Saat Harga Kakao Merosot Jadi Rp35 Ribu, Lampung Dorong Hilirisasi Cokelat
taryono July 22, 2026 12:19 PM

Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung - Harga kakao yang diterima petani kini merosot tajam. Bandi, petani kakao di Lampung, menyebut harga kakao di tingkat petani yang sempat menembus lebih dari Rp100 ribu per kilogram pada 2025, kini turun menjadi sekitar Rp35 ribu per kilogram.

Baca juga: Perampokan Sadis di Kutai Timur, Suami Diikat Istri Dirudapaksa, Harta Digasak

"Kalau sekarang Rp35 ribu per kilo. Ini termasuk murah. Idealnya di atas Rp50 ribu supaya sebanding dengan biaya perawatan," kata Bandi saat diwawancarai, Selasa (21/7/2026).

Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung merancang pembangunan Kawasan Industri Kakao terpadu seluas 50 hektare di Kabupaten Lampung Timur sebagai upaya mendorong hilirisasi komoditas perkebunan lokal sekaligus meningkatkan nilai tambah kakao daerah.

Asisten II Bidang Ekonomi dan Pembangunan Sekretariat Daerah Provinsi Lampung, Mulyadi Irsan, mengatakan pengembangan kawasan industri tersebut diarahkan untuk mengurangi ketergantungan terhadap penjualan biji kakao mentah serta memperkuat industri pengolahan di dalam daerah.

Produk hilirisasi yang disiapkan antara lain lemak kakao (cocoa butter), bubuk kakao (cocoa powder), hingga produk olahan cokelat yang ditargetkan dapat memenuhi kebutuhan pasar internasional, termasuk kawasan Eropa.

"Ya benar, ada rencana pembangunan kawasan industri kakao di Lampung Timur dengan luas lahan sekitar 50 hektare. Tujuannya untuk meningkatkan nilai tambah hasil kakao kita," ujar Mulyadi Irsan saat dikonfirmasi, Selasa (21/7/2026).

Bandi mengatakan penurunan harga kakao menjadi Rp35 ribu per kilogram ikut memengaruhi pendapatan Bandi yang selama bertahun-tahun mengandalkan kakao sebagai salah satu sumber nafkah keluarga. Padahal, tanaman kakao menjadi komoditas yang cukup menjanjikan karena dapat dipanen secara berkala sepanjang tahun, tidak hanya saat musim panen raya.

Bandi mulai menanam kakao sejak awal 2000-an. Dari kebun seluas sekitar setengah hektare, ia mampu memanen sekitar 70 hingga 80 kilogram kakao setiap 10 hari, tergantung kondisi tanaman dan hasil buah yang tersedia.

Menurutnya, tanaman kakao mulai berbuah sekitar 2,5 hingga tiga tahun setelah ditanam. Dalam sekali petik, satu batang kakao miliknya dapat menghasilkan sekitar 1,5 kilogram biji kakao basah.

"Kalau kakao ini perawatannya relatif mudah. Panennya sekitar 10 hari sekali, jadi masih bisa disambi dengan pekerjaan lain," ujarnya.

Di sela merawat kebun kakao, Bandi juga membuka lapak kelapa muda sederhana di pinggir kebun untuk menambah penghasilan harian. Putri kecilnya kerap menemani saat ia menunggu pembeli.

Namun, ketika memasuki masa panen kakao, aktivitas berjualan kelapa muda harus ia kurangi. Waktu dan tenaganya lebih banyak tercurah untuk memetik buah yang telah matang, memilah hasil panen, hingga melakukan proses pengeringan sebelum dijual.

Meski perawatan kakao relatif mudah, Bandi tetap menghadapi berbagai tantangan di kebun. Serangan hama dan penyakit menjadi persoalan yang harus diantisipasi karena dapat merusak bunga maupun buah kakao.

Karena itu, penyemprotan rutin menjadi salah satu pekerjaan penting agar bunga dapat berkembang menjadi buah dan tidak mengering sebelum masa panen.

