Laporan Wartawan TribunBengkulu.com, M Rizki Wahyudi
TRIBUNBENGKULU.COM, REJANG LEBONG – Dinas Pertanian dan Perikanan (Distankan) Kabupaten Rejang Lebong mengusulkan bantuan pompa air kepada Kementerian Pertanian (Kementan) RI sebagai langkah mengantisipasi dampak puncak musim kemarau yang diperkirakan terjadi pada Agustus 2026.
Usulan tersebut diprioritaskan bagi daerah yang dinilai rawan mengalami kekeringan agar lahan pertanian, khususnya persawahan, tetap mendapatkan pasokan air selama musim kemarau.
Kepala Distankan Kabupaten Rejang Lebong, Suradi Ripai, mengatakan pihaknya telah berkoordinasi dengan Kementerian Pertanian untuk mengantisipasi dampak perubahan iklim yang berpotensi menyebabkan kekeringan.
Sebagai langkah awal, seluruh Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) telah diinstruksikan mendata wilayah yang terdampak maupun yang berpotensi terdampak kekeringan.
Data tersebut akan direkap dan disampaikan kepada kementerian sebagai dasar pengajuan bantuan.
"Benar, kami sudah berkoordinasi dengan Kementerian Pertanian untuk mencegah maupun mengatasi dampak kekeringan akibat perubahan iklim, khususnya di Rejang Lebong," sampai Suradi kepada TribunBengkulu.com pada Rabu (22/7/2026).
Menurutnya, pihaknya akan mengusulkan bantuan berupa pompa air bagi daerah yang dinilai rawan mengalami kekeringan.
Dengan bantuan tersebut, diharapkan lahan-lahan pertanian dapat terhindar dari krisis kebutuhan air.
"Kami akan mendata wilayah yang terdampak maupun yang berpotensi terdampak kekeringan. Nantinya akan diproses pengajuan bantuan alat berupa pompa air. Daerah yang rawan kekeringan akan menjadi prioritas," jelasnya.
Suradi menegaskan, prioritas utama pemerintah adalah menjaga lahan persawahan agar tetap mendapatkan pasokan air sehingga produksi padi tidak terganggu selama musim kemarau.
"Yang paling rawan adalah lahan padi atau beras, Itu yang kami prioritaskan agar jangan sampai mengalami kekeringan. Mudah-mudahan setelah data disampaikan ke Kementerian Pertanian, bantuan yang dibutuhkan petani segera diberikan," pungkasnya.
BMKG Prediksi Puncak Kemarau Agustus
Sebelumnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Fatmawati Soekarno mengeluarkan imbauan untuk mengantisipasi puncak musim kemarau yang diperkirakan terjadi pada Agustus 2026.
BMKG meminta berbagai pihak melakukan langkah mitigasi sejak dini, di antaranya mengelola ketersediaan air dan menyesuaikan aktivitas, terutama di sektor pertanian, agar dampak musim kemarau dapat diminimalkan.
Saat ini Provinsi Bengkulu, termasuk Kabupaten Rejang Lebong, telah memasuki musim kemarau yang dipengaruhi angin monsun Australia atau angin yang bertiup dari arah tenggara.
Dominasi angin monsun Australia menyebabkan pasokan uap air ke wilayah Bengkulu berkurang sehingga kelembapan udara menurun.
Kondisi tersebut berpotensi berdampak pada berbagai sektor, mulai dari pertanian hingga pengelolaan sumber daya air.
Petani Sambut Baik Rencana Bantuan
Sementara itu, seorang petani padi di Kecamatan Curup Selatan, Andi (45), mengaku senang mendengar rencana pemerintah mengusulkan bantuan pompa air untuk daerah yang berpotensi mengalami kekeringan.
Menurutnya, setiap musim kemarau pasokan air ke sawah sering berkurang sehingga proses pengairan menjadi lebih sulit.
"Kalau memang nanti ada bantuan pompa air tentu kami senang. Saat musim kemarau biasanya air susah didapat, sehingga pengairan sawah menjadi kendala," katanya.
Ia berharap langkah antisipasi yang dilakukan pemerintah dapat menjaga produktivitas pertanian sehingga hasil panen padi tidak menurun meski memasuki musim kemarau.
"Mudah-mudahan kemarau tahun ini tidak sampai membuat produksi padi menurun. Harapan kami pasokan air tetap tersedia sehingga tanaman bisa tumbuh dengan baik," tutupnya.
Gabung grup Facebook TribunBengkulu.com untuk informasi terkini