TRIBUNPADANG.COM, PADANG - Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Air Minum Kota Padang, Sumatera Barat, tengah mempercepat perbaikan fasilitas pasokan air baku yang rusak akibat banjir akhir tahun lalu.
Gangguan teknis pada Instalasi Pengolahan Air (IPA) Gunung Pangilun tersebut memicu krisis distribusi, mulai dari aliran air keruh hingga kekeringan pasokan di wilayah pusat kota selama beberapa bulan terakhir.
Humas Perumda Air Minum Kota Padang, Adhie Zein, Rabu (22/7/2026), menjelaskan bahwa kerusakan infrastruktur utama terjadi saat banjir bandang menerjang kawasan intake dan pengolahan air pada November lalu.
Kerusakan tersebut memperburuk keandalan layanan di tengah kondisi kualitas air sungai yang belum sepenuhnya stabil.
IPA Gunung Pangilun merupakan salah satu fasilitas pengolahan air terbesar yang mengampu kebutuhan vital warga pusat kota Padang.
Baca juga: Kuliner Pantai Gandoriah Paling Diburu, 5 Makanan Khas Pariaman yang Wajib Dicoba
Setiap hari, instalasi ini menyuplai kebutuhan air bersih untuk sekitar 50.000 pelanggan aktif yang tersebar di wilayah pusat kota.
"Kerusakan pascabanjir lalu berdampak signifikan pada sistem pengolahan. Salah satu yang paling terdampak adalah unit pengolahan awal di IPA Gunung Pangilun," ujar Adhie saat ditemui di Padang.
Guna menuntaskan persoalan tersebut, pengerjaan fisik pada unit ascelator telah resmi dimulai dan menargetkan seluruh proses rekonstruksi dan optimalisasi teknis selesai dalam rentang waktu empat minggu ke depan.
Baca juga: Ombudsman Soroti Kapasitas Ruang Rawat di RSUP M Djamil Padang, Pasien Sering Lama Dipindahkan
"Proses perbaikan ditargetkan selesai dalam empat minggu. Komitmen kami adalah melakukan pemulihan pasokan secepat dan semaksimal mungkin agar kualitas air kembali normal," tegas Adhie.
Selama masa perbaikan berlangsung, Perumda Air Minum Kota Padang menerapkan skema penanganan darurat untuk meminimalkan dampak kerugian di masyarakat, khususnya bagi pelanggan yang mengalami kekeringan total.
Pihaknya mengerahkan armada mobil tangki untuk mendistribusikan air bersih secara gratis ke titik-titik pemukiman yang paling parah terdampak krisis pasokan.
Langkah ini diambil guna memastikan kebutuhan dasar warga tetap terpenuhi selama proses pengerjaan konstruksi.
Bagi masyarakat yang membutuhkan bantuan darurat, perumda membuka saluran siaga melalui layanan call center di nomor 15000030.
Baca juga: TC Semen Padang FC di Yogyakarta Dimulai 2 Agustus, Tantang Borneo FC dan Malut United Jelang Liga 2
Pelanggan cukup melaporkan Nomor ID Pelanggan beserta alamat domisili lengkap untuk mendapatkan prioritas pengiriman air tangki.
Di sisi lain, untuk wilayah pemukiman yang mengalami kendala distribusi bergilir seperti aliran air yang hanya menyala pada jam-jam tertentu saat siang atau malam hari masyarakat diimbau untuk lebih aktif mengantisipasi.
Adhie meminta warga segera menampung air bersih saat aliran bertekanan hidup di wilayah masing-masing. Langkah penampungan mandiri ini penting agar kebutuhan domestik harian harian tetap tertampung selama masa pemulihan teknis berlangsung.
Atas nama manajemen Perumda Air Minum Kota Padang, Adhie menyampaikan permohonan maaf yang mendalam kepada seluruh pelanggan atas ketidaknyamanan yang dialami selama beberapa bulan terakhir.
Pihaknya juga menyampaikan imbauan terbuka agar masyarakat melalukan penghematan penggunaan air bersih selama masa pemeliharaan infrastruktur berlangsung, sembari berharap pengerjaan fisik dapat rampung tepat waktu sesuai dengan target yang ditetapkan.
Baca juga: Esteban Vizcarra Gabung Latihan Semen Padang FC, Kabau Sirah Tinggal Tunggu Satu Pemain Asing
Sebelumnya, Aliran air keruh berwarna kecokelatan dan distribusi yang sering terputus menjadi makanan sehari-hari warga Kelurahan Rimbo Kaluang, Kecamatan Padang Barat, Kota Padang, Sumatera Barat.