Setelah melalui proses pengeringan, seluruh hasil kakaonya selama ini dijual kepada pengepul. Bandi mengaku belum pernah mendapatkan pelatihan atau pendampingan untuk mengolah kakao menjadi produk bernilai tambah, seperti cokelat, bubuk kakao, maupun olahan lainnya.

"Kalau di sini belum pernah ada pembinaan. Petani tahunya jual bahan baku saja ke pengepul atau pabrik," jelasnya.

Menurut Bandi, keberadaan pengepul tetap membantu petani karena menjadi jalur pemasaran yang selama ini paling mudah dijangkau. Namun, ketergantungan tersebut membuat posisi tawar petani masih terbatas dalam menentukan harga.

Petani, kata dia, harus menanggung seluruh proses produksi, mulai dari penanaman, pemupukan, perawatan tanaman, hingga risiko serangan hama dan penyakit. Sementara harga jual masih banyak ditentukan oleh kondisi pasar.

Karena itu, Bandi berharap petani kakao mendapatkan dukungan yang lebih luas, tidak hanya berupa bantuan bibit dan pupuk, tetapi juga pelatihan pengolahan hasil, pendampingan pemasaran, serta penguatan kelompok tani.

"Kalau ada pelatihan mengolah kakao atau akses langsung ke pembeli yang lebih besar tentu petani akan lebih diuntungkan. Selama ini kami tahunya hanya panen lalu jual ke pengepul," katanya.

Bagi Bandi, kakao bukan sekadar tanaman yang tumbuh di kebun. Setiap buah yang dipanen menjadi bagian dari perjuangan menjaga penghasilan keluarga. Ia berharap harga kakao kembali memberi ruang bagi petani untuk mendapatkan hasil yang sepadan dengan tenaga dan biaya yang mereka keluarkan selama bertahun-tahun.

Matangkan Perencanaan Kawasan Industri

Asisten II Bidang Ekonomi dan Pembangunan Sekretariat Daerah Provinsi Lampung, Mulyadi Irsan  menjelaskan, saat ini Pemprov Lampung masih mematangkan perencanaan kawasan industri tersebut, termasuk memastikan produk olahan yang dihasilkan mampu memenuhi standar mutu dan spesifikasi pasar internasional.

Melalui kawasan industri ini, kakao Lampung tidak hanya dipasarkan dalam bentuk biji kering, tetapi akan dikembangkan menjadi berbagai produk turunan dengan nilai ekonomi lebih tinggi.

"Perencanaan diarahkan untuk memenuhi pasar Eropa. Kakao akan diolah menjadi lemak kakao (cocoa butter), bubuk kakao (cocoa powder), hingga produk olahan cokelat. Ke depan, pengembangan ini juga diharapkan dapat mendukung kebutuhan industri kosmetik dan farmasi," jelas Mulyadi, Selasa (21/7/2026).

Untuk mendukung operasional kawasan industri berstandar internasional, Pemprov Lampung menggandeng mitra teknologi pengolahan pangan asal Swiss, yaitu Bühler Group.

"Kawasan industri ini akan didukung teknologi dari Bühler Group Swiss," ungkap Mulyadi.

Selain fasilitas pengolahan modern, kawasan tersebut juga dirancang sebagai pusat pengembangan kapasitas sektor kakao melalui pembangunan Innovation Center.

"Di dalam kawasan industri juga akan dibangun Innovation Center untuk pengujian dan pengembangan produksi kakao berkelanjutan, sekaligus menjadi pusat peningkatan kapasitas sumber daya manusia petani dan tenaga kerja," terangnya.

Kawasan industri kakao di Lampung Timur akan didukung pasokan bahan baku dari sejumlah wilayah sentra produksi kakao Lampung, terutama Kabupaten Tanggamus, Pesawaran, Lampung Timur, dan Lampung Selatan.

Menurut Mulyadi, potensi perkebunan kakao Lampung masih cukup besar untuk menopang kebutuhan industri hilir. Data Pemprov Lampung mencatat luas areal kakao mencapai sekitar 76 ribu hektare dengan perkiraan produksi pada 2025 berada di kisaran 47 ribu ton.

