Laporan Kontributor Tribunjabar.id, Dian Herdiansyah
TRIBUNJABAR.ID, SUKABUMI – Sungguh pilu kisah yang dialami oleh Meti Aryanti (43), seorang ibu tunggal warga Kampung Sawahbera, RT 03/RW 03, Kelurahan Dayeuhluhur, Kecamatan Warudoyong, Kota Sukabumi.
Di tengah keterbatasan ekonomi, Meti harus menjalani kehidupan memprihatinkan bersama anak-anaknya di sebuah bangunan bekas musala yang dijadikan tempat tinggal.
Ukuran ruangan tidak cukup besar ia gunakan untuk tempat tinggal bersama tiga anaknya.
Selain itu juga terlihat tempat ranjang tidur yang lusuh yang setiap malam di gunakan tidur untuk bertiga.
Selama kurang lebih tiga tahun, bangunan tersebut menjadi tempat Meti berteduh setelah kehidupannya berubah akibat persoalan rumah tangga.
Penghasilan yang tidak menentu, ia berusaha memenuhi kebutuhan sehari-hari sambil mengasuh dan mengurus tiga anaknya.
Meti memiliki tiga anak yang di urusnya yang masih Balita, sekolah SD dan anak laki-lakinya yang mulai usia remaja menginjak 17 tahun.
"Kalau ada yang nyuruh baru kerja. Apa saja yang penting kerja," ujar Meti, saat ditemui di tempat tinggalnya, Rabu (22/7/2026).
Perjalanan hidup Meti semakin berat setelah ia berpisah dengan suaminya. Ia mengaku sempat mengalami persoalan dalam rumah tangga hingga harus mencari tempat tinggal lain.
Baca juga: Dulu Terlihat Kumuh, Underpass Margahayu Bandung Disulap Jadi Estetik dengan Mural Warna-warni
"Karena suaminya kurang tanggung jawab. Dulu sempat KDRT, sudah laporan sampai divisum, tapi enggak ada respons. Akhirnya diam di sini," tuturnya.
Meski kondisi ekonominya terbatas, Meti tetap berusaha menjalankan perannya sebagai ibu. Ia memiliki tiga anak, namun anak sulungnya kini tinggal bersama keluarga lain, sementara dua anak lainnya masih dalam pengasuhannya.
Untuk kebutuhan sehari-hari, Meti mengaku mendapat dukungan dari warga sekitar, termasuk pengurus RT dan RW.
"Kalau lagi kekurangan enggak punya uang, pinjam. Dibantu RT, RW sama warga," katanya.
Selain bantuan dari lingkungan, Meti juga tercatat sebagai penerima bantuan sosial pemerintah, seperti Program Keluarga Harapan (PKH), bantuan pangan, dan Kartu Indonesia Sehat (KIS).
Namun, di balik bantuan yang diterima, Meti masih menyimpan harapan besar untuk memiliki tempat tinggal yang lebih layak.
"Yang penting enggak bocor, bisa ditempati dengan layak," ucapnya.
Sebelumnya, kondisi Meti tinggal di musala tersebut sempat beredar di media sosial. Bahkan menyebut seorang warga bernama Bu Meti tinggal di dalam toilet umum (WC).
Ia menjelaskan bangunan tersebut awalnya difungsikan sebagai musala yang dilengkapi MCK untuk kebutuhan warga. Namun, setelah masyarakat memiliki fasilitas sanitasi masing-masing, MCK tersebut tidak lagi digunakan sehingga bangunan musala dimanfaatkan sebagai tempat tinggal sementara bagi Meti.
"Informasi yang beredar bahwa Meti tinggal di WC dengan kondisi dinding kusam dan sebagainya itu tidak benar. Faktanya, bangunan ini awalnya adalah musala yang memang memiliki fasilitas MCK. Setelah tidak lagi dimanfaatkan warga, akhirnya digunakan Bu Meti untuk sementara," ujarnya.
Ia mengatakan, Meti mulai menempati bangunan tersebut setelah mengalami persoalan rumah tangga hingga berpisah dengan suaminya. Kondisi ekonomi yang sulit membuatnya tidak memiliki tempat tinggal sendiri.
Menurutnya, keberadaan Meti di lokasi tersebut merupakan hasil inisiatif warga bersama pengurus RT dan RW agar ia tetap memiliki tempat berteduh.
"Bu Meti mengalami persoalan rumah tangga hingga bercerai. Karena tidak memiliki tempat tinggal dan tidak mampu mengontrak rumah, warga bersama RT dan RW berinisiatif menempatkannya di sini," katanya.
Baca juga: SAKSI KATA: Takut Begal Saat Pulang Dini Hari, DJ Claudia Pesan Tiga Ojol Sekaligus
Supardi menjelaskan Meti rencananya akan menempati bangunan di kawasan dekat Vila Cantik yang semula dibangun melalui Program P2RW untuk pos kegiatan remaja. Bangunan tersebut juga akan diperluas melalui swadaya masyarakat.
"Sudah ada kesepakatan bersama, Bu Meti akan dipindahkan ke tempat yang lebih layak. Bangunannya akan ditambah ruangannya melalui swadaya murni warga," ujarnya.
Selain menyediakan tempat tinggal, Lurah memastikan kebutuhan dasar Bu Meti selama ini juga mendapat perhatian dari warga sekitar. Menurutnya, warga, RT, dan RW rutin membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari Meti.
"Jadi warga bukan menelantarkan Bu Meti, justru bersama-sama membantu kebutuhan hidupnya," katanya.
Terkait bantuan dari pemerintah, Supardi memastikan Meti telah terdaftar sebagai penerima berbagai program bantuan sosial
Berdasarkan data yang dimiliki kelurahan, Meti juga tercatat dalam kelompok Desil 2 sebagai keluarga yang berhak menerima bantuan sosial pemerintah
"Alhamdulillah, hak-haknya semua diterima. PKH dapat, BPNT atau bantuan sembako juga dapat, kemudian KIS juga ada. Jadi jaring pengaman sosialnya aman," ujarnya. (*)