Iran Deklarasi Perang Skala Penuh Lawan AS Usai Gencatan Senjata Runtuh
Darwin Sijabat July 22, 2026 01:11 PM

 

TRIBUNJAMBI.COM – Eskalasi militer di Timur Tengah antara Amerika Serikat (AS) dan Iran mencapai titik tergentingnya. 

Presiden Iran, Masoud Pezeshkian secara terbuka mengumumkan bahwa negaranya kini resmi berada dalam kondisi perang skala penuh melawan Amerika Serikat (AS). 

Pernyataan dramatis ini dilayangkan pada Senin (20/7/2026) di tengah gelombang gempuran udara terbaru militer AS yang membombardir wilayah kedaulatan Iran.

Pengumuman perang ini dipicu oleh pecahnya kembali konfrontasi bersenjata setelah kesepakatan gencatan senjata sementara yang dicapai kedua negara pada Juni lalu dinyatakan runtuh total. 

Media pemerintah Iran beserta jajaran pejabat lokal mengonfirmasi bahwa jet-jet tempur AS melancarkan serangan udara intensif yang menyasar sejumlah objek vital di wilayah utara dan tengah Iran.

Menanggapi masuknya rudal-rudal Washington ke jantung teritorialnya, Presiden Pezeshkian menegaskan Teheran emoh mundur dan siap meladeni konfrontasi terbuka ini hingga tuntas.

“Faktanya, hari ini Republik Islam Iran sedang terlibat dalam perang skala penuh,” tegas Pezeshkian, sebagaimana dilaporkan oleh The Straits Times.

Aksi Balasan IRGC di Tiga Negara dan Posisi Houthi

Dinamika konflik bersenjata yang pertama kali meletus sejak akhir Februari 2026 ini kian meluas menjadi konfrontasi regional yang saling mengunci. 

Baca juga: Sumpah Balas Trump: AS Gempur Iran 10 Malam Beruntun, Isfahan Membara

Baca juga: Siapa Sudaryono? Politisi Gerindra Dikabarkan Gantikan Nanik S Deyang Jadi Kepala BGN

Washington secara konsisten menggempur fasilitas-fasilitas strategis Iran, sementara Teheran membalasnya dengan meluncurkan rudal ke barisan pangkalan dan aset militer AS di seluruh lanskap Timur Tengah.

Sebagai bentuk pembalasan instan atas agresi AS, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) pada 20 Juli mengonfirmasi telah membombardir serangkaian sasaran vital yang terafiliasi dengan kepentingan Amerika Serikat di tiga negara tetangga sekaligus, yakni Bahrain, Yordania, dan Suriah.

Meski arena pertempuran kian memanas, hingga saat ini faksi milisi Houthi di Yaman—salah satu sekutu terkuat Teheran—dilaporkan belum secara resmi menerjunkan kekuatan tempurnya secara langsung ke medan perang terbuka.

Selat Hormuz Menjadi Titik Krisis Baru

Krisis tersebut turut mengguncang pasar energi global. Harga minyak dunia melonjak ke level tertinggi dalam sebulan terakhir akibat meningkatnya kekhawatiran terhadap keamanan Selat Hormuz, jalur strategis yang dalam kondisi normal menjadi rute bagi sekitar seperlima pasokan minyak dunia.

Setelah gencatan senjata dengan AS runtuh, Iran kembali memberlakukan pembatasan terhadap lalu lintas di Selat Hormuz. Washington kemudian merespons dengan meningkatkan tekanan terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

Situasi ini memicu kekhawatiran pasar bahwa gangguan berkepanjangan di kawasan Teluk dapat menghambat distribusi energi global dan meningkatkan harga minyak.

Houthi Ancam Blokade Pelabuhan Arab Saudi

Ancaman baru datang dari kelompok Houthi di Yaman. Kelompok yang memiliki hubungan dekat dengan Iran tersebut menyatakan akan mempertimbangkan langkah untuk memblokade pelabuhan-pelabuhan Arab Saudi.

Jika terealisasi, tindakan itu dapat mengancam jalur ekspor minyak Riyadh yang selama ini menjadi alternatif ketika Selat Hormuz terganggu.

Baca juga: Tensi AS-Iran Memanas, Analis Soroti Peran Israel di Balik Konflik

Baca juga: Polisi Tanjab Timur Jambi Meninggal di Indekos, Saksi Sebut Jatuh dan Terbentur Tiang Jemuran

Arab Saudi masih mampu mengekspor jutaan barel minyak per hari melalui Pelabuhan Yanbu di pesisir Laut Merah meski akses Selat Hormuz mengalami hambatan. Namun, kapasitas jalur tersebut masih jauh lebih kecil dibandingkan kemampuan ekspor melalui jalur utama.

Pelaku pasar energi telah lama mengkhawatirkan kemungkinan Houthi kembali menyerang kapal-kapal di Laut Merah dan Teluk Aden, seperti yang terjadi selama konflik Gaza.

Apabila serangan terhadap jalur pelayaran kembali terjadi, pasokan minyak dunia berpotensi semakin terganggu dan memperburuk tekanan ekonomi global.

Risiko Perang Regional Semakin Besar

Houthi, yang telah berkonflik dengan Arab Saudi selama lebih dari satu dekade dalam perang saudara Yaman, belum menjelaskan secara rinci bagaimana mekanisme blokade pelabuhan tersebut akan dilakukan.

Namun, ketegangan antara Riyadh dan kelompok tersebut kembali meningkat setelah keduanya dilaporkan terlibat baku tembak untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun terakhir.

Dengan meningkatnya keterlibatan berbagai pihak, konflik Iran-AS kini berpotensi berkembang menjadi krisis regional yang lebih luas, melibatkan sekutu-sekutu kedua pihak di Timur Tengah serta memberikan dampak besar terhadap keamanan energi dunia.

Baca juga: Jaga Ketertiban, Lapas Muara Bulian Gelar Razia di Blok Hunian

Baca juga: Silaturahmi ke Lapas Perempuan, Kapolres Muaro Jambi Tekankan Penguatan Koordinasi

Baca juga: Prediksi Skor Spartak Trnava vs CSKA 1948 , Head-to-head dan Statistik di Liga Konferensi UEFA

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.