Nama Nay NBC sudah tidak asing lagi di kalangan pecinta breakdance, baik di Aceh maupun di tingkat internasional. Di balik sederet prestasi yang membawanya tampil di 14 negara di tiga benua, pria pemilik nama Nainunis itu juga menjadi sosok penting dalam membesarkan komunitas breakdance di Aceh hingga mampu melahirkan atlet-atlet yang kini bersaing di berbagai level.
Nay merupakan pendiri Nanggroe Break Cypher (NBC), komunitas breakdance yang kini berada di bawah naungan Komite Olahraga Masyarakat Indonesia (Kormi) sebagai bagian dari cabang olahraga dance sport.
Di balik perjalanan itu, pria asal Padang Tiji, Kabupaten Pidie ini mengaku mulai mengenal breakdance sejak masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP). Kala itu, ia awalnya hanya suka mendengar lagu hip hop yang dipadukan dengan gerakan breaking.
“Dari SMP saya suka lihat lagu hip hop. Karena masih tinggal di kampung tidak dapat belajar. Waktu SMA saya sekolah di Banda Aceh dan suka basket, ternyata di setiap basket ada yang tampil breakdance. Lalu saya tanya ke mereka di mana latihan,” ujar Nay kepada Serambi, Rabu (15/7/2026).
Bermula dari itu, Nay mulai menekuni dan belajar breakdance selama ia menampuh pendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA) di Banda Aceh. Keinginan belajar yang tinggi dan lebih serius membawanya merantau ke Bogor dan Jakarta setelah lulus SMA.
Di sana ia bergabung dengan komunitas Depok Breaking dan menjalani latihan yang sangat disiplin, mulai dari menjaga kebugaran fisik hingga rutin tampil setiap akhir pekan.
“Tamat SMA saya kerja dengan saudara di Bogor, tapi niat utama saya untuk belajar breakdance. Saya cari-cari di sana komunitas apa yang paling besar, di sana saya cari siapa yang paling baik dan belajar ke mereka,” ujarnya.
“Lalu ke Depok, latihan di Jakarta, di Pasar Minggu. 2005 direkrut oleh tim di Depok (Depok Breaking). Tiga tahun aktif bersama mereka. Di sana bangun pagi jogging, jaga fisik,” lanjutnya.
Pengalamannya bersama komunitas di Jakarta membawanya tampil di berbagai acara televisi nasional, termasuk menjadi penampil tetap di sejumlah program hiburan.
Nay mengaku, aktivitas dance yang dilakoni dirinya selama di ibu kota sama sekali tanpa sepengetahuan orang tuanya di kampung. Kala itu, di era yang masih terbatas informasi, Nay kesulitan untuk menjelaskan breakdance ke orang tua di kampung.
“Sudah sejak lama saya ingin sampaikan ke orang tua, tapi cara sampaikan belum tau cara yang pas, jadi saya sampaikan ‘lon ino kerja lage puta-puta ule nyan’ (saya kerja di sini kayak putar-putar kepala gitu),” kata Nay menjelaskan.
“Lalu suatu malam ada jadwal tanding dan tampil di MTV, nah di situlah saya telepon ke kampung untuk lihat saya di sana. Kemudian di MTV sering menang. Di sanalah orang tua baru tau saya sebagai (breakdancer),” tambahnya.
Setelah sekitar empat tahun di ibu kota, Nay akhirnya pulang ke Aceh merayakan lebaran bersama keluarga. Awalnya, ia berniat hanya pulang sebentar lalu balik lagi ke Jakarta.
Namun, niat itu akhirnya berubah setelah bertemu temannya dan diajak untuk melatih anak-anak Aceh breakdance dengan difasilitasi salah satu NGO dari Australia.
“Waktu itu masih ada NGO kan dan gajinya lumayan, jadi saya mulai pikir lebih enak di sini. Jadi saat itu juga saya awal mula belajar bahasa Inggris dengan mereka (petugas NGO). Saya bersama mereka sampai tahun 2011,” katanya.
Perjuangan Nay mengembangkan breakdance di Aceh tak berjalan mulus karena mendapat penolakan karena dianggap sebagai budaya asing. Namun, Nay dan rekan-rekannya memilih menjawab stigma tersebut dengan prestasi.
Di balik kiprahnya sebagai breakdancer, Nay juga membangun usaha NBC Barber yang kini cukup dikenal di Banda Aceh. Usaha itu berawal dari kegelisahannya karena penghasilan sebagai pelatih breakdance hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari.
Padahal, kemampuan memangkas rambut sudah dimilikinya sejak SMP. Berbekal sebuah kursi di belakang rumah, ia mulai melayani teman-temannya tanpa memasang tarif tetap. Dari promosi mulut ke mulut, pelanggannya terus bertambah.
“Sebenarnya sejak SMP saya sudah bisa pangkas rambut orang. Cuma dulu kan tukang pangkas rendah kali dipandang di kampung. Lalu, bermodal kursi di belakang rumah, di kasih uang Rp10 ribu, enggak ada tarif tetap, lalu kawan-kawan mulai rekom lah ‘di sana bagus pangkas rambut’,” jelasnya.
Untuk memperkenalkan usahanya, Nay awalnya membuka stand pangkas rambut dari event ke event. Hasil usahanya kemudian digunakan membeli peralatan hingga membuka barbershop sederhana di garasi rumah.
Seiring berkembangnya pelanggan melalui promosi di media sosial, ia akhirnya membuka toko barber sendiri di kawasan Merduati. Kini, usah baber milik Nay sangat dikenal dengan tempat membuat cornrow atau kepang rambut yang dipelajarinya dari budaya hip hop saat mengikuti berbagai kompetisi breakdance di luar negeri.
Bagi dirinya, usaha barber bukan hanya menjadi sumber penghasilan, tetapi juga penopang aktivitas komunitas breakdance yang selama bertahun-tahun ia bangun di Aceh.(ra)