Toboali Dominasi Kasus DBD, Pemkab Bangka Selatan Bentuk Kampung Bebas Jentik
Ajie Gusti Prabowo July 22, 2026 04:50 PM

TOBOALI, BABEL NEWS - Pemerintah Kabupaten Bangka Selatan mencatat Kecamatan Toboali hingga kini masih menjadi wilayah dengan kasus DBD tertinggi di Kabupaten Bangka Selatan. Kawasan perkotaan dinilai memiliki tingkat kerawanan lebih tinggi karena masih ditemukan perilaku masyarakat yang membuang sampah sembarangan sehingga memicu munculnya tempat perkembangbiakan nyamuk. 

"Selama ini kasus DBD masih banyak ditemukan di Kecamatan Toboali. Pencetusnya adalah perilaku masyarakat yang membuang sampah sembarangan," kata Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit pada Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DKPPKB) Kabupaten Bangka Selatan, Slamet Wahidin, Rabu (22/7).

Pemerintah mendorong pembentukan Kampung Bebas Jentik di seluruh desa dan kelurahan sebagai langkah menekan peningkatan kasus demam berdarah dengue (DBD). Program tersebut menitikberatkan pada pemberdayaan masyarakat untuk mengendalikan jentik nyamuk Aedes aegypti di lingkungan masing-masing. 

Menurut Slamet Wahidin, pemerintah lebih memprioritaskan pencegahan peningkatan kasus dibandingkan mengejar pemberantasan secara menyeluruh. "Untuk menuntaskan kasus DBD itu agak sulit. Karena DBD merupakan penyakit yang berbasis lingkungan," ujarnya.

Slamet Wahidin menjelaskan perilaku hidup bersih masyarakat sangat menentukan tinggi rendahnya angka kasus DBD di suatu wilayah. Melalui program Kampung Bebas Jentik, pemerintah ingin melibatkan seluruh desa dan kelurahan untuk berkomitmen menjaga lingkungannya tetap bebas dari jentik nyamuk. 

Menurut Slamet Wahidin, idealnya seluruh desa dan kelurahan di Bangka Selatan menetapkan wilayahnya sebagai Kampung Bebas Jentik. Komitmen tersebut dapat diwujudkan melalui pemberdayaan masyarakat, salah satunya dengan membentuk kader Juru Pemantau Jentik (Jumantik). 

Kehadiran kader ini menjadi ujung tombak dalam mengedukasi sekaligus memantau kondisi lingkungan warga. "Suatu upaya dari masyarakat, untuk masyarakat, oleh masyarakat menjaga kampungnya dari jentik-jentik nyamuk," jelas Slamet Wahidin.

Diakuinya, kader Jumantik nantinya bertugas melakukan pemeriksaan jentik nyamuk secara berkala di rumah-rumah warga. Hasil pemantauan diharapkan mampu menjadi dasar bagi masyarakat untuk segera membersihkan tempat-tempat yang berpotensi menjadi sarang perkembangbiakan nyamuk. Dengan pengawasan yang rutin, risiko peningkatan kasus DBD diyakini dapat ditekan.

"Ketika kita bisa mengontrol jumlah jentik nyamuk di rumah masing-masing warga, artinya kita juga bisa mengontrol peningkatan kasus DBD. Otomatis kasus DBD pasti akan menurun bila jentik itu berkurang," tegasnya.

Ia menambahkan, musim hujan turut meningkatkan potensi berkembangnya nyamuk penyebab DBD. Banyaknya wadah bekas, sampah yang dibuang sembarangan, serta genangan air di lingkungan pemukiman menjadi tempat ideal bagi jentik nyamuk untuk berkembang biak. Kondisi tersebut menyebabkan risiko penularan DBD meningkat apabila tidak segera dikendalikan. (u1)

Genjot Kampung Bebas Jentik
KASUS demam berdarah dengue (DBD) di Kabupaten Bangka Selatan menunjukkan tren penurunan pada semester pertama tahun 2026. Hingga Juni 2026 tercatat 34 kasus DBD, lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Meski demikian, pemerintah daerah tetap memperkuat upaya pencegahan melalui pembentukan Kampung Bebas Jentik untuk menekan potensi peningkatan kasus.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit pada Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DKPPKB) Kabupaten Bangka Selatan, Slamet Wahidin, berujar hingga akhir Juni 2026 terdapat 34 kasus DBD yang tersebar di 10 wilayah kerja puskesmas. 

Angka tersebut lebih rendah dibandingkan tahun 2025 yang mencatat 210 kasus DBD. Perbedaan jumlah kasus tersebut juga dipengaruhi kondisi cuaca yang berpengaruh terhadap perkembangan nyamuk penular dengue.

"Sampai dengan Juni 2026 ini kita sudah mencatat ada 34 kasus. Tahun ini kasusnya lebih rendah daripada tahun kemarin," ujar Slamet Wahidin, Rabu (22/7).

Meski angka kasus menurun, Slamet menegaskan pengendalian DBD harus tetap menjadi perhatian karena penyakit tersebut sangat dipengaruhi kondisi lingkungan. Menurutnya, perilaku hidup bersih masyarakat menjadi faktor utama yang menentukan tinggi rendahnya angka kasus DBD di suatu wilayah. 

"Karena jika ingin menuntaskan kasus DBD agak sulit. Kasus DBD merupakan penyakit yang berbasis lingkungan," ungkapnya.

Sebagai langkah pencegahan, pemerintah daerah mendorong seluruh desa dan kelurahan membentuk Kampung Bebas Jentik. Program tersebut mengedepankan pemberdayaan masyarakat untuk menjaga lingkungan tetap bersih dan menghilangkan tempat berkembang biaknya nyamuk Aedes aegypti. 

"Harapan kami desa dan kelurahan mencanangkan diri menjadi wilayah yang bebas jentik. Ini merupakan upaya dari masyarakat, untuk masyarakat, dan oleh masyarakat menjaga kampungnya dari jentik-jentik nyamuk," ujar Slamet Wahidin. (u1)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.