Piala Dunia 2026 dan Pelajaran Kehidupan
Ansari Hasyim July 22, 2026 03:41 PM

Oleh: Dr. Deni Mulyadi, S.HI., M.A *)

PIALA Dunia 2026 akhirnya resmi berakhir. Skor tipis 1-0 yang diraih Spanyol melalui babak perpanjangan waktu berhasil menaklukkan Argentina dan mengantarkan mereka keluar sebagai juara Piala Dunia 2026.

Sebuah partai final yang menegangkan, penuh drama, dan bagi sebagian orang menyajikan kualitas pertandingan yang dianggap kurang menarik karena permainan Argentina dinilai tidak mampu mengimbangi penampilan impresif yang diperlihatkan para pemain Spanyol.

Bagi jutaan penonton di seluruh dunia, hiruk-pikuk Piala Dunia 2026 tidak hanya berlangsung di dalam stadion. Piala Dunia juga hidup di media sosial, grup WhatsApp, warung kopi, kantor, bahkan di ruang-ruang kelas.

Selama sebulan terakhir, linimasa dipenuhi saling roasting, saling ejek ketika tim jagoan menang atau kalah. Perdebatan seakan tidak pernah habis mengenai taktik permainan, keputusan wasit, hingga munculnya berbagai istilah unik yang mengundang tawa.

Baca juga: Messi Tinggalkan Timnas Argentina, Pulang Sendirian Usai Kekalahan Menyakitkan di Final Piala Dunia

 

Semua itu terjadi hanya karena memperdebatkan siapa yang paling layak mengangkat trofi Piala Dunia 2026.

Begitulah sejatinya sepak bola. Olahraga ini mampu membuat orang yang biasanya tidak peduli terhadap sepak bola berubah menjadi komentator dadakan. Tidak sedikit pula yang terkesan menjadi penikmat sepak bola musiman atau fear of missing out (FOMO), yang hanya muncul ketika turnamen besar berlangsung.

Ajang yang digelar empat tahun sekali ini sanggup membuat sahabat saling menyindir, bahkan memicu perpecahan hanya karena perbedaan warna jersey yang didukung.

Padahal, jika Piala Dunia dipandang sebagai sebuah kompetisi olahraga semata, semua itu seharusnya tidak perlu terjadi. Pertandingan semestinya dibingkai dalam semangat persahabatan. Sepak bola hadir sebagai hiburan yang menyatukan, bukan justru menjadi alasan untuk memecah belah tanpa arah dan manfaat yang jelas.

Kini peluit panjang telah dibunyikan dan trofi telah diserahkan. Spanyol benar-benar membuktikan bahwa mereka layak menjadi juara Piala Dunia 2026. Meski demikian, pertandingan sempat diwarnai ketegangan antarpemain setelah laga usai.

Salah seorang pemain Argentina terlihat sangat emosional dan memperlihatkan sikap kasar kepada pemain Spanyol. Hal tersebut mungkin dapat dipahami sebagai luapan emosi yang terpendam selama lebih dari dua jam pertandingan.

Apalagi, Argentina merupakan salah satu kandidat kuat juara sebelum turnamen dimulai. Kekalahan di partai final tentu menjadi pukulan telak, terlebih mereka pernah merasakan gelar juara dunia pada tahun 2022. Namun, di tengah suasana yang memanas itu, muncul sebuah pemandangan yang justru lebih membekas di hati banyak penonton daripada selebrasi kemenangan.

Lamine Yamal, penyerang muda Spanyol, alih-alih ikut larut dalam keributan, justru memilih menepi dari kerumunan, lalu bersujud penuh syukur dan memanjatkan doa di atas lapangan. Sikap tersebut seolah memperlihatkan bahwa kemenangan sejati bukan hanya tentang mengangkat trofi, tetapi juga tentang kemampuan mengendalikan diri, menjaga kerendahan hati, dan tetap mengingat Sang Pencipta.

Di tengah gemuruh stadion, sorak-sorai kemenangan, dan emosi yang meluap, Yamal memilih untuk tidak terlibat dalam konfrontasi. Ia menunjukkan bahwa kemenangan terbesar bukan sekadar menaklukkan lawan, melainkan juga mampu menaklukkan ego diri sendiri.

Momen tersebut menjadi pengingat bahwa olahraga bukan sekadar adu teknik, adu strategi, ataupun adu gengsi. Di dalamnya terdapat ruang untuk memperlihatkan karakter seseorang ketika menghadapi kemenangan maupun kekalahan. Sportivitas tidak berhenti ketika wasit meniup peluit akhir, melainkan justru diuji setelah pertandingan selesai.

Karena itu, berakhirnya Piala Dunia 2026 seharusnya juga menjadi akhir dari berbagai perdebatan yang tidak perlu. Mereka yang selama sebulan terakhir saling menyindir hendaknya kembali saling menyapa. Para pendukung tim yang kalah semoga segera move on, sementara pendukung tim juara hendaknya merayakan kemenangan dengan penuh sukacita tanpa harus merendahkan pihak lain.