Gangguan jaringan distribusi air daerah ini telah berlangsung beberapa bulan lalu.
Pasokan air bersih yang tak kunjung normal sejak musibah banjir bandang meluluhlantakkan sebagian infrastruktur Kota Padang pada akhir tahun lalu membuat warga terpaksa memutar otak dan mengeluarkan biaya ekstra guna memenuhi kebutuhan dasar harian mereka.
Syahrul, seorang warga Rimbo Kaluang, menuturkan bahwa aliran air bersih ke rumahnya tidak pernah menentu setiap harinya.
Saat ditemui pada Rabu (22/7/2026), ia menyebutkan bahwa debit air sering kali menyusut drastis, bahkan mati total selama berjam-jam.
Baca juga: Warga Curiga karena Bau Menyengat, Lansia Meninggal Membusuk di Padang
"Kadang dalam sehari air baru mau mengalir saat sore atau malam hari. Itu pun airnya berwarna keruh kecokelatan," kata Syahrul saat memberikan keterangan.
Kondisi air yang tidak jernih itu membuat ia dan keluarganya ragu untuk memanfaatkannya langsung.
Air yang keluar dari keran terbilang berisiko jika dipakai untuk mandi, apalagi dikonsumsi sebagai air minum.
Untuk mensiasati hal tersebut, Syahrul terpaksa memasang alat penyaring tambahan pada pipa kerannya.
Langkah ini diambil sebagai pertahanan terakhir agar air yang keruh tersebut setidaknya bisa tersaring dari endapan lumpur sebelum digunakan.
Syahrul menjelaskan, gangguan pada jaringan distribusi air ini sejatinya telah berlangsung lama. Ia dan warga sekitar mulai merasakan penurunan kualitas dan kuantitas pasokan air sejak banjir bandang menghantam kota tersebut pada akhir tahun lalu.
Ia menumpahkan kekecewaannya lantaran kewajiban pelanggan untuk membayar tagihan bulanan tidak sebanding dengan kualitas layanan yang diterima.
Baca juga: Massa Geruduk Kejati Sumbar, Minta Kajati Dicopot Usai Dugaan Penjemputan Paksa Peserta Aksi
Menurutnya, tagihan rekening air selalu datang tepat waktu dan wajib dibayar tanpa penundaan.
"Kami untuk pembayaran PDAM wajib tepat waktu. Namun, air yang kami terima sekarang justru keruh dan sering mati," tutur Syahrul membandingkan antara kewajiban pelanggan dan hak pelayanan.
Keadaan dinilai paling parah ketika air benar-benar berhenti mengalir sama sekali. Padahal, air bersih merupakan kebutuhan paling vital dalam menopang aktivitas seluruh anggota keluarga harian.
Senada dengan Syahrul, warga Rimbo Kaluang lainnya, Syamsidar, juga membeberkan kepasrahannya menghadapi kendala kelancaran air PDAM yang belum menunjukkan tanda-tanda perbaikan permanen.
Syamsidar menceritakan bahwa saat aliran air mati total, ia tidak memiliki banyak pilihan selain menunggu pasokan kembali mengalir. Untuk kebutuhan konsumsi, ia terpaksa mengandalkan pembelian air isi ulang kemasan galon.
Baca juga: Perampokan Pecah Kaca Mobil Siang Bolong di Padang, Pelaku Gasak Rp8 Juta
"Jika air PDAM mati, saya terpaksa menunggu sambil memanfaatkan air galon untuk minum dan masak," ujar Syamsidar saat ditemui terpisah.
Ketika air mulai mengalir kembali, rasa lega warga tidak bertahan lama. Syamsidar mengaku masih dihinggapi rasa cemas lantaran air yang keluar kerap kali berwarna cokelat pekat.
Proses penyaringan berlapis menjadi prosedur wajib sebelum air tersebut dimanfaatkan.
Warna air yang tampak kotor menimbulkan ketakutan tersendiri akan dampak kesehatan jangka panjang bagi anggota keluarganya.
Masyarakat Rimbo Kaluang sangat berharap pihak pengelola PDAM dan Pemerintah Kota Padang segera mengambil langkah konkret untuk menyelesaikan pembenahan infrastruktur air bersih ini.
Warga merindukan aliran air yang kembali jernih, mengalir lancar, dan aman untuk dikonsumsi.
Harapan tersebut ditegaskan warga mengingat kepatuhan mereka dalam memenuhi kewajiban bulanan.
Kepatuhan membayar tagihan secara tepat waktu tanpa pernah menunggak dinilai layak dibalas dengan jaminan penyediaan air bersih yang layak. (*)