Cina Pangkas Kesenjangan AI, Tantang Dominasi AS
Tribunnews July 22, 2026 06:38 PM

Seiring menyempitnya kesenjangan teknologi kecerdasan buatan (AI) antara Cina dan Amerika Serikat (AS), Beijing gencar mempromosikan narasi berpusat pada "open source" dan "AI inklusif" sebagai landasan visi tata kelola globalnya.

Dalam pidato utamanya pada World Artificial Intelligence Conference (WAIC) di Shanghai, Jumat (17/07), Presiden Cina Xi Jinping menegaskan ambisi negaranya untuk mengambil peran utama dalam menetapkan standar AI global. Ia mengecam hal yang ia sebut sebagai "perluasan konsep keamanan nasional yang berlebihan."

Xi Jinping memang tidak secara terbuka menyebut AS. Namun, upaya Beijing memosisikan diri sebagai pengusung tatanan AI baru dan menantang dominasi Washington sangat jelas terbaca.

Kepada DW, Rogier Creemers, asisten profesor di Universitas Leiden, Belanda, yang fokus pada kebijakan teknologi digital Cina, mengatakan kalau KTT Shanghai tahun 2026 ini mengirimkan sejumlah sinyal penting. Dia menilai WAIC menandakan bahwa AI kini sudah menjadi salah satu prioritas politik Beijing.

Kemudian, kata Creemers, Cina berniat menatang AS melalui dukungan terhadap model AI open source, serta mendorong industrialisasi berbasis AS. Ia juga mencatat bahwa Cina berharap meraih dukungan dari negara-negara Global South untuk upaya ini.

Beijing perkecil kesenjangan AI

Cina semakin dekat dengan AS dalam pengembangan model AI. Kemudian, penerapan AI dalam proses industri perlahan mulai matang.

Kepada DW, wakil presiden senior untuk Cina dan kepala kebijakan teknologi di DGA-Albright Stonebridge Group, Paul Triolo, menilai pengembang model AI Cina terus bersaing di panggung global, terutama dengan melatih model open-weight menggunakan perangkat keras komputer yang terbatas, tapi tetap canggih.

Triolo meyakini bahwa penerapan AI di berbagai perusahaan Cina mungkin berlangsung lebih cepat daripada di AS.

Selain itu, rasa takut terhadap AI di kalangan masyarakat Cina lebih rendah dibandingkan di AS, sehingga mempercepat adopsi aplikasi AI di tingkat konsumen.

Awal tahun 2026, media pemerintah Cina menyatakan bahwa kesenjangan performa antara model AI Cina dan AS "sebagian besar telah menghilang."

Sejumlah pakar secara umum sepakat dengan penilaian ini, dengan menyebut bahwa beberapa uji tolok ukur terhadap Large Languange Models (LLM) atau model bahasa AI Cina, seperti GLM-5.2 dan Kimi K3, menunjukkan kesenjangan tersebut semakin mengecil atau bahkan telah tertutup sepenuhnya.

Untuk sebagian besar aplikasi, kata Triolo, model AI open-weight terdepan Cina lebih murah untuk dijalankan dan lebih dari cukup mampu menangani sebagian besar tugas.

Apakah blokade AI AS efektif?

Pada Januari 2025, Departemen Perdagangan AS memperluas pembatasan ekspor terkait (AI) melalui “Kerangka Kerja untuk Penyebaran Kecerdasan Buatan,” yang mencakup cip komputasi canggih, bobot model AI tertentu, serta akses ke infrastruktur komputasi AI berskala besar.

AS juga memperketat kontrol ekspor cip canggih dan peralatan manufaktur semikonduktor yang ditujukan untuk Cina.

Laila Khawaja, Direktur Riset di Gavekal Research, mengatakan kepada DW bahwa usaha AS tersebut sebagiannya berhasil.

Kontrol ekspor memang berdampak pada kemampuan Cina memproduksi cip secara domestik, murah, dan dalam skala besar.

Namun, soal kontrol ekspor cip AI canggih, Khawaja mencatat bahwa sejumlah besar cip masih masuk ke Cina melalui pasar gelap. Di saat yang sama, perusahaan-perusahaan Cina masih bisa mengakses sumber daya komputasi melalui layanan cloud di luar negeri.