Sementara itu, berdasarkan statistik perkebunan rakyat, estimasi produksi kakao Lampung pada 2025 tercatat sekitar 44.284 ton dengan luas areal 76.263 hektare. Perbedaan angka tersebut dipengaruhi oleh perbedaan cakupan pencatatan data antara sumber statistik perkebunan rakyat dan data pemerintah daerah.

Dari sisi produksi, Kabupaten Pesawaran menjadi salah satu sentra utama kakao Lampung. Daerah tersebut memiliki luas areal sekitar 25.829 hektare dengan produksi mencapai 21.803 ton pada 2025, atau sekitar separuh dari total produksi kakao provinsi berdasarkan data perkebunan rakyat.

Kabupaten Tanggamus menempati posisi berikutnya dengan luas areal sekitar 13.669 hektare dan produksi 6.830 ton pada 2025. Sementara Lampung Timur dan Lampung Selatan juga menjadi wilayah pendukung dengan produksi masing-masing sekitar 3.891 ton dan 3.638 ton.

Selain empat daerah utama tersebut, produksi kakao Lampung juga tersebar di sejumlah wilayah lain seperti Lampung Tengah, Pringsewu, Lampung Barat, Way Kanan, Pesisir Barat, Lampung Utara, Tulang Bawang, Bandar Lampung, Metro, Mesuji, dan Tulang Bawang Barat.

Berdasarkan perkembangan perkebunan rakyat periode 2021-2025, luas areal kakao Lampung mengalami penurunan dari sekitar 78.584 hektare pada 2021 menjadi 76.263 hektare pada 2025. Penurunan luas lahan tersebut turut berdampak terhadap produksi yang turun dari 56.586 ton pada 2021 menjadi sekitar 44 ribu ton pada 2025.

Penurunan produksi dipengaruhi sejumlah faktor, seperti dominasi tanaman tua yang produktivitasnya menurun, alih fungsi lahan, serta gangguan organisme pengganggu tanaman seperti Penggerek Buah Kakao (PBK).

Kondisi tersebut membuat pembangunan Kawasan Industri Kakao di Lampung Timur menjadi salah satu langkah strategis untuk memperkuat rantai pasok kakao daerah.

Dengan dukungan teknologi pengolahan modern dari Bühler Group serta keberadaan Innovation Center, kawasan ini diharapkan mampu meningkatkan penyerapan hasil panen, memperluas pasar produk olahan kakao, dan memberikan nilai tambah bagi petani.

Dalam jangka panjang, peningkatan nilai ekonomi kakao diharapkan dapat mendorong petani melakukan peremajaan tanaman (replanting) serta meningkatkan produktivitas kebun secara berkelanjutan.

Tantangan Utama

Rencana Pemerintah Provinsi Lampung membangun Kawasan Industri Kakao seluas 50 hektare di Kabupaten Lampung Timur mendapat dukungan dari akademisi Politeknik Negeri Lampung (Polinela). Namun, pengembangan industri tersebut dinilai harus diiringi dengan peningkatan kapasitas sumber daya manusia, terutama petani kakao, agar program hilirisasi mampu memberikan dampak ekonomi yang berkelanjutan.

Kawasan industri kakao tersebut diproyeksikan menjadi pusat hilirisasi komoditas kakao di Lampung dengan menghasilkan berbagai produk bernilai tambah, seperti lemak kakao (cocoa butter), bubuk kakao (cocoa powder), cokelat olahan, hingga produk turunan untuk industri kosmetik dan farmasi.

Kepala Program Studi D3 Produksi Tanaman Perkebunan (PTK) Polinela, Ovy Erfandari, S.P., M.Si., menyambut baik langkah Pemerintah Provinsi Lampung tersebut. Menurutnya, pembangunan infrastruktur industri perlu berjalan seiring dengan penguatan kemampuan petani dalam menghasilkan bahan baku berkualitas.

"Hilirisasi kakao merupakan peluang besar untuk meningkatkan kesejahteraan petani. Namun, tantangan utamanya bukan hanya membangun industri, melainkan bagaimana meningkatkan pola pikir dan kemampuan petani agar mampu menghasilkan kakao berkualitas melalui fermentasi serta praktik budidaya yang lebih modern," ujar Ovy.

