan karena menghadiri jamuan makan malam bersama seorang pelaku pencucian uang yang telah divonis bersalah.
Dua menteri lainnya juga sempat diselidiki terkait dugaan pelanggaran dalam penyewaan properti eksklusif milik negara pada 2023, tetapi kemudian dibebaskan dari tuduhan.
Mengutip CNA, Faishal Ibrahim resmi mengakhiri perjalanan politiknya setelah hampir dua dekade mengabdi di pemerintahan Singapura.
Sebelum terjun ke dunia politik, Faishal membangun karier di bidang akademik dan pemerintahan.
Ia pernah bekerja di Inland Revenue Authority of Singapore (IRAS) sebelum menjadi Associate Professor bidang Real Estate di National University of Singapore (NUS).
Faishal mulai memasuki dunia politik pada 2006.
Saat itu, ia menjadi salah satu kandidat Partai People's Action Party (PAP) dalam tim beranggotakan enam orang yang dipimpin Senior Minister saat itu, Goh Chok Tong, di daerah pemilihan Marine Parade GRC.
Tim PAP memenangkan pemilu tanpa melalui pemungutan suara karena tidak memiliki lawan.
Pada Pemilu 2011, Faishal kembali maju sebagai kandidat PAP di Nee Soon GRC.
Ia berhasil mempertahankan kursinya dan kembali terpilih dalam dua pemilu berikutnya.
Kariernya di pemerintahan dimulai pada 2012 ketika ia diangkat sebagai Parliamentary Secretary di Kementerian Kesehatan dan Kementerian Perhubungan.
Lima tahun kemudian, tepatnya pada 2017, Faishal dipromosikan menjadi Senior Parliamentary Secretary.
Ia kemudian bertugas di Kementerian Pendidikan serta Kementerian Pembangunan Sosial dan Keluarga.
Pada 2020, Faishal kembali mendapat promosi menjadi Minister of State di Kementerian Dalam Negeri serta Kementerian Pembangunan Nasional.
Selama konflik Israel-Hamas berlangsung, Faishal kerap menyampaikan aspirasi komunitas Melayu-Muslim sekaligus menjelaskan sikap pemerintah Singapura terkait konflik tersebut.
Pada Mei tahun lalu, Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong mengangkat Faishal sebagai Senior Minister of State sekaligus Acting Minister in Charge of Muslim Affairs (Pelaksana Tugas Menteri Urusan Muslim Singapura).
Saat pengangkatan tersebut, Wong mengatakan penyegaran kepemimpinan komunitas Melayu-Muslim perlu dilakukan agar generasi pemimpin yang lebih muda dapat mengambil peran yang lebih besar.
(Tribunnews.com, Tiara Shelavie)