Sebuah pertandingan hanya berlangsung selama 90 menit, atau paling lama 120 menit. Namun, persahabatan dan persaudaraan seharusnya bertahan jauh lebih lama daripada durasi sebuah pertandingan. Trofi memang hanya dapat dimiliki oleh satu negara, tetapi rasa hormat, sportivitas, dan persaudaraan adalah kemenangan yang seharusnya dimiliki oleh semua orang.

Dalam dunia olahraga, kekalahan bukanlah sebuah aib. Kekalahan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari sebuah kompetisi. Bahkan negara-negara besar pun pernah mengalaminya. Brasil, yang dikenal sebagai salah satu kekuatan terbesar sepak bola dunia, pernah dipermalukan di kandang sendiri dengan kekalahan telak 1-7 pada Piala Dunia 2014. Italia, negara yang memiliki sejarah panjang di Piala Dunia, juga harus menerima kenyataan gagal lolos ke Piala Dunia 2026.

Sementara itu, Spanyol sendiri harus menunggu selama 16 tahun untuk kembali merebut trofi Piala Dunia setelah sebelumnya menjadi juara pada tahun 2010. Tidak ada keberhasilan yang diperoleh secara instan. Ada proses panjang, kerja keras, pengorbanan, kedisiplinan, dan kesabaran yang harus dilalui sebelum akhirnya mereka pantas berdiri di podium tertinggi sebagai juara dunia.

Kini, justru Indonesia yang patut berkaca dari Piala Dunia yang telah berlalu. Peluit panjang seolah menjadi alarm untuk kembali ke realitas. Sebuah pengingat bahwa kita masih berada di tempat yang sama. Ketika negara-negara lain berlomba memperebutkan trofi paling bergengsi di dunia, Indonesia masih setia menjadi penonton.

Ironisnya, Indonesia termasuk salah satu negara dengan antusiasme yang sangat tinggi terhadap Piala Dunia. Warung-warung kopi penuh setiap pertandingan berlangsung. Media sosial dipenuhi berbagai diskusi dan perdebatan tanpa henti. Tidak sedikit masyarakat yang rela begadang hingga dini hari demi menyaksikan pertandingan, bahkan terkadang sampai mengabaikan kewajiban yang lebih utama, seperti salat Subuh.

Sayangnya, antusiasme tersebut masih berhenti pada posisi sebagai penonton dan penikmat. Lebih memprihatinkan lagi, sebagian masyarakat justru menjadikan ajang Piala Dunia sebagai sarana berjudi. Alih-alih menjadikan sepak bola sebagai hiburan sekaligus pelajaran hidup, sebagian orang malah mengubahnya menjadi ruang untuk melakukan perbuatan yang dilarang agama dan merugikan masa depan.

Fenomena ini menjadi ironi yang menyayat hati. Indonesia sangat mencintai sepak bola, tetapi hingga kini belum mampu mengubah kecintaan tersebut menjadi kekuatan besar untuk membangun prestasi nasional.

Sesungguhnya, bangsa ini tidak pernah kekurangan talenta. Dari Sabang sampai Merauke, begitu banyak anak-anak Indonesia yang bercita-cita menjadi pesepak bola hebat. Mereka bermimpi mengikuti jejak Cristiano Ronaldo, yang berasal dari Pulau Madeira, Portugal, namun mampu menjelma menjadi salah satu legenda terbesar dalam sejarah sepak bola dunia.

Mimpi itu bukan sesuatu yang mustahil. Dengan pembinaan yang berkelanjutan, dukungan pemerintah, kompetisi yang sehat, fasilitas yang memadai, serta kesungguhan semua pihak, Indonesia pun memiliki peluang untuk berbicara lebih banyak di panggung sepak bola dunia.

Pada akhirnya, Piala Dunia bukan hanya mengajarkan tentang siapa yang menang dan siapa yang kalah. Lebih dari itu, Piala Dunia mengajarkan arti kerja keras, disiplin, sportivitas, kesabaran, penghormatan kepada lawan, serta kemampuan menerima hasil dengan lapang dada. Nilai-nilai inilah yang semestinya kita bawa ke dalam kehidupan sehari-hari.

Selamat kepada Spanyol atas keberhasilannya menjadi juara Piala Dunia 2026. Semoga suatu hari nanti Indonesia mampu mengikuti jejak tersebut, bukan hanya sebagai penonton setia, tetapi sebagai peserta yang mampu bersaing dan, insyaallah, menjadi juara.

Wallāhu a‘lam bi al-shawāb.(*)

*) PENULIS alumnus Doktoral UIN Ar-Raniry, Pengajar di Institut Agama Islam Ummul Ayman Pidie Jaya

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.