TRIBUNNEWS.COM – Situasi keamanan di Iran kembali memanas setelah sistem pertahanan udara di ibu kota Teheran diaktifkan, di tengah berlanjutnya operasi militer AS yang telah memasuki malam ke-11 berturut-turut, Rabu (22/7/2026).
Aktivasi sistem pertahanan udara tersebut menjadi indikasi meningkatnya kewaspadaan pemerintah Iran terhadap kemungkinan serangan lanjutan dari Amerika Serikat.
Dalam beberapa waktu terakhir, aktivitas pertahanan udara dilaporkan terdengar di sejumlah wilayah Teheran, mulai dari kawasan barat, timur, hingga timur laut ibu kota.
Informasi tersebut juga dikonfirmasi oleh media pemerintah Iran melalui saluran Telegram resminya.
Peningkatan status siaga itu terjadi setelah beberapa wilayah di Iran kembali menjadi sasaran serangan.
Sebelumnya, Kota Semnan yang berjarak sekitar dua jam perjalanan dari Teheran dilaporkan menjadi lokasi terdekat yang dihantam serangan AS. Selain itu, sebuah bandara sipil di Iran juga dilaporkan terkena serangan pada pekan lalu.
Meski demikian, para pejabat Iran menyatakan hingga kini belum ada laporan mengenai serangan mematikan yang menghantam wilayah ibu kota Teheran.
Namun, diaktifkannya sistem pertahanan udara di berbagai titik menunjukkan pemerintah tetap bersiap menghadapi kemungkinan eskalasi konflik yang lebih besar.
Baca juga: Misteri Pasar Minyak Dunia Selama Perang Iran: Pasokan Melimpah, Pembeli Sepi, China Jadi Kunci
Serangan AS Menyasar Sejumlah Fasilitas Strategis
Tidak hanya Teheran, media pemerintah Iran juga melaporkan sistem pertahanan udara diaktifkan di sejumlah wilayah lain setelah gelombang serangan terbaru Amerika Serikat.
Ledakan dilaporkan terjadi di Kota Tabriz di barat laut Iran, pelabuhan Chabahar dan Konarak di tenggara, serta Kota Bushehr di selatan yang menjadi lokasi satu-satunya pembangkit listrik tenaga nuklir Iran.
Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan operasi militer tersebut bertujuan melemahkan kemampuan Iran dalam mengancam jalur pelayaran internasional di Selat Hormuz.
Menurut CENTCOM, sasaran operasi meliputi pusat komando militer, fasilitas maritim, hanggar pesawat, gudang penyimpanan drone, hingga infrastruktur logistik militer Iran.
Selain itu, Washington menuduh Iran telah menyerang lebih dari 30 kapal dagang yang melintasi Selat Hormuz dalam tiga bulan terakhir.
Amerika Serikat menilai tindakan tersebut membahayakan keselamatan ratusan awak kapal serta mengganggu kebebasan navigasi di salah satu jalur perdagangan energi terpenting dunia.
Meski demikian, CENTCOM menegaskan jalur pelayaran di Selat Hormuz masih terbuka dan tetap dapat dilalui kapal-kapal komersial.
Ketegangan semakin meningkat setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali melontarkan ancaman terhadap Iran.
Trump menyatakan fasilitas nuklir bawah tanah Iran yang dikenal sebagai Gunung Pickaxe, di dekat Natanz, dapat menjadi target serangan berikutnya.
Menurutnya, kompleks tersebut diduga digunakan untuk mengembangkan fasilitas pengayaan uranium yang belum diumumkan kepada komunitas internasional.
"Kami akan segera menyerang kawasan itu, dan dengan kekuatan yang sangat besar," kata Trump saat berbicara kepada wartawan usai pertemuannya dengan Presiden Lebanon Joseph Aoun di Gedung Putih.
Trump bahkan mengatakan bahwa meski biasanya tidak mengumumkan target operasi militer, dalam kasus ini Iran disebut tidak memiliki kemampuan untuk menghentikan rencana serangan tersebut.
Pernyataan itu semakin memperbesar kekhawatiran bahwa konflik antara Washington dan Teheran dapat berkembang menjadi perang regional yang lebih luas.
Menanggapi ancaman tersebut, Komando Militer Iran Khatam Al-Anbiya menegaskan bahwa setiap serangan terhadap fasilitas nuklir Iran akan dianggap sebagai bentuk perluasan perang.
Melalui pernyataan yang disiarkan televisi pemerintah IRIB, militer Iran memperingatkan bahwa seluruh kepentingan Amerika Serikat beserta negara-negara sekutunya di kawasan akan menjadi sasaran serangan balasan apabila Washington benar-benar menyerang fasilitas nuklir Iran.
Pernyataan tersebut menegaskan sikap Teheran yang berulang kali menyatakan tidak akan tinggal diam menghadapi tekanan militer Amerika Serikat.
Meningkatnya eskalasi konflik mulai berdampak pada negara-negara lain di kawasan Teluk.
Militer Kuwait mengumumkan telah mengaktifkan sistem pertahanan udaranya untuk menghadapi serangan drone yang diduga berasal dari Iran.
Sementara itu, pemerintah Bahrain dan Yordania menyatakan berhasil mencegat sejumlah drone dan rudal yang memasuki wilayah udara masing-masing.
Rangkaian peristiwa tersebut menunjukkan bahwa konflik antara Iran dan Amerika Serikat tidak lagi terbatas pada kedua negara, tetapi mulai merembet ke kawasan Timur Tengah.
Dengan ancaman serangan yang terus meningkat dari kedua belah pihak, risiko meluasnya perang regional kini semakin besar dan menjadi perhatian komunitas internasional.
(Tribunnews.com / Namira)