Menurut Triolo, bukti yang ada sejauh ini menunjukkan bahwa strategi AS untuk memperlambat pengembangan AI canggih Cina telah gagal di banyak level. Pada saat yang sama, hal itu menimbulkan dampak sampingan yang sangat besar bagi perusahaan-perusahaan AS, terutama terhadap anggaran penelitian dan pengembangan mereka serta rantai pasokan mereka, seperti yang memasok logam tanah jarang.

Dorongan Cina untuk AI open source

Dalam pidatonya, Xi Jinping menekankan pentingnya "mendorong pengembangan open source."

Media pemerintah Cina juga mempromosikan pesan bahwa Cina "tidak menerapkan blokade teknologi."

Para analis menilai Beijing semakin menjadikan "open source" dan "AI inklusif" sebagai narasi tandingan terhadap ekosistem AI AS yang sebagian besar bersifat tertutup.

Model-model AI Cina sebagian besar bersifat open-weight, dengan produk unggulan seperti DeepSeek, GLM 5.2 dari Zhipu, dan Kimi K3 yang dirilis di bawah lisensi MIT yang memungkinkan pengguna mengunduh, menerapkan, memodifikasi, mendistribusikan, dan mengomersialisasikannya.

Creemers mencatat bahwa untuk saat ini, model AI Cina cukup terbuka dalam hal bobot, meski akses ke kode sumbernya masih terbatas.

Menurut Creemers, Cina berharap mendorong negara-negara lain mengadopsi model AI Cina, sehingga menciptakan pasar luar negeri bagi teknologinya dan memastikan Beijing tetap menjadi bagian dari gelombang perkembangan teknologi berikutnya.

WAICO Cina tantang Pax Silica

Di Shanghai, Xi Jinping juga mengumumkan bahwa World AI Cooperation Organization (WAICO), sebuah inisiatif yang diluncurkan Cina, telah menarik 29 negara anggota.

Ia menggambarkan organisasi tersebut sebagai "tonggak penting dalam sejarah perkembangan AI" dan menyebut organisasi ini merespons seruan negara-negara Global South untuk peran yang lebih besar dalam tata kelola AI.

WAICO dipandang sebagai inisiatif untuk menandingi inisiatif internasional Pax Silica yang dipimpin AS, yang bertujuan mengamankan rantai pasokan AI global dan mineral kritis.

Persaingan sesungguhnya, menurut Triolo, terletak pada bagian mana dari tumpukan teknologi AI AS dan Cina yang pada akhirnya diadopsi oleh negara-negara Global South.

Ia meyakini Cina memegang keunggulan signifikan berkat biaya yang lebih rendah dan infrastruktur digital yang sudah dibangun secara luas oleh perusahaan-perusahaan Cina seperti Huawei di banyak negara berkembang.

Masa depan persaingan AI

Secara keseluruhan, para pakar meyakini AS akan terus memimpin dalam desain perangkat keras AI dan kapasitas komputasi, sementara Cina berpotensi merebut keunggulan dalam inovasi model dan akan memimpin dalam penyebaran AI.

Creemers berpendapat bahwa kelemahan struktural terbesar Cina tetap pada kurangnya kepercayaan dari negara-negara Global North.

Pada saat yang sama, pembatasan ekspor AS terus membuat perusahaan-perusahaan Cina menghadapi kekurangan perangkat keras komputasi AI canggih, sehingga membatasi kemampuan mereka untuk cepat meningkatkan kapasitas inferensi guna memenuhi permintaan yang terus tumbuh.

Membaca potensi ke depan, Creemers berpendapat bahwa kebangkitan sektor AI Cina merupakan pergeseran historis yang lebih luas.

"Kita perlu memahami bahwa saat ini, untuk pertama kalinya dalam sejarah modern, kita sedang berhadapan dengan sebuah kekuatan teknologi super non-Barat," katanya.

Menurut pandangannya, masa depan tidak akan ditentukan oleh satu ranah teknologi global tunggal, melainkan oleh "sebuah kompleks jaringan dan proses teknologi yang saling tumpang tindih."

diadaptasi oleh FIka Ramadhani

Editor: Muhammad Hanafi

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.