Ia menjelaskan, sebagian petani kakao masih memilih menjual biji kakao kering karena prosesnya lebih cepat memberikan pendapatan. Padahal, kakao fermentasi memiliki nilai ekonomi lebih tinggi dan menjadi salah satu persyaratan penting untuk memasuki pasar industri pengolahan premium maupun ekspor.

Menurut Ovy, Lampung memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai salah satu sentra kakao nasional. Namun, dibandingkan sejumlah daerah penghasil kakao seperti Sulawesi, proses penguatan hilirisasi di Lampung masih perlu dipercepat melalui kolaborasi antara pemerintah, akademisi, penyuluh, dan petani.

"Kalau melihat perkembangan riset dan pendampingan di Sulawesi, mereka memang lebih maju. Tetapi Lampung tetap memiliki peluang untuk berkembang. Yang perlu diperkuat adalah pembinaan petani secara berkelanjutan, mulai dari budidaya, pascapanen, hingga pengolahan kakao," katanya.

Ovy menilai Kabupaten Lampung Timur menjadi lokasi yang potensial untuk pengembangan kawasan industri kakao karena memiliki basis produksi dan sumber daya petani yang mendukung.

Ia menyebut wilayah tersebut telah memiliki sejumlah petani kakao yang mengikuti program sertifikasi internasional Rainforest Alliance serta berbagai kegiatan peningkatan kapasitas melalui sekolah lapang petani kakao.

"Ini menjadi modal penting. Tinggal bagaimana pemerintah memastikan program hilirisasi benar-benar berjalan dan memberikan manfaat langsung bagi petani," ujarnya.

Menurutnya, pembangunan kawasan industri tidak boleh hanya berfokus pada pembangunan fisik, tetapi juga harus dilengkapi fasilitas pendukung seperti rumah fermentasi, sarana pascapanen, dan pusat pengolahan agar kualitas kakao Lampung mampu bersaing di pasar yang lebih luas.

Selain pengembangan industri, Ovy menekankan pentingnya penerapan konsep pertanian berkelanjutan, termasuk pengelolaan limbah melalui prinsip zero waste.

Menurutnya, limbah perkebunan maupun kotoran ternak dapat dimanfaatkan menjadi pupuk organik atau sumber energi sehingga mampu mendukung ekonomi sirkular di tingkat petani.

Ia juga mendorong penggunaan varietas unggul lokal, pengurangan ketergantungan terhadap pestisida kimia, serta regenerasi petani melalui keterlibatan generasi muda.

"Kalau ada petani percontohan yang berhasil, petani lain akan lebih mudah mengikuti. Pendampingan secara langsung jauh lebih efektif dibandingkan hanya melakukan sosialisasi," jelasnya.

Ovy menambahkan, salah satu tantangan yang masih dihadapi petani saat ini adalah keterbatasan ketersediaan bibit kakao berkualitas. Karena itu, dukungan pemerintah dalam penyediaan bahan tanam menjadi salah satu hal yang perlu diperkuat.

Agar hilirisasi kakao berjalan optimal, Ovy menilai pemerintah perlu menghadirkan kebijakan yang mendukung peningkatan kualitas produksi petani, termasuk penyediaan rumah fermentasi, sarana produksi, pelatihan, serta pendampingan secara berkelanjutan.

"Pemerintah harus berjalan seiring dengan kebutuhan petani. Jika petani mendapatkan pendampingan dan fasilitas yang memadai, saya yakin hilirisasi kakao di Lampung dapat berkembang dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat," tutupnya.

Rencana pembangunan Kawasan Industri Kakao di Lampung Timur diharapkan menjadi langkah strategis dalam memperkuat industri kakao Lampung, sehingga daerah ini tidak hanya berperan sebagai penghasil bahan baku, tetapi juga mampu menghasilkan produk olahan kakao bernilai tambah tinggi.

(Tribunlampung.co.id/Riyo Pratama/Hurri Agusto/Bintang Puji Anggraini